"Aku berterima kasih pada hobiku karenanya aku bisa kenal dengan dirinya."

"Aku berterima kasih pada hobiku karenanya aku bisa saling tegur dengannya."

"Aku beterima kasih pada hobiku karenannya aku bisa tahu rasanya kehilangan."

"Aku berterima kasih pada hobiku karenanya aku bisa tahu ini yang dinamakan cinta."

Pagi itu aku penuh semangat berangkat ke sekolah, entah kenapa tapi mungkin karena aku merasa bangga karena sudah menjadi kakak tingkat di sekolah walaupun masih kelas 2 SMA. Sampai di sekolah, aku langsung menuju kelas karena waktu sudah menunjukan pukul 07.33 dan di pikiranku bahwa ini sudah sangat terlambat.

Beruntungnya ketika aku masuk ternyata belum ada guru, yang ada hanyalah kakak-kakak pengurus dari rohis (kerohanian islam) yang sedang membagikan kartu kawan untuk kegiatan yang akan dilaksanakan bulan depan pada saat bulan puasa nanti.         

Aku segera mengambil kartu kawan tersebut karena ingin mengikuti kegiatan ini selama 3 hari sekalian untuk menambah pengetahuan tentang keagamaaan dan juga mencari pengalaman.

Jam menunjukan pukul 10.00 menandakan istirahat pertama, aku dan 3 orang temanku pergi ke kantin untuk membeli makan, kebetulan aku juga belum sempat sarapan ketika berangkat sekolah tadi.

"Wih...cakep juga adik kelas itu.” Kata teman yang di sebelah kiri ku.

"Mana?” Tanyaku bingung.

Terlihat perempuan berkulit putih yang sedang berdiri diluar kantin itu bersama 2 orang temannya.Tapi wajah perempuan yang kulihat itu seperti tidak asing lagi bagiku. Aku berpikir mungkin dia adalah teman lamaku tapi aku lupa aku pernah melihatnya dimana sebelumnya. Entahlah, aku tidak bisa lagi mengingatnya

Jam menunjukan pukul 13.30 siang menandakan istirahat kedua, aku mengajak teman-temanku yang muslim pergi ke musholah sekolah untuk melaksanakan shalat dhuzur berjamaah. Selesai shalat kami duduk berbincang-bincang didepan rohis sambil menunggu jam 2.00 untuk kembali masuk kelas..

“Bro cewek yang tadi di kantin itu” Kata temanku. 

”Oh iya, kenapa bro kamu naksir yah sama dia ?” Tanyaku bercanda.

“Sembarangan kamu, enggak lah. Tapi kalo di perhatikan cantik juga yah.” Canda temanku. Aku dan teman-teman pun tertawa karena tingkahnya. Terlihat perempuan itu berjalan malu-malu ketika memasuki musholah.

Wajah perempuan itu selalu membuatku penasaran entah kapan dan dimana aku melihatnya. Sepertinya aku juga setuju dengan kata temanku tadi bahwa dia memang lumayan cantik.

Jam menunjukan pukul 15.45 sore dan itu waktunya pulang sekolah. Sangat melelahkan jika sistem sekolah fullday dilakukan. Aku rasa semua siswa akan sangat kelelahan dan tertekan. Tapi apa boleh buat, mungkin itu merupakan keputusan terbaik yang sudah diambil dinas pendidikan.

Sore itu aku disuruh wali kelasku untuk membawa tasnya sampai keruang guru. Aku mengajak teman-temanku untuk menemani supaya setelah itu kami langsung pulang.

Hampir mendekati ruang guru, aku melihat 3 perempuan tadi sedang berjalan berlawanan arah dengan rombonganku. 

“Itu dia aduh itu dia.” Bisik temanku. 

“Terus kenapa ? kamu memang betul suka sama dia ?" Ujarku sambil bercanda.

Ketiga perempuan itu pun semakin dekat dengan rombonganku. Kulihat perempuan yang disukai temanku itu menunduk kebawah dan kedua temannya seperti memegang pundaknya, pandangan mereka pun mengarah padaku sambil tertawa kecil dan berbisik pada teman mereka yang menunduk itu.

Temanku hanya terpaku pada perempuan yang berjalan sambil menunduk itu, dia tak menyadari hal lainnya. 

“2 cewek yang barusan lewat itu teman kamu ?” tanya si Jovi dari belakang.

”Ah gak kok, aku gak kenal sama mereka bertiga” ujarku.

“Ah bohong, buktinya mereka tadi ketawa ke arah kamu”, sahut Deon dengan nada tinggi.

“Ah masa sih ?” tanya Satria kebingungan. 

"Iya Sat, mereka tadi kayak kenal Meizar" kata Deon dan Jovi serentak.

”Hm... mungkin banyak yang salah pada mukaku hahaha” ujarku bercanda, kami pun tertawa terbahak-bahak. 

“Hus...ribut kalian ini.” Tegur wali kelasku karena tingkah aku dan teman-teman.

Setelah meletakan tas di lemari, aku dan teman-temanku berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore dan aku juga sudah kelelahan. 

“Bu, kami pulang dulu yah” ujar si Jovi, 

“Iya. Hati-hati kalian di jalan yah, terima kasih sudah membantu membawa tas ibu” balas ibu,

“Iya bu, kami permisi dulu selamat sore”.

Pukul 17.15 sore sesampainya dirumah, aku langsung berbaring di tempat tidur karena kelelahan dengan sekolah yang seperti ini. Tapi aku teringat pepatah yang mengatakan

"Berakit-rakit kehulu

Berenang-renang ketepian

Bersakit-sakit dahulu

Bersenang-senang kemudian."

Aku yakin hasil tidak mengkhianati usaha. Aku percaya sesuatu yang luar biasa itu memang harus melewati proses yang matang dan tidak gampang, karena itu aku harus bekerja keras dari sekarang agar aku bisa mencapai cita-citaku.

Waktu menunjukan pukul 18.00 saatnya untuk menunaikan shalat maghrib. Selesai shalat aku menyalakan komputer untuk mengerjakan tugas yang akan dimasukan besok. Tetapi, pikiranku dikacaukan oleh deretan peristiwa yang terjadi pada hari itu.

Sepertinya ada yang mengganjal dipikiranku. Apa karena rasa penasaran terhadap 3 perempuan itu ? apa mungkin rasa penasaranku dengan perempuan yang dinaksir temanku itu ? yang menurutku itu bukan orang yang baru pertama kali aku lihat.

Bersambung…..