Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.

Homeopati (homeopathy) adalah cerminan dari hadis tersebut. Mengapa? Karena homeopati menyembuhkan penyakit menggunakan obat yang dibuat dari penyakit itu sendiri. 

Homeopati memang kurang didengar di telinga masyarakat Indonesia karena di Indonesia jarang dipakai.

Sebelum membahas lebih dalam, kita harus tahu apa itu homeopati. Homeopati berasal dari Bahasa Greek, homeos yang bermakna serupa, dan pathos yang berarti penyakit.

Homeopati adalah like cures like, yang sama menyembuhkan yang serupa, yakni penyembuhan penyakit dengan obat yang diturunkan dari racun atau zat berbahaya yang menyebabkan tanda dan gejala kompleks yang sama.

Ada satu prinsip yang menarik dan unik dalam homeopati, yaitu prinsip potensi yang berbanding terbalik dengan konsentrasi zat.

Sebuah mother tincture—biang larutan yang dibuat dari ekstrak bahan asli obat—diambil 1 tetes, lalu diencerkan di dalam 99 tetes alkohol, maka ia disebut obat dengan potensi 1. Kemudian, 1 tetes obat potensi 1 yang ditambahkan pada 99 tetes alkohol akan membentuk obat potensi 2.

Seterusnya, setetes obat potensi 2 yang dicampurkan pada 99 tetes alkohol akan tercipta obat potensi 3. Jika proses ini diulang sampai 30 kali, maka terciptalah obat potensi 30. Makin encer makin tinggi potensinya.

Pada prinsipnya, homeopati adalah metode penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh zat beracun dengan obat dari zat yang sama di dalam bentuk yang sangat terlarut.

Pada sakit perut, potensi rendah dapat bekerja dengan baik. Untuk kelainan saraf, biasanya potensi 200 atau lebih diperlukan. Pada suatu kanker, potensi yang jauh lebih tinggi diperlukan.

Potensi homeopati bergantung pada level-level penyakit yang akan disembuhkannya yang justru meningkatkan potensi adalah menurunkan jumlah zat terlarut. Prinsip ini berbeda 180 derajat dengan obat kedokteran modern yang umum digunakan saat ini.

Jika meninjau dari sudut pandang fisika, bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal jika suatu racun yang menyebabkan gejala penyakit justru mampu menyembuhkan. Karena saat ini dunia tengah membicarakan apa yang disebut sebagai nanopartikel.

Nanopartikel adalah keadaan ketika suatu materi berada dalam ukuran mendekati 1 sampai 100 nanometer. Jika sehelai rambut diambil, lalu dibelah menjadi 10.000 bagian. Maka sebesar itulah ukuran nanopartikel.

Pada 2011, sebuah pengamatan dilakukan pada suatu sampel homeopati (Colchicum 15cH) menggunakan mikroskop elektron. Peniliti memperoleh hasil, pada sampel tersebut nampak butir-butir partikel. Mereka berada dalam skala 50-200 nm yang tidak lain adalah nanopartikel yang terlarutkan.

Hasil scanning electron microscope (SEM) Colchicum 15cH (obat homeopati) yang menunjukkan nanopartikel

Ketika mother tincture homeopati dilarutkan dalam pelarutnya, ia akan tersebar dan terdistribusi merata di dalam larutan.

Pada potensi 1 terdapat perbandingan jumlah partikel 1/100 dengan larutan. Pada potensi 2 perbandingannya menjadi 1/10.000. Dapat dibayangkan pada potensi yang lebih tinggi, partikel “ibu” tersebut tersebar secara merata dalam konsentrasi yang sangat kecil.

Jika partikel memiliki cukup kemungkinan untuk terbagi rata, maka dalam setiap volume skala nano larutan itu terdapat setidaknya satu partikel “ibu” yang terlarut di dalam pelarutnya. Di sanalah nanopartikel homeopati hadir.

Materi dalam ukuran nano memiliki sifat yang berbeda secara biologis, fisika, dan kimia dibanding materi berukuran besar. Reaktifitas, efek penyerapan protein dan DNA, elektromagnet, optik, termal, dan efek kuantum, sifat itu semua terjadi secara berbeda pada nanopartikel.

Misalnya, logam emas yang dikenal tidak reaktif justru menjadi katalis reaksi kimia dan bersifat magnetis pada ukuran nano. Maka tidak heran lagi jika homeopati dengan ukuran nano itu mampu berubah dari sebuah sumber penyakit menjadi obat penyakit itu.  

Pengobatan homeopati yang tersirat akan nanoteknologi ini ditemukan oleh Dr. Samuel Christian Friedrich Hahnemann yang lahir di Saxony pada 1755. Sedangkan istilah nanoteknologi mulai muncul pada 1980. Siapa yang menyangka, obat nanoteknologi ini telah digunakan sejak dua abad silam.

Homeopati masih kontroversial karena prinsip pengencerannya itu, ada yang percaya pada pengobatan alternatif itu sehingga penyakit yang diderita sembuh dan juga ada yang membantah pengobatan alternatif tersebut dikarenakan tidak sesuai dengan persyaratan yang ada di farmakologi modern.

Menurut pandangan penulis, homeopati akan semakin diakui bila bukti-bukti lain mengenai nanopartikel dalam homeopati telah dimengerti.

Walaupun memancing banyak berdebatan, homeopati telah digunakan di negara-negara negara Eropa, Asia Selatan, Amerika Utara, dan juga Amerika Selatan. Hingga sekarang, homeopati tetap terus dikembangkan.

Dapatkah manusia dengan seluruh kemampuannya menguak rahasia-rahasia lainnya yang terkandung di dalam homeopati ini? Akan ada banyak tabir karena,

Katakanlah, ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhan-ku, niscaya akan habis lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahan.' (Q.S. Al-Kahfi : 110) 

Referensi :

  1. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, 2005, Homeopathy, Islam International Publications Ltd, Surrey, hal 2-3.
  2. Douglas Natelson, 2015, Nanostructures and Nanotechnology, Cambridge University Press, Cambridge, hal 3.
  3. Rajendra Prakash Upadhyay dan Chaturbhuja Nayak, 2011, Homeopathy Emerging as Nanomedicine, Int J High Dilution Res, 10, 37, 299-310.
  4. Iris R. Bell dan Mary Koithan, 2012, A Model for Homeopathic Remedy Effects, BMC Complementary and Alternative Medicine, 12, 191, 1-21.
  5. Iris R. Bell, 2012, Nanoparticles, Adaptation and Network Medicine: An Integrative Theoretical Framework for Homeopathy, HRI Research Article, 17.
  6. E. Roduner, Size Matters: Why Nanomaterials Are Different, Chemical Society Reviews, 35, 583-592.
  7. WHO, 2009, Safety Issues in The Preparation of Homeopathic Medicines, http://www.who.int/medicines/areas/traditional/Homeopathy.pdf, diakses pada 14 Februari 2019.
  8. Elmira Rachma, 2018, Kontroversi Terapi Homeopati Untuk Sembuhkan Berbagai Penyakit, http://jurnal.unpad.ac.id/farmasetika/article/view/16794/8097, diakses pada 14 Februari 2018.