Pandemi covid-19 memaksa semua orang mengalami perubahan yang sebelumnya tidak diduga-duga. Paling tidak ada dua hal yang menjadi kebiasaan yang mulai marak berkembang di masyarakat, yakni pembelajaran daring dan pembelajaran mandiri di rumah, atau sebut saja homeschooling.

Yang pertama pembelajaran daring. Hampir semua sekolah melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran daring dilakukan sebagai salah satu pilihan yang harus dipilih agar siswa di sekolah tetap menerima pembelajaran pada masa pandemik ini. 

Ada juga yang mengistilahkan dengan PJJ atau pembelajaran jarak jauh. Apa pun istilah yang dipakai, pembelajaran pada masa pandemik ini memaksa semua orang termasuk siswa sekolah untuk melakukan pembelajaran melalui internet yang menghubungkan antar siswa dengan pengajar dan para temannya.

Yang kedua, homeschooling. Pada dasarnya homeschooling sudah familiar di kalangan orang tertentu, yakni di kalangan orang yang cenderung tidak puas dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah, atau di kalangan orang yang kuatir dengan pergaulan anaknya.  

Homeschooling juga sudah familiar di kalangan orang yang berusaha mem-protect anaknya dari kejahatan lingkungan sosial, atau dikalangan orang tua yang memiliki anak yang super sibuk dengan kegiatan minat bakatnya masing-masing.

Bagi kalangan orang tua yang cenderung tidak puas dengan pembelajaran di sekolah, homeshooling dianggap mampu memberi solusi. Ketidakpuasan itu dapat ditemukan dari aspek gurunya. Memang pada kenyataannya ditemukan guru yang belum memiliki kompetensi maksimal dan belum memiliki integritas yang tingggi atas profesinya. 

Tidak menutup mata dan telinga, masih ada sebagian guru yang mengajar hanya dengan metode konvensional. Masih ada guru yang hanya mengajar berdasarkan buku Latihan Kerja siswa (LKS) yang hanya berisi soal-soal. 

Sementara itu, dilihat aspek relasi harmonis antar guru dan siswa, jumlah siswa dalam satu rombongan belajar di sekolah berkitar antara 20 sampai 30 orang. Konsidi ini memungkinkan ada siswa yang berada di luar pengawasan dan perhatian guru. Persoalan-persoalan di tersebut dapat diatasi dengan program homeshooling.

Selain persoalan ketidakpuasan tersebut, homeschooling menjadi sebuah pilihan bagi orang tua yang kuatir dengan pergaulan anaknya sekolah. Bagi mereka, teman-teman anaknya yang ada di sekolah memiliki beragam sifat, karakter yang mungkin saja akan memberi pengaruh buruk terhadap perkembangan fisik dan mental anaknya. 

Mereka tidak mau mempertaruhkan sifat anak mereka yang selama ini sudah mereka bina dengan baik, akan berubah dan kena “tular” dari perilaku teman sekolah anaknya. Mereka yakin dan menganggap homeschooling sebagai salah satu solusi dari persoalan ini.

Alasan lain, mengapa orang tua memilih homeschooling adalah keinginan mereka untuk mem-protect anak mereka dari kejahatan lingkungan sosial. Ada banyak kejahatan sosial yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah, misalnya bullying baik fisik maupun non fisik, dan kejahatan lain yang masih potensial terjadi di sekolah.

Semua kejahatan itu dapat dengan mudah ditemukan di sekolah. Pelakunya bisa saja dari teman, atau bahkan dari guru serta kepala sekolah, atau dari masyarakat sekitar sekolah. Kenyataan ini membuat orang tua risau dan tidak mau berdiam diri. 

Di sisi lain, terlepas dari alasan yang telah mengemuka di atas, ada juga kelompok orang tua yang memiliki anak yang super sibuk dengan kegiatan minat bakatnya masing-masing. Ada anak mereka yang sibuk dengan kegiatan menyanyi, sibuk dengan latihan menari, teater, dan kegiatan seni lainnya. 

Ada juga anak mereka yang sibuk dengan latihan badminton untuk menghadapi kejuaraan yang jadi impiannya, ada yang sibuk dengan latihan renang, latihan senam dan lain-lain sesuai dengan kecenderungan anaknya. 

Untuk orang tua yang seperti ini, homeshcooling menjadi satu-satunya pilihan. Bagi mereka, anak mereka yang sibuk dengan pengembangan bakat minat seolah tidak memiliki waktu khusus untuk mengejar pembelajaran seperti layaknya di sekolah. Mereka cenderung mengembangkan bakat dan minat anak menuju harapan yang mereka inginkan. 

Bagi empat kelompok orang tua di atas, mereka bukan menganggap belajar di sekolah itu tidak penting atau tidak perlu. Belajar layaknya di sekolah tetap penting dan perlu, namun mereka hanya berusaha memindahkan proses pembelajaran di sekolah dengan program homeschooling yang mereka atur sendiri. 

Mereka dapat mengatur jadwal sendiri kapan anak mereka belajar IPA, IPS, Bahasa Indonesia, serta belajar agama. Mereka dengan mudah dapat mengatur siapa saja yang dapat menjadi guru atau pengajar atau tutor anak mereka. Mereka dapat saja menyediakan fasilitas pembelajaran yang diinginkan anaknya. 

Di sisi lain, mereka tidak kuatir atan pengaruh buruk dari kawan-kawan di sekolah, mereka akan tenang ketika perhatian dan fokus guru hanya tertuju pada anak mereka. Mereka akan hilang satu kekuatiran, karena pembelajaran anaknya di rumah berada dalam pengawasan dan pengamatan mereka.

Akhirnya pilihan  homeschooling bukan terletak pada masalah terjadi atau tidaknya sebuah pandemi, tapi homeshooling adalah pilihan bagi orang tua untuk sebuah proses pembelajaran yang mereka anggap lebih safe dan healty layaknya safe dan healty dari serangan covid-19.