Para semut berjaga di luar sarangnya. Ketika predator datang menyerang, semut-semut penjaga mempertahankan sarangnya dengan meledakkan dirinya sendiri. Ledakan tersebut berasal dari perut semut yang mengandung cairan lengket beracun berwarna kuning pekat. Cairan kuning hasil "jihad" para semut dapat melumpuhkan sang predator. Jika sang predator dapat selamat dari ledakan dan berhasil melubangi sarang semut, masih ada pasukan semut dengan bentuk kepala yang besar dan unik, seperti didesain khusus untuk menutupi lubang-lubang sarangnya. Sudah pasti para pasukan semut, baik yang meledakkan diri, maupun yang menutup lubang, akan mati. Kematian mereka terbayarkan dengan kenyamanan kawanan semut yang berada di dalam sarang.

Uniknya, pasukan semut siap-mati tersebut merupakan betina steril. Seleksi alam seperti menakdirkan peran para betina mandul. Alih-alih menjadi tidak berguna karena tidak mampu berkembang biak, mereka "dididik" menjadi pasukan gerilyawan yang siap untuk mati demi para elite pemimpinnya.

Spesies semut ini memiliki nama latin Colobopsis explodens. Mereka tersebar di kawasan Asia Tenggara. Spesies unik ini menjadi bahan studi yang menarik bagi para ilmuwan.


Sebagai manusia, Saya berpikir bahwa ini sungguh tidak adil. Apakah semut gerilyawan tersebut tidak sedetikpun berpikir kalau hidup sungguh tidak adil? Atau mereka hanya dapat berseru ketus, "Yo wes takdir."?

Pertanyaan mengenai ketidakadilan terkesan sederhana jika ditujukan kepada hewan, seperti semut yang sudah disebut sebelumnya. Namun, menjadi sulit ketika pertanyaan mengenai ketidakadilan jika ditujukan kepada manusia. Bahkan, pertanyaan ini selalu berujung pada perdebatan tak berujung.

Pada buku "Dari dalam Kubur" karya Soe Tjen Marching, dikisahkan seorang anak bernama Karla yang diperlakukan  sangat berbeda di dalam keluarganya, terutama oleh ibunya. Sangat terasa kemarahan Karla akan anjing kesayangannya yang dibuang oleh sang ibu, akan acara ulang tahun yang tidak didatangi sang ibu, akan Karla yang tidak pernah diajak bercengkrama oleh keluarganya. Dapat dengan mudah mengatakan bahwa perlakuan keluarga Karla terhadapnya sungguh tidak adil. Tetapi, perlahan pembaca diajak memahami alasan sang ibu bertindak demikian terhadap Karla.

Djing Fei, ibu Karla, diculik, kemudian disiksa, bahkan diperkosa, hanya karena ia dituduh seorang Gerwani. Padahal, ia bukan Gerwani. Lagipula, seharusnya justru ia bangga jika ia dianggap sebagai Gerwani, karena Gerwani yang ada di desanya justru memberdayakan masyarakat dengan mengajar membaca dan menulis. Para Gerwani juga membuat masyarakat setempat menjadi kritis dan melek politik.

Djing Fei adalah salah satu korban akibat kekisruhan politik dan kepentingan militer. Penyiksaan yang ia alami mengharuskan Djing Fei berganti nama, memeluk agama Katolik, dan menyembunyikan identitasnya demi melindungi keluarganya.

Apakah segala perlakuan yang dialami Karla itu dapat dikatakan adil? Ia tak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi dilahirkan dari rahim ibunya, Djing Fei? Apakah yang dialami oleh Djing Fei itu juga dapat dikatakan adil? Apakah Djing Fei pantas menerima segala siksaan, dan perkosaan yang membuatnya mengandung, yang kelak anak tersebut diberi nama "Karla"?

Sebagian orang dapat mengatakan, "Mereka pantas menerimanya, karena Gerwani adalah PKI!" Sebgian yang lain, dapat bertanya-tanya, "Mengapa nasib mereka seperti itu? Mengapa mereka harus menderita karena tuduhan tak berdasar?"


Di anime Attack on Titan, terdapat salah satu karakter pemimpin berkharisma, yaitu Komandan Erwin. Analisis dan strategi perang Komandan Erwin sangat cemerlang, mulai dari misi penyergapan Female Titan, misi penyelamatan Eren dari Reiner dan Bertholt, hingga akhirnya memimpin pasukan bunuh diri Scout Regiment agar Levi dapat menyelinap dan menyerang Beast Titan. Sudah jelas, banyak pasukannya berjuang sampai mati, sambil memercayai bahwa nyawa mereka dikorbankan demi keselamatan umat manusia.

Pada setiap misi, Erwin tidak ragu menyatakan bahwa peperangan, melawan titan adalah demi keselamatan umat manusia, sambil mengepalkan tangan kanannya ke dada kiri dan berteriak, "Shinzo sasageyo!" Namun, kita tahu bahwa motivasi Komandan Erwin mengorbankan banyak nyawa pasukannya, sampai akhirnya nyawanya sendiri, adalah "hanya" untuk membuktikan kebenaran dibalik titan, sekaligus membuktikan teori ayahnya bahwa ternyata wujud asli titan adalah manusia. Sama sekali bukan karena demi keselamatan umat manusia.


Dari sudut pandang manusia, apa yang terjadi kepada pasukan yang mati tersebut merupakan kebobrokan dari sistem ciptaan manusia itu sendiri. Di mana ego para elite dapat mengendalikan nyawa prajurit bawahannya. Sementara dari sudut pandang biologis, apa bedanya mereka dengan semut-semut gerilyawan? Apakah pengorbanan mereka semata-mata merupakan hasil kebiadaban sistem sosial yang diciptakan manusia, atau apakah pengorbanan mereka sudah tercatat dalam kode genetik, rela memberikan nyawanya demi keamanan dan kenyamanan sesamanya?

Tak bisa dipungkiri, saat Saya mempelajari ilmu biologi, terdapat perasaan bahwa ilmu ini sungguh kejam. Ilmu biologi terasa dingin, pengorbanan nyawa suatu makhluk hidup demi keberlangsungan hidup sesamanya dilihat secara objektif, memalingkan moralitas.

Lalu, apakah kita serta-merta berhenti untuk mempertanyakan ketidakadilan? Apakah kita dapat langsung menarik kesimpulan bahwa perbudakan, genosida, dan peperangan adalah dorongan dari kode genetik umat manusia?

Selain bahwa ilmu alam jelas membutuhkan perspektif ilmu sosial-humaniora, dan ilmu sosial-humaniora jelas membutuhkan bukti objektif yang disodorkan oleh ilmu alam, terdapat satu hal lain yang jelas. Hal tersebut adalah pemahaman dan pertanyaan tiada henti mengenai apa yang dapat disebut sebagai "keadilan", merupakan hasil evolusi manusia dengan proses yang teramat panjang.

Sehingga, selain bahwa kita merupakan Homo sapiens (makhluk yang bijaksana), kita juga merupakan Homo significatio (makhluk pencipta makna). Artinya, kita tidak dapat sekadar berhenti melihat ketidakadilan sebagai suatu keniscayaan. Mudahnya, kita tidak dapat sekadar berhenti mengatakan, "Yo wes takdir,".


Sumber:

  1. Weisberger, Mindy. 2018. Exploding Ants Kill Foes, and Themselves, with a Blast of Toxic Goo. Live Science. https://www.livescience.com/62354-exploding-ants-new-species.html
  2. Marching, Soe Tjen. 2020. Dari dalam Kubur. Marjin Kiri