Konon, menurut Arham Rasyid, salah satu tanda kamu mulai tua adalah ketika kamu mulai suka bertanam dan saat ini sepertinya saya sedang menuju ke arah sana. Saya dan teman-teman sekantor terutama yang perempuan sedang dilanda "demam bertanam": dari anggrek yang perawatannya agak rumit dan harganya lumayan mahal sampai kembang krokot yang murah dan mudah ditanam di mana saja.

Saya pribadi sebenarnya bukanlah pencinta bunga, tapi pencinta pohon buah. Mempunyai rumah dengan banyak pohon buah adalah cita-cita saya semenjak kecil. Jika akhir-akhir ini saya mulai membeli bunga, itu semata agar nuansa rumah agak "berwarna" dan pemandangan tak monoton hijau daun saja.

Karenanya, sebagai pemula, pilihan saya jatuh pada kembang krokot. Tentu saja alasannya karena perawatannya mudah dan harganya murah. Yang pasti, saya tak akan terlalu menyesal jika tanaman itu mati. Jangan ditiru, jelas ini adalah prinsip orang yang pesimis dan kurang percaya diri.

Bukan apa-apa, dalam soal tanam-menanam, saya nyaris tak punya pengalaman menyenangkan. Menanam tanaman sederhana semacam cabai pun saya sering gagal. Jika keberhasilan menanam ditentukan karena garis keturunan, maka saya bakal gagal di babak pertama karena keluarga saya bukanlah keluarga agraris.

Jika keberhasilan menanam ditentukan karena bakat, maka boleh dibilang tangan saya ini adalah "tangan panas". Jadi, menanam buat saya lebih dari sekadar mengisi waktu luang, apalagi ikut-ikutan trend, ini adalah sebuah pertaruhan besar.

Seolah pekerjaan di kantor dan di rumah kurang banyak, baru-baru ini saya dan teman-teman membeli starter kit untuk menanam sayuran secara hidroponik. Starter kit itu isinya lengkap mulai dari media, bibit, sampai pupuk. Kami hanya tinggal mengikuti petunjuk yang tersedia di dalamnya. Meski kesannya mudah, ternyata pada praktiknya tak semudah yang saya bayangkan.

Karena banyaknya acara lain dan cuaca Magetan yang sedang panas-panasnya saat ini, kadang saya lupa mengisi air sehingga ada beberapa tanaman yang mati kekeringan. Selain itu, sepertinya bibit kangkung yang saya tanam juga kurang banyak.

Saya perkirakan, saat panen nanti, kangkung hasil panenan pertama itu jika disetarakan dengan membeli di tukang sayur langganan harganya tak akan sampai seribu rupiah. Sebuah jumlah yang sebenarnya tak setara jika dibandingkan harga starter kit yang jika dibelikan sayur di tukang sayur langganan bakal dapat sekeranjang besar dan bisa mencukupi kebutuhan sayur keluarga saya selama berbulan-bulan.

Tapi yang saya beli sebenarnya bukan barangnya, bukan kangkung atau bayamnya, melainkan "kerepotannya". Starter kit itu kini menjadi mainan baru, "klangenan" kalau orang Jawa bilang. Saya jadi punya kesibukan baru, kewajiban untuk sekadar menengok dan memastikan batang-batang kangkung itu baik-baik saja.

Saya juga bisa merasa sedih atau kesal jika ada batang yang lemas, kering, atau busuk. Jadi ini sebenarnya adalah ironi, mau dapat kangkung seikat yang sebenarnya harganya murah dan mudah didapat saja kok ya mau-maunya saya harus bayar mahal, repot pula!

Tapi itu belum seberapa teman, baru-baru ini saya terkejut melihat kenyataan lain. Jadi ceritanya, teman saya sebutlah namanya Mbak A punya saudara sebutlah namanya Si B. Si B ini ikut event lari di sebuah kota besar. Sekarang kan lagi musim ya, event-event semacam Color Run, Marathon, Night Run, atau Run apalah apalah, dan sekarang juga mulai merambah ke kota kecil semacam Magetan.

Cuma yang membuat saya heran, untuk mengikuti event itu ternyata Si B harus membayar biaya pendaftaran sejumlah Satu Juta Rupiah. Untuk ukuran PNS Daerah Golongan 3 jumlah segitu itu banyak banget! Apalagi kalau cuma untuk ikut "lari bersama-sama", apalagi untuk orang yang tidak hobi berolahraga seperti saya, jangankan membayar, dibayar pun belum tentu saya mau ikutan.

Padahal kabarnya, lari itu olahraga paling murah, terus kenapa jadi mahal?  Biaya pendaftaran itu umumnya ditujukan untuk logistik peserta (kaos, air mineral, dll),  juga untuk biaya pensterilan dan pengamanan jalan selama event dilangsungkan. Biasanya selain berlari, peserta juga disuguhi hiburan musik, pembagian doorprize, serta kegiatan menarik lainnya.

Itulah kenapa, lari kini tak cuma menawarkan iming-iming BUGAR tapi yang lebih penting dari itu adalah PENGALAMAN. Banyak orang berpartisipasi dalam kegiatan lari publik bukan sekadar soal sehat, tetapi juga karena event itu menarik dan populer.

Lari adalah olahraga yang bersifat kompetitif terkait pencapaian diri mereka sendiri. Apalagi di era saat ini dimana semua pengalaman dan pencapaian diri bisa dengan mudah dibagikan melalui media sosial. Ada orang yang ikut event lari hanya untuk bahan instastorynya, tapi pasti banyak juga yang motivasinya lebih serius daripada itu.

Para penggemar lari yang bukan atlet mengikuti event itu bukan untuk mengejar medali atau tujuan profesional lain, tapi lebih pada berusaha mengalahkan lawan terberat yaitu diri sendiri. "Njajal Awak" kalau istilah saya, dan ini sebenarnya tak sebatas untuk oahraga lari saja tapi juga olahraga lain.

Sejauh ini yang pernah saya coba adalah mendaki Gunung Lawu meski hanya sampai Pos 1 saja atau yang rutin dilakukan di Magetan adalah jalan sehat napak tilas Ngunut-Parang sepanjang 18 KM meski tidak saya ikuti secara penuh.

Saat naik gunung dan ikut jalan sehat itu di jalan rasanya ada saja dorongan yang membuat saya ingin segera mengibarkan bendera putih, semacam perasaan anak kecil ketika disuruh puasa penuh untuk pertama kali, Maghrib masih lama tapi es cendol di kulkas melambai-lambai minta diminum, tapi ada perasaan eman jika menyerah begitu mudahnya, dan ada kepuasan tiada tara jika berhasil melewati puasa hari itu sampai Maghrib.

Apalagi kalau orang-orang yang ikut event lari itu tujuannya benar-benar agar tubuh sehat, sebelum race-day didahului dengan latihan, maka race-day adalah hari lebaRUN. Lebarannya para pelari. Hari di mana para pelari merayakan keberhasilannya setelah melewati hari-hari latihan yang penuh perjuangan.

Untuk orang-orang seperti ini, biaya pendaftaran semahal apa pun akan sepadan. Mahalnya biaya sepadan dengan kepuasan yang didapat. Yah, kalau balik lagi ke kangkung "peliharaan" saya di atas, mungkin kangkung hidroponik tadi kalau dimasak rasanya bakal lebih renyah, lebih sehat, dan lebih hijau daripada rumput tetangga karena dipelihara seperti anak sendiri dan dipetik dengan tangan sendiri. It's priceless. 

Jadi, kamu mau ikutan event lari pakai motivasi apa pun, itu sah-sah saja. Kamu mau menanam tanaman apa pun dengan teknik apa pun, juga sah-sah saja. Mau mahal atau tidak itu relatif, asalkan tidak merugikan orang lain, dan yang lebih penting dari itu adalah Asalkan Kau Bahagia.