Ada secangkir kopi menemani kesendirianku. Pahit manis rasa kopi seakan mengajarkan aku untuk bisa lebih jauh memaknai hidup,yang sejatinya ada suka dan duka,tawa dan air mata,bawah atas,depan belakang, ah, begitu banyak jika kuuraikan.

Perjalanan hidup ini,begitu banyak Lika liku yang harus kutempuh. Perjalanan panjang yang tak dapat kuceritakan hanya dengan kata-kata. Singkatnya begitu banyak cerita pahit manisnya kehidupan,hanya saja saat ini aku tengah dihadapkan pada satu keadaan yaitu mengenang ceritaku sebagai honorer.

Pekerjaan ini sudah kugeluti dari sejak 2016 lalu. Untuk sampai pada titik ini,Butuh perjuangan keras,memeras otak, hati dan pikiran,kemudian,menempuh sekolah di perguruan tinggi salah satunya.

Aku menyelesaikan studiku di salah satu perguruan tinggi di daerahku,begitu banyak rintangan yang telah kulewati,hanya untuk mendapatkan sebuah gelar serta ilmu untuk menjadi seorang sarjana.

Honorer seringkali dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang mereka menganggap kami sebagai guru yang hanya pandai menampilkan fashion semata. Mereka tak  sadari bahwa kami pun saat ini tengah memberikan kontribusi kami pada negara,yaitu mencerdaskan kehidupan anak bangsa Yang telah tertuang dalam.

Aku adalah salah seorang tenaga honorer di SMP,yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalku. Itu artinya perjalanan ke sana tidak menguras bahan bakar, bahan bakar minyak tentunya (hhhee).

Sekolah itu kujadikan tempat berbagi bersama teman,sahabat,dan guru-guru senior yang sudah begitu akrab kupanggil ayah bunda. 

Tidak lupa juga mereka yang selalu menguatkan semangat tanpa henti dalam jiwa dan sanubariku,yang menjadi penguat kala lelah dan letih itu menghampiri. Mereka adalah anak didikku,yang setiap harinya mengukir senyum di depanku. Jika kulukiskan indah wajahnya seperti indahnya matahari Kala senja. Sangat indah jika dinikmati.

Sebagai honorer baru,tentu. Aku tak memiliki cukup kemampuan dalam membangun literasi untuk menjadikan siswa di sekolah itu menjadi layak dikatakan is the best. Cukup aku menuangkan beberapa pengetahuan yang aku miliki. Sudah layakkah aku dikatakan guru profesional. Tentu saja tidak. 

Berangkat dari itu semua,apakah karena kemampuanku yang minim,atau karena mereka terlalu melihat dari sisi ikhlas yang terselipkan di ruang hati ini. Lantas kami tidak diperhatikan dan selalu diabaikan oleh mereka yang memiliki kebijakan dalam hal kesejahteraan kami sebagai honorer.

Jangan abaikan kami,tanpa honorer apalah arti sosok PNS yang sudah tertera namanya sebagai abdi negara. Jujur,jika kuceritakan sedikit saja pengalamanku. 

Tahun 2012 lalu aku pernah mengajar pada sekolah dasar yang jaraknya beberapa kilo dari rumahku.  Sebagai guru honor di sana,sering kali saya diminta untuk mengisi beberapa jam kosong,yang sejatinya jam tersebut haruslah diisi oleh PNS. Sebagai guru non PNS aku nurut saja,dengan harapan supaya anak-anak tidak keluyuran dan bermain sesuka hati,manakala jam pelajar berlangsung.

Lalu yang jadi pertanyaannya hendak ke mana mereka sebagai guru PNS. Mereka sering kali keluar hanya karena sebuah alasan. Mulai dari menjenguk keluarga yang sedang sakit,istri melahirkan,menghadiri rapat desa,dan sebagainya. Begitu banyak memang alasannya.

Dari kejadian-kejadian tersebut maka akan muncullah beberapa perspektif. Jujur saya merasa waktu itu,mereka hanya ingin memanfaatkan kami Sebagi honorer. Memang,saya sangat menyadari bahwa tanggung jawab adalah mutlak  beban bersama.

Terlepas dari pengalaman dan pengamatan saya,honorer haruslah mendapatkan perhatian lebih. Jangan kami dijadikan pelampiasan semata,kami ingin yang lebih,kami ingin yang terbaik.

Bahkan ada pula yang saya temui,honor lebih cekatan dalam menuangkan beberapa ide-ide baru yang terkait dalam meningkatkan kegiatan belajar pada anak. Intinya mereka lebih bisa menguasai tak tik mengajar. Maaf bukannya membandingkan. Tapi ini kenyataan apa adanya.

Beberapa waktu lalu,aku sempat berfikir untuk off dari pekerjaan ini. Tapi entah kerinduan pada merekalah yang membuatku kembali untuk mengurungkan niat ini. Mereka generasi penerus bangsa yang seakan-akan memberi energi kuat.

Orang-orang di sekitar sering kali menanyakan tentang berapa gaji didapat dari pekerjaan ini. Jika sudah berbicara gaji,sudah aku paling tidak suka ditanya tentang itu. Alasannya sederhana saja,karena aku tidak suka itu aja. 

Sama sekali kami tak memperhitungkan dari segi upah yang didapat,tapi hargailah dan berilah kami kebijakan-kebijakan yang membuat hati kami senang nantinya. Lihatlah perjuangan kami.

Di tengah-tengah asa yang tak tersalurkan,aku mendengar ada trending topik kali ini. Lowongan PNS kembali dibuka setelah satu tahun lalu aku gagal mendapatkannya. Untuk bisa lulus dari ujiannya butuh perjuangan besar.

Bayangkan saja,soal-soal pada tes PNS di tahun lalu,aku cukup tersiksa dibuatnya. Bahkan aku menggerutu waktu itu,seandainya untuk jadi Mentri atau presiden sebaiknya lewati dulu tes ini,gumamku pada kawan-kawan yang senasib denganku. Sangat sulit untuk bisa bersaing dalam ranah menghadapi tes ujian itu. Menyakitkan.

Pengalaman menjadi guru honorer memang banyak kutulis di buku catatan harianku. Catatan-catatan yang mampu mewakili rasa,bahagia atau duka. Semua kutuang dalam tulisan harianku,karena aku percaya dengan menulis akan biasa mewakili problema yang ada. Dan aku akan membukanya nanti saat aku rindu akan tulisanku,dilema honorer.