Prolog

Tulisan ini akan membahas mengenai peradaban manusia di abad ke-21 nanti menurut prediksi Yuval Noah Harari dalam buku Homo Deus-nya. 

Namun yang jadi inti dari arah diskusi ini adalah bahwa kita akan tetap di sini, di abad ini, saat ini, seperti kata Buddha, “Hiduplah di hari ini.” Maka penulis akan mencoba untuk membahas prediksi pencapaian manusia di abad ke-21 nanti dengan kacamata analisis hari ini, saat ini. 

Penulis harap para pembaca pun tidak terbius dan terbawa pada imajinasi utopis atau distopis terkait abad ke-21, melainkan mari kita sadari bersama, bahwa bagaimanapun kita tetap tengah hidup di hari ini, saat ini, dengan apapun yang kita miliki.

Iming-iming abad ke-21

Pada dasarnya manusia seperti anak kecil yang selalu tak kehabisan stok keceriaan manakala hendak diberi mainan baru sedangkan kedua tangannya tengah memegang senapan mainan, kakinya mengangkangi miniature sepeda motor bertenaga aki, dan wajah polosnya tertutup oleh topeng tokoh superhero komik Marvel. 

Yang seharusnya si anak itu sangat bisa untuk bermain seharian “hanya” dengan beberapa mainan itu akan dengan senang hati menerima lagi mainan yang lain, sebanyak apapun itu. Pencapaian atau “mainan” di abad ke-20 ini oleh manusia tengah dinikmati dengan sangat khusyu atau boleh dibilang juga dimainkan dengan bangga.

Homo sapiens telah menaklukan hukum rimba, memuncaki ekosistem serta mengalahkan beberapa hal yang dulu serupa dengan iblis yaitu penyakit mematikan semisal kanker dan tumor yang telah ditemukan obatnya, kelaparan yang untuk tahun 2010 “hanya” membunuh satu juta manusia berbanding dengan tiga juta manusia yang terbunuh akibat kekenyangan atau obesitas, dan perang yang makin susut skalanya.

Kaki mereka pun berkurang tugasnya, makin pendek langkanya karena digantikan oleh langkah kedua ibu jari mereka pada bentang layar ponsel pintarnya masing-masing. Lalu, beberapa saat kemudian apa yang dia inginkan datang menghampirinya semisal tas model terbaru, jam tangan pre-order dan lainnya, laksana Kun fayakun dalam skala yang berbeda.

Jarak dan waktu yang menyempit pula, kala dulu musti dalam hitungan bulan manusia berlayar dari pulau satu ke pulau lain dengan kapal yang dihantami ombak samudera, dilecuti oleh badai serta dilibati rasa takut karamnya kapal. 

Maka kini mereka cukup duduk di kursi empuk yang dibawa pesawat terbang, tidur dan bakal sampai dalam hitungan jam setelah sebelumnya dilakukan penghitungan matang mengenai keadaan cuaca, dan apapun yang menjamin keamanan. Mereka terbang melayang di atas samudera laksana Tuhan yang melayang-layang di atas air seperti yang tertulis dalam kitab kejadian di ayat mula-mula.

Dan ketika manusia dipenuhi bentuk pencapaian yang memudahkan segala hal untuknya di abad ke-20 ini, datanglah paman. Dia dengan wajah optimis, tubuh yang sehat, sama sekali tidak terlihat tua, dan, menurut manusia abad ke-20, sang paman ini agak “dibuat-buat”. Namun tetap saja sang paman terlihat menjanjikan “keceriaan” yang baru.

Manusia abad ke-20 telah dipenuhi kemudahan, dan sekarang dihadapannya , abad ke-21 datang mewujud sebagai seorang paman yang mencoba berlaku sebersahabat dan seakrab mungkin dengan manusia. Dia hendak memberikan sebuah “mainan” baru. 

Apakah kita-manusia yang anak-anak ini bakal menerimanya? Dengan segala konsekuensinya?

Beberapa kejadian yang menyejarah

Kita masih di sini, saat ini. Namun mari buka catatan sejarah kita mengenai beberapa perubahan besar yang telah terjadi karena ulah homo sapiens ini. Beberapa perubahan besar itu mempunyai satu kemiripan bahwa setiap perubahan besar selalu didasari oleh keharusan manusia untuk lepas dan keluar dari satu masalah umum.

Semisal renaisans di Eropa terjadi lantaran kebebasan berpikir manusia yang dibebat oleh dogma agama, sebuah bangsa merdeka lantaran ingin dapat menentukan nasib dan arah bangsanya sendiri, sistem sosialis lahir karena mengenaskannya nasib kaum pekerja di era industri, reformasi di Indonesia terjadi lantaran mereka ingin lepas dari jerat kekuasaan tiranik.

Segala perubahan besar manusia terjadi setidaknya sampai hari ini, saat ini, selalu didasarkan atas keharusan, dan keinginan manusia untuk lepas dari sesuatu yaitu masalah. Beberapa catatan sejarah yang tergelar di atas adalah kejadian manusia menghadapi masalah yang nyata-nyata hadir tepat di hadapannya dan mengancamnya. 

Namun, pada tingkatan selanjutnya adalah yang sebaliknya. Manusia mencari di mana masalah itu bersembunyi (masih bersembunyi), mendekatinya, mengamatinya, dan, menumpasnya.

Itulah yang terjadi di abad ke-20 ini, di mana masalah ditumpas sebelum dia membuat masalah dengan manusia, apalagi membahayakan hidup manusia itu sendiri. Kita-manusia yang anak-anak ini tengah terkagum-kagum dan asyik dengan betapa mudahnya mengunduh permainan berukuran 400 Kb dengan memasang kuota 10 Mb di laman waptrick.com dengan ponsel ber-sistem operasi Java. 

Lalu hadirlah ponsel ber-sistem android berkecepatan lebih lesat, arus data lebih tinggi, dan dapat mengunduh permainan dengan kualitas yang jauh lebih baik di Play Store.

Maka sekarang sistem operasi java adalah mainan usang. Ponsel sistem operasi java belum juga memberi masalah, namun manusia telah mencari masalah itu: “Bisakah membuat sistem operasi lain yang jauh lebih baik?” Dan beberapa waktu kemudian manusia melabeli sistem operasi java itu dengan label lambat, label yang takkan pernah terpikirkan jika android tak lahir.

Gelagat homo sapiens untuk terus-menerus ingin yang lebih dan lebih sangat kentara dan terasa di abad ke-20 ini (padahal kita belum juga melangkah ke abad ke-21). Masalah dicari lalu dihabisi. Dan jika dipikirkan, sebenarnya sangat sedikit masalah yang manusia hadapi hari ini, saat ini. 

Jarak dan waktu menyempit, upah kerja makin sesuai, pangan makin terjamin, anggota masyarkat makin dermawan. Di abad ke-20 ini manusia berada pada tingkatan “mencari masalah”. Dan jika boleh memprediksi seperti Harari, manusia hari ini dan merentang ke abad 21 nanti bukan lagi mencari masalah, namun telah dan tengah “membuat yang bukan masalah menjadi masalah”.

Masalah yang manusia miliki          

Di dalam bukunya, Harari mempermasalahkan beberapa hal, semisal kesadaran manusia. Dipertanyakannya keberadaan kesadaran manusia, dan jika memang ada lalu apa fungsinya? Karena di dunia yang pragmatis ini, yang tak berfungsi baiknya ditiadakan, atau dalam kerangka George Orwell diuapkan saja. 

Dipermasalahkan pula emosi manusia yang sebentar lagi akan dikupas habis karena emosi manusia diumpamakan serupa dengan rerangkaian logika algoitma. Mengapa bukan sebaliknya, bahwa dibangunnya logika algoritma di piranti digital adalah upaya untuk menyerupa dengan emosi manusia? Karena jika diurutkan : Teknologi meniru manusia, manusia meniru Tuhan.

Juga agama, yang, memang di renaisans dikoreksi habis-habisan namun bukan berarti tidak dibutuhkan keberadaannya. Penulis sendiri masih belum dapat bayangkan hidup tanpa agama. 

Penulis bukan agamis, karena penulis sama ngerinya kala membayangkan hidup tanpa sistem politik. Kesemua itu adalah bekal manusia abad ke-20 yang nyata-nyata bukan masalah namun menurut Harari dijadikan masalah di abad ke-21 nanti.

Dan yang paling fundamental adalah kematian. Di abad ke-21 nanti, menurut Harari berdasar capaian manusia di bidang kesehatan saat ini, maka manusia akan dapat mewujudkan manusia a-mortal (tidak mati). 

Manusia akan tidak mati dan tidak tua. Kematian ini, ternyata juga akan dirampas dari manusia yang selama ini menjadi fondasi untuk membangun makna kehidupan, setidaknya untuk manusia abad ke-20.

Lalu apakah bakal terjadi dekonstruksi secara besar-besaran terhadap makna kehidupan? Atau lebih tepatnya makna ketidakmatian manusia? Atau jika sekali lagi menurut Harari bahwa di abad ke-21 nanti semuanya akan makin mudah, ini bisa dikatakan adalah upaya memidahkan surga dari nirwana ke tempat yang lebih nyata: bumi. Dan jika surga memang sudah pindah ke bumi dan manusia a-mortal ada di dalamnya, masih perlukah makna untuk dicari?

Sang Paman masih menanti

Kita-manusia yang anak-anak ini masih berhadapan dengan paman abad 21. Mata kita berbinar melihat sang paman memegangi mainan baru yang sekilas sangat menjanjikan kemudahan, keceriaan, kebebasan, kenyamanan, dan, ketidakmatian.

Tanpa sadar tangan kita terangkat dan hendak meraih mainan itu. Dan menjelang berpindahnya mainan itu pada manusia, satu sisi dari kemanusiaan kita membisik lirih.

“Aku hidup di hari ini, saat ini. Dan ternyata abad ke-21 lebih banyak mengkoreksi dan mungkin akan menghilangkan atau menguapkan apa yang kita miliki sekarang yang selama ini menjadi tempat kita membangun makna, bahkan makna itu sendiri akan jadi masalah. 

Aku tidak akan pernah melawan arus kemajuan pencapaian manusia dari segala sisi, namun jika memang homo sapiens akan meningkat menjadi homo deus, mengapa Harari menyebutkan bahwa jika di abad ke-21 nanti tak ada manusia (yang sudah jadi homo deus) yang sanggup menemukan visi yang baru untuk dunia, mungkin akan ada makhluk lain (dalam hal ini teknologi) yang akan melakukannya?”

Di sebisikan terakhir, satu sisi kemanusiaan itu melanjutkan, “Pada peningkatan evolusi hingga homo sapiens, manusia masih menjadi yang di puncak piramida makhluk hidup dan penentu visinya. Namun pada tingkatan di mana manusia akan serupa dengan Tuhan yaitu homo deus, mengapa penghuni puncak makhluk hidup dan penentu visi menjadi sesuatu yang dipertanyakan?”

Epilog

Di tepi pencapaian peradaban manusia (berdasar tulisan di atas, penulis sudah tidak lagi menggunakan kata “di puncak”), seharusnya manusia mempertanyakan kembali esensi semua pencapaian ini. Mumpung di saat ini kesadaran masih belum menjadi masalah, maka gunakanlah dengan sebaik mungkin untuk menggali dan memegang lebih erat lagi sisi kemanusiaan kita. 

Dan jika manusia tetap melaju melawan tepi pencapaiannya, maka barangkali manusia harus bersiap-siap jika suatu waktu mereka akan menjadi masalah, dan jadilah kita homo quaestio.