Baru-baru ini publik di tanah air sedikit dihebohkan dengan pernikahan sesama jenis di negara tetangga Thailand yang berhasil di angkat beberapa media sosial untuk menjadi topik berita (salah satunya media kompas.com, 13/4/2021). Pernikahan yang terjadi itu antara sesama laki-laki.

Berawal dari unggahan Suriya Koedsang di akun facebooknya tentang foto pernikahan dengan pasangan gay-nya. Unggahan Suriya tersebut telah dikomentari lebih dari 360 ribu warganet dari mancanegara, termasuk warganet Indonesia. 

Walaupun fenomena ini tidak terjadi di Indonesia, namun banyak pengguna media sosial (netizen) di Indonesia sangat merespon hal tersebut. Pernikahan sesama jenis antara kedua pasangan gay ini mengundang reaksi negatif dari warganet Indonesia. Bukan ucapan selamat yang didapatkan, melainkan hujatan, kritikan pedas, hingga ancaman mati.

Kalau kita kaji secara seksama bahwa ternyata unggahan itu bukan tanpa alasan. Mengingat sebuah berita yang dimuat pada (9/7/2020) oleh media dengan nama VOI yang isinya "Kabinet Thailand menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang secara hukum akan mengakui kemitraan sipil sesama jenis".

Kemitraan yang dimaksud di atas sampai pada penafisaran bahwa menikah sesama jenis tidak dilarang. Hal itu akan menjadikan Thailand negara kedua di Asia setelah New Zeland dan negara pertama di Asia Tenggara yang melegalkan pasangan sesama jenis hidup bersama."

Homoseksual

Sebelum membahas homoseksual, kita harus awali terlebih dahulu pemahaman kita mengenai apa itu seks. Seks adalah hubungan atau pertemuan antar alat kelamin. Aktifitas/kegiatan seks disebut seksual. Menurut Sarwono (2010) mendefinisikan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. 

Pernikahan sesama jenis ini selanjutnya disebut sebagai homoseksual yakni adanya aktifitas seks sesama jenis, dimana kedua pasangan yang sama jenis itu akan melakukan kegiatan seksual untuk memuaskan keinginan seks atau hubungan intim mereka.

Istilah umum dalam homoseksualitas yang sering digunakan adalah lesbian untuk perempuan pecinta sesama jenis dan gay untuk laki-laki pecinta sesama jenis. 

Sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim melaporkan memiliki perasaan homoseksual, meskipun relatif sedikit peserta dalam penelitian ini menyatakan diri mereka sebagai homoseksual (James Davidson, 2007)

Sampai saat ini sudah ada beberapa negara yang mulai meng-legalkan homoseksual dengan kerap menggambarkan bahwa homoseksual merupakan "pilihan" atas kebebasan seksual (sexual freedom) mereka. Menurut Pew Research Center, bahwa sebanyak 30 negara di dunia yang sudah melegalkan pernikahan sesama jenis, baik secara nasional maupun di sejumlah daerah.

Hak Asasi

Semua manusia di dunia ini secara individual mempunyai yang namanya hak untuk menjalani kehidupannya. Apa dan bagaimana seseorang itu nanti dalam hidupnya adalah dari dirinya sendir. Tidak dari orang lain-apalagi ada intervensi dari orang lain.

Hak manusia adalah sesuatu yang paling asasi; mendasar, prinsipil, fundamen. Oleh karena dia (baca: hak) adalah yang paling asasi makanya tidak boleh diganggu dan digugat. Hak itu juga disebut dengan hak asasi manusia (Inggris: Human Rights).

Meriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik (2008), menyatakan bahwa: manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahirannya di dalam kehidupan masyarakat.

Lalu bagaimana dengan homoseksual dalam pendekatan hak asasi manusia (HAM). Apakah homoseksual adalah bagian dari HAM. Saya secara pribadi tidak pada posisi setuju atau menolak homoseksual, tetapi itu bagian dari HAM. Artinya, kalau homoseksual itu berangkat dari keinginan pribadi dari kedua pasangan, ya It is okay. Apa dan siapa yang bisa mampu melarang?

Perihal urusan apa dampak dan pandangan yang lain berdasarkan konstruk budaya masyarakat setempat juga agama-baiknya ditiadakan. Dan pada posisi ini netral dalam berpendat berdasar nalar/logika yang dimiliki.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis Meilanny Budiarto Santoso mengenai permasalahan LGBT di Indonesia dengan judul LGBT Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia banyak menimbulkan pertentangan pendapat, antara pihak pro dan kontra. Mereka yang pro terhadap LGBT menyatakan, bahwa negara dan masyarakat harus mengkampanyekan prinsip non diskriminasi antara lelaki, perempuan, transgender, pecinta lawan jenis (heteroseksual) maupun pecinta sejenis (homoseksual). 

Dewan Hak Asasi Manusia PBB mensyahkan resolusi persamaan hak yang menyatakan bahwa setiap manusia dilahirkan bebas dan sederajat dan setiap orang berhak untuk memperoleh hak dan kebebasannya tanpa diskriminasi apapun yang tertera pada dasar aturan yang digunakan oleh PBB adalah dalam perspektif Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia).

Pendukung LGBT menggunakan pemenuhan hak asasi manusia sebagai dasar tuntutan mereka dengan menyatakan bahwa orientasi seksual adalah hak asasi manusia bagi mereka. Bahwa bisa saja ada terdapat salah satu pasangan (misalkan si perempuannya) yang melakukan heteroseksual tidak menemukan kenikmatan dan sensasi saat melakukan aktifitas seksual itu.

Menurut survey CIA pada tahun 2015 yang dilansir di topikmalaysia.com jumlah populasi LGBT di Indonesia adalah ke-5 terbesar di dunia setelah China, India, Eropa dan Amerika. 

Selain itu, beberapa lembaga survey independen dalam maupun luar negeri menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 3% penduduk LGBT, ini berarti dari 250 juta penduduk 7,5 jutanya adalah LBGT, atau lebih sederhananya dari 100 orang yang berkumpul di suatu tempat 3 diantaranya adalah LGBT.

Sebaliknya, pihak-pihak yang kontra terhadap LGBT, menilai bahwa LGBT sebagai bentuk penyimpangan, dan tidak masuk dalam konsepsi HAM. Dan dapat dipastikan bahwa yang tentu kontra denga akfitas homoseksual dalam hubungan seksual adalah orang-orang memandang aktifitas itu dari berbagai macam segi baik itu budaya, agama, aturan hukum negara, dan yang lainnya.