Politisi
3 bulan lalu · 1968 view · 5 menit baca · Perempuan 59371_90342.jpg
bonobology.com

Homerus & Perempuan: Seksualitas sebagai Agensi

Kisah Perang Troya

Lebih baik lari dari kematian daripada merasakan cengkeramannya…

Akhaia semakin terdesak. Raja tertinggi Akhaia Agamemnon kehilangan harapan. Ia ketakutan. Setelah sembilan tahun berperang dan percaya diri, kali ini Agamemnon justru ingin mengajak pasukan Akhaia kembali. Kematian seolah sudah ada di depan mata dan ia tentu saja tak mau merasakannya. Nestor, sosok bijak yang selalu didengarkan oleh sang raja, menyatakan bahkan Dewa Zeus sekali pun tak akan bisa mengubah situasi ini untuk menjelaskan bagaimana buruknya situasi yang Akhaia hadapi.

Namun ketakutan Agamemnon ini adalah sebuah penghinaan bagi pejuang-pejuang hebat Akhaia seperti Odisseus dan Diomedes. “Beginikah caramu mengucapkan selamat tinggal kepada Troya, yang membuat kawan-kawan kita begitu sedih? Diam!” ujar Odisseus. 

Diomedes merasakan kemarahan yang sama. Ia tegaskan kepada Agamemnon bahwa ia tak mungkin mundur, bahwa dalam dirinya mengalir darah ayahnya Tydeus seorang pejuang tangguh yang mampu menaklukan benteng Thebes.

Ternyata di tengah situasi membingungkan penuh ketakutan dan kemarahan yang dirasakan pasukan Akhaia, Dewa laut Poseidon dan Dewi Hera tidak tinggal diam. Poseidon ingin membantu Akhaia untuk mengalahkan Troya, tapi itu tak mungkin terjadi jika Dewa tertinggi Zeus yang mendukung Troya berada dalam keadaan tersadar dan mengawasi peperangan Troya. Dewi Hera kemudian memiliki strategi yang jitu agar Zeus lengah.

Hera meminta kekuatan cinta kepada Dewi Aphrodite. Ia melakukan itu dengan menipu sang Dewi bahwa cinta yang ia dapatkan adalah upaya untuk membuat Dewi Thetis dan Dewa Zeus mengesampingkan kemarahan mereka masing-masing dan mengembalikan cinta yang dulu mereka rasakan. Aphrodite memercayai Hera dan memberikannya gelang keramat yang mampu memantik gairah siapa pun yang melihatnya.

Setelah berhasil memperdaya Dewi Cinta, Hera kemudian menemui Dewa Tidur Hipnos. Ia meminta agar Hipnos memberikan rasa kantuk atau rasa lelah kepada Zeus agar ia tertidur. Awalnya Hipnos tak mau karena pernah memiliki pengalaman menyeramkan di masa lalu ketika ia bermain-main dan mencoba menidurkan Dewa Zeus. 

Tetapi, Hera tahu bahwa Hipnos sejak dulu mengagumi salah satu charites (dewi kecil) bernama Pasithea. Hera kemudian menjanjikan Hipnos bahwa ia akan menikahkannya dengan Pasithea jika Hipnos mau membantu dirinya dalam misi melengahkan Zeus. Hipnos tak kuasa menolak dan memberikan apa yang diingkan Hera.

Pergilah Hera ke Olimpus menemui Dewa Zeus. Begitu melihat Hera, sang Dewa tertinggi merasa begitu bergairah. “Mari kita tenggelam dalam cinta! Tak pernah aku bernafsu seperti ini ketika melihat dewi atau perempuan biasa. Kau membanjiri hatiku yang terus berdebar dan membuatku seolah tak kuasa,” ujar Zeus yang sudah tak mampu lagi mengendalikan hasratnya. Hera berhasil membuatnya tenggelam dalam gairah.

Saat Zeus dimabuk cinta, Hipnos beraksi dan menghembuskan kantuk kepada Zeus. Berkat itu, Poseidon mampu membantu Akhaia. Situasi yang awalnya buruk bagi Akhaia berubah menjadi awal dari kekalahan Troya. Pangeran Troya Hector hampir saja tewas jika tak karena diselamatkan oleh pasukan Troya lainnya. Ajax dari Akhaia berhasil melemparkan batu besar tepat di dada Hector hingga ia terjatuh.

"Dan lutut setiap pejuang Troya bergetar karena ketakutan, setiap veteran panik, melirik ke kiri dan ke kanan—bagaimana cara melarikan diri dari kematian yang tiba-tiba menjerumuskan?" 

Begitulah Homerus menggambarkan situasi perang yang berubah di akhir buku ke-14 epik Yunani kuno, The Iliad. Kematian kini lebih dekat dengan Troya dibanding Akhaia. Dan, ini semua tak lepas dari keberhasilan strategi Hera dan kelengahan Dewa Zeus.

Buku ini membuat kita banyak berpikir karena Homerus secara gamblang menunjukkan bagaimana perempuan menggunakan seksualitas sebagai agensi untuk mendapatkan apa yang ia mau tapi secara bersamaan juga menunjukkan bagaimana perempuan tidak memiliki agensi apa pun dan hanya menjadi objek dari permainan kekuasaan. Keduanya terlihat jelas dalam kisah Hera dan Pasithea.

Hera secara aktif menjadi ahli strategi untuk memenangkan Akhaia. Ia menyerang titik terlemah lelaki. Untuk itu ia memperdaya Aphrodite dan menjadikan Pasithea sebagai alat tukar semata. Di sini terlihat jelas bagaimana Hera menganggap seksualitas sebagai kekuatan perempuan yang mujarab dan ia memaksimalkan kekuatan itu. Namun Hera menindas dua perempuan lain (Aphrodite dan Pasithea) untuk mencapai apa yang ia mau.

Memang konsep keperempuanan Homerus dalam Iliad memantik diskusi yang menarik. Perang Troya tak mungkin ada jika bukan karena Pangeran Paris yang merebut Helen dari adik Raja Agamemnon. Meski demikian, kita bisa melihat dalam buku-buku yang ada, peran Helen sangat kecil dan bahkan jarang sekali disebut. 

Dalam buku ke-3 Iliad, Raja Troya Priam menyatakan kepada Helen bahwa ia memilih menyalahkan para Dewa dibanding perempuan yang direbut anaknya tersebut. Di satu sisi, mungkin ini bisa dikatakan sebagai upaya untuk tak melulu menyalahkan perempuan. 

Namun yang lebih kentara dalam kisah Perang Troya ini adalah Helen tidak memiliki agensi apa pun untuk menentukan apakah ia ingin tetap bersama Paris di Troya atau kembali ke kampung halamannya bersama Akhaia. Helen hanya bisa mengamati perang dan menunggu siapa yang menang untuk mendapatkan dirinya. (Baca: Buku III Iliad)

Selain Helen, Briseis perempuan milik Akhilles yang dirampas oleh Raja Agamemnon menjadi penyebab Akhilles tak ingin lagi ikut berperang bersama Akhaia karena ia merasa kehormatannya juga telah dirampas. (Baca: buku I Iliad). Pun begitu, tak pernah ada sepatah kata pun dari Briseis dalam kisah-kisah yang diceritakan Homerus. Perempuan dalam kisah Briseis digambarkan semata sebagai pelengkap kehormatan lelaki.

Kelemahan Zeus juga bisa terlihat dalam kisah Dewi Thetis dan Akhilles. Keadaan terdesak Akhaia tak bisa dilepaskan dari doa Dewi Thetis, ibu dari Akhilles, yang merasa kehormatan anaknya dinodai. Ia berdoa agar Zeus memenangkan Troya sampai Agamemnon dan pasukan Akhaia mengemis kepada Akhilles untuk ikut berperang. Hanya dengan cara itu, Akhilles bisa mendapatkan kehormatannya kembali.

Zeus mengabulkan doa ini sebab – sebagaimana yang diceritakan oleh Homerus – ia memang mencintai Thetis. Tentu saja, Thetis mengetahu cinta Zeus kepadanya dan menggunakan itu sebagai senjata agar putranya bisa meraih kehormatan dalam perang Troya.

Dari perspektif feminisme, konsep keperempuanan Homerik mungkin bisa disebut patriarkal dan merendahkan perempuan. Dalam berbagai kisah, kekuatan dan nilai perempuan direduksi menjadi sekadar seksualitas. Lebih ekstrem lagi, dalam beberapa kisah, perempuan bahkan tak memiliki agensi untuk menentukan apa pun.

Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah memang Iliad terlalu kental dengan aroma kelelakian – bagaimana pun juga epik ini dikisahkan seorang lelaki – atau sebenarnya Homerus di sisi lain juga sedang menunjukkan bahwa kekuatan perempuan terletak dari kemampuan mereka mengatur strategi untuk mengatur arah peperangan, bahwa mungkin seksualitas hanyalah alat dan penggunaannya merujuk pada kebebasan menentukan pilihan dan dengan demikian dapat dipahami sebagai sebuah bentuk agensi?

Homerus tak pernah memberikan jawaban. Kontradiksi dan konsep keperempuanan yang tercermin dari kisah-kisah Iliad akan terus mengundang banyak pertanyaan dibanding memberikan jawaban. Apa pun itu, kekuatan terpenting dari epik Yunani kuno ini adalah kemampuannya untuk membuka ragam tafsir yang memikat untuk dibahas dan dipikirkan secara terus-menerus.