18948_95013.jpg
Ilustrasi: thepaper.gr
Politik · 6 menit baca

Homerus, Brennan, dan Kesetiaan
Kisah Perang Troya

Dalam bukunya Against Democracy, Jason Brennan membagi spektrum warga negara dalam demokrasi menjadi tiga kelompok: hobbits, hooligans, dan vulcans.

Kelompok pertama atau kelompok hobbits adalah warga negara yang apatis dan tidak peduli terhadap politik. Kelompok hooligans adalah kelompok yang militan, bias, dan mudah menghakimi yang berbeda. Sementara kelompok vulcans adalah kelompok warga negara yang ideal karena memiliki political knowledge yang cukup dan objektif dalam melihat persoalan. Sayangnya, vulcans cenderung menarik diri dari politik. 

Dari tiga kelompok tersebut, saya tertarik mengamati fenomena hooligans yang sedang marak di berbagai belahan dunia. Amerika merupakan salah contoh nyata fenomena ini. Kita pun merasakan hal yang sama di Indonesia. 

Sesungguhnya fenomena hooligans lahir dari kesetiaan terhadap pilihan politik, sehingga berbagai jurus dilakukan hanya untuk membenarkan pilihan politik tersebut. Hingga akhirnya polarisasi meruncing karena kelompok hooligans begitu militan membela kesetiaan mereka terhadap pilihan politik tersebut. 

Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang sahabat baik yang menyatakan bahwa Homerus sebenarnya sedang mencoba menceritakan arti kesetiaan melalui epik Yunani The Iliad melalui aksi-aksi yang tertuang dalam buku tersebut, khususnya dalam buku ke-11. 

Dalam buku sebelas yang dalam terjemahan Robert Fagles diberi judul Agamemnon’s Day of Glory, kita bisa melihat bagaimana Agamemnon mendapat kekuatan untuk menghancurkan satu per satu pejuang Troya dengan tangannya sendiri.

Pertama-tama, ia membunuh Bienor seorang kapten veteran Troya dan ajudannya Oileus. Setelah itu, ia makin menggila dengan membunuh dua orang putra Raja Priam, Isus dan Antiphus. 

Apalagi ketika Raja tertinggi Akhaia itu melihat Pisander dan Hippolochus, kedua putra Antimachus yang ayahnya dulu pernah memerintahkan hukuman mati bagi adik Agamemnon, Menelaus dan taktikus handal Akhaia, Odisseus. Meski Pisander memohon ampun, Agamemnon tanpa belas kasihan sedikit pun tetap membunuhnya. Untung saja Hippolochus berhasil melarikan diri. 

Agamemnon belum berhenti. Iphidamas pejuang Troya dan putra penasihat Raja Priam mencoba melawan Agamemnon, namun Iphidamas justru harus bergabung dengan pejuang Troya lainnya yang gugur. Coon, saudara Iphidamas, kemudian membalas Agamemnon dengan melepaskan tombaknya yang tertancap persis di bawah siku sang Raja tertinggi. 

Agamemnon mulai gemetar ketakutan, tapi Coon tidak terus menyerangnya. Justru ia langsung melihat mayat saudaranya Iphidamas dan menyeretnya. Dalam upaya menyelamatkan tubuh saudaranya, Coon mati di tangan Agamemnon. 

Meski harus mati, Coon telah berhasil melukai Agamemnon dan membuatnya berhenti berperang. Hector teringat pesan Dewa Zeus yang disampaikan melalui dewi pelangi Iris bahwa Troya harus menahan serangan ketika Agamemnon masih terus menyerang. 

Namun, ketika Agamemnon terluka, itulah waktunya Troya melakukan serangan balik. Hector pun menyerukan kepada pasukannya untuk melawan Akahaia. Serangan balik Troya membuat Hector mampu membantai langsung sepuluh pejuang Akhaia. Pasukan Akhaia ketakutan dan kembali ke kapal mereka.

Tapi tidak dengan dua pejuang pemberani Akhaia, Odisseus dan Diomedes. Mereka tetap berada dalam medan pertempuran dan melawan Troya. Diomedes berhasil menancapkan tombaknya tepat di kepala Hector, namun putra raja Priam itu beruntung karena tombak tersebut hanya tertancap pada pelindung kepalanya. 

Diomedes akhirnya harus kembali ke kapal Akhaia setelah biang keladi perang Troya Paris berhasil memanah kakinya. Hanya Odisseus yang tertinggal, dan ia terkepung. Taktikus handal itu berhasil melawan pejuang-pejuang Troya yang ada meskipun harus terluka. 

Dalam keadaan terluka dan semakin terkepung, Odisseus tak mampu lagi bertarung sendiri. Ia meminta bantuan teman-teman pejuang dari Akhaia. Menelaus dan Ajax tanpa berpikir panjang langsung turun ke medan perang membantu Odisseus. Bersama-sama, mereka mampu melawan kepungan pasukan Troya. 

Bahkan Machaon pun turun tangan untuk membantu pasukan Akhaia. Padahal ia merupakan semacam dokter pada masa itu (healer). 

Paris berhasil melukai Machaon tepat di dadanya dan membuat pasukan Akhaia kembali ketakutan. Nestor segera memerintahkan pasukan Akhaia untuk menyelamatkan Machaon. Tanpa seseorang yang bisa menyembuhkan luka perang seperti Machaon, pasukan Akhaia bisa dengan mudah dihabisi. 

Akhilles dari kejauhan memandang peristiwa itu. Mungkin dalam perasaannya mulai ada perasaan bersalah. Ia segera meminta sahabatnya Patroklus untuk mencari tahu apakah lelaki yang baru saja dibawa itu memang benar Machaon. Patroklus kemudian mendatangi Nestor untuk menanyakan hal tersebut.

“Mengapa kini Akhilles begitu peduli? Dia tak tahu bagaimana menderitanya pasukan Akhaia! Lihat bagaimana pejuang-pejuang terbaik kami terbaring di kapal. Mereka semua terkena panah dan tombak. Diomedes yang kuat itu jatuh karena anak panah. Odisseus terluka, begitu pun Agamemnon. Euriplus juga terluka tepat di paha. Dan kini aku baru saja membawa Machaon dari pertempuran, ia terkena panah yang begitu melesat.

Tapi di mana Akhilles pejuang pemberani itu? Ia justru tidak peduli dan tak sedikit pun menunjukkan belas kasihan bagi pasukan kita, pasukan Akhaia. Mau berapa lama lagi Akhilles menunggu? Hingga kapal kita terbakar api dan kita semua dihabisi?” ucap Nestor dengan kesal kepada Patroklus.

Nestor lanjut menceritakan masa mudanya kepada Patroklus ketika ia berperang melawan pasukan dari Elis yang datang ke kampung halamannya Pilos. Meski ayah Nestor, Neleus, ketika itu menyembunyikan kuda-kuda perang agar anaknya yang masih hijau tak ikut dalam pertempuran, Nestor tetap berjalan menuju medan pertempuran tersebut. 

Ia tak membiarkan ayahnya, sang Raja Pilos, berjuang sendirian. Nestor pun meminta kepada Patroklus untuk merayu Akhilles. “Jika ia tak mau berperang lagi, paling tidak biarkanlah kau ikut berperang Bersama pasukan Akhaia lainnya,” ujarnya.

Entah apakah sahabat saya itu berusaha menjelaskan arti kesetiaan dalam buku Iliadseperti di atas dengan konotasi negatif atau positif. Namun sebenarnya Homerus di sini jelas tidak sedang memberikan tafsir tunggal mengenai kesetiaan. 

Sebaliknya, Homerus sedang menunjukkan kepada kita bagaimana kesetiaan di satu sisi merupakan rasa kepedulian terhadap sesama dan ikatan solidaritas untuk tidak saling meninggalkan. Sisi ini tergambar dengan jelas ketika Homerus menceritakan mengenai Coon dan Iphidamas, upaya para pejuang Akhaia untuk tetap berperang dan saling menyelamatkan temannya sesama pejuang, dan bahkan kritik Nestor terhadap Akhilles.

Di sisi lain, Homerus juga membuka mata kita untuk memahami makna lain dari kesetiaan dalam sosok Patroklus dan Akhilles. Patroklus, karena kesetiaannya kepada sahabatnya Akhilles—alih-alih turun membantu Akhaia—ia justru ikut membiarkan pasukan Akhaia berguguran dalam perang Troya.

Buku sebelas ini juga mengingatkan mengapa pasukan Akhaia berperang; kesetiaan terhadap raja tertinggi Agamemnon yang membela kehormatan adiknya Menelaus setelah istrinya dibawa lari oleh Pangeran Paris dari Troya.

Meski sahabat saya tersebut cenderung lebih tertarik dengan makna solidaritas dalam konsep kesetiaan, Iliad sebenarnya lagi-lagi membuat kita berpikir ulang tentang konsepsi kesetiaan yang selama ini kita pandang begitu indah sebagaimana kita selalu memandang kehormatan sebagai sesuatu yang mulia. 

Sebelumnya, dalam buku sembilan, Homerus juga seperti sedang menawarkan tafsir lain dalam konsep kehormatan ketika ia menceritakan Akhilles yang rela membiarkan sukunya sendiri Akhaia kalah demi mempertahankan kehormatannya (baca: Akhilles; Antara Harta dan Kehormatan).

Banyak pertanyaan yang kemudian timbul. Apakah kesetiaan pejuang Akhaia hanya dimanfaatkan untuk membela kehormatan satu orang? Bukankah kesetiaan inilah yang akhirnya memulai perang berdarah yang mematikan itu? 

Bukankah atas nama kesetiaan (kepada Akhilles) Patroklus merasa bahwa ia tak seharusnya ikut membantu Akhaia? Bukankah semua karakter dalam kisah ini—sambil menyaksikan satu per satu pejuang mereka mati—merasakan kesetiaan yang menggebu-gebu dalam dirinya dan menganggap itu sebagai sesuatu yang heroik?

Homerus seperti sedang bertanya kepada kita tentang apa sesungguhnya kesetiaan itu. Apakah kesetiaan itu penuh keindahan atau penuh darah?

Baca Juga: Kontradiksi Zeus

Apa pun jawabannya, kesetiaan lahir dari perasaan kita. Kesetiaan tak berbicara tentang akal, ia berbicara tentang hati. Itulah yang membuat Coon tetap menyeret mayat saudaranya meski ia memiliki kesempatan menghabisi Agamemnon.

Begitulah mungkin yang coba dijelaskan oleh Brennan—secara langsung atau tidak langsung—mengenai fenomena hooligans dalam demokrasi hari iniKesetiaan hooligans membuktikan pilihan politik lahir dari perasaan atau melalui pertimbangan emosional.

Brennan tak sepenuhnya anti terhadap demokrasi. Hanya saja, dirinya khawatir jika semakin banyak warga negara bermental hooligans yang mendasarkan pilihan politiknya pada pertimbangan emosional, bukan pertimbangan rasional. Ini berbeda jauh dengan bayangan demokrasinya yang terinspirasi dari nilai-nilai Plato yang selalu menekankan pada akal dan pengetahuan.

Kesetiaan pada pilihan politik juga bisa mematikan nalar kritis. Hooligans selalu asyik berdebat untuk mempertahankan pilihan politiknya, bukan untuk membuka diskursus tentang sosok atau kebijakan terbaik bagi masyarakat. 

Kematian nalar kritis akan menjerumuskan masyarakat demokrasi ke jurang paling dalam. Ia berpotensi melahirkan pemimpin yang memberangus kebebasan dan dibela oleh para hooligans yang begitu setia dengan pilihannya.

Kematian nalar dan kesetiaan berlebih pula yang membuat Patroklus lupa dengan pesan penting ayahnya.

“Putraku, Akhilles lebih baik darimu meski kamu lebih tua darinya. Akhilles memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat dari dirimu. Tapi kamu bisa menasihatinya. Bimbinglah dia, bahkan saat ia bertarung. Akhilles akan mendengarkanmu,” ujar Nestor mengingatkannya.