Manusia dan satwa memiliki hubungan yang purba. Hubungan ini bisa bersifat kolaboratif dan bersifat kompetitif. Pada dewasa ini bentuk hubungan kolaboratif yang bisa kita lihat dari salah satu kegiatan berkaitan hobi memelihara satwa. Hobi ini pun beragam bentuknya bisa dibagi menjadi jenis, jumlah satwa yang dipelihara sampai eksklusifitas ketersediaan satwa itu sendiri misal dari kelangkaan jenis satwa yang dipelihara.

Satwa yang seperti kita ketahui dari sisi habitat dan ketersediaanyanya dapat dibagi menjadi dua, yaitu  satwa yang  berasal dari habitat asli alam liar dan satwa yang sudah dikatagorikan sebagai satwa/hewan ternak yang memiliki habitat yang bergantung pada lingkungan manusia.

Satwa liar yang dipelihara menjadi topik yang menarik  untuk dikaji.  Adanya nilai ekslusif dan ekonomi yang tinggi dalam kegiatan memelihara satwa liar membuat manusia berlomba untuk membuktikan diri di area sosialnya bahwa dia mempunyai kemampuan memelihara satwa tersebut.

Permintaan satwa liar yang tinggi membuat perburuan ilegal terhadap satwa di habitat aslinya meningkat dan mengangkibatkan terancam populasi satwa di habitat aslinya.  Hobi memelihara hewan ini ternyata menjadi salah satu bahan konten oleh beberapa influencer untuk ditampilkan di media yang dia punya. 

Adanya konten semacam ini jika tidak diimbangi oleh penjelasan secara jernih dan menyeluruh oleh empunya akan menimbulkan salah persepsi bagi masyarakat awam. konten tentang satwa  tersebut dapat merugikan langkah konservasi sumber daya hayati khususnya fauna yang semakin hari semakin berat dilaksanakan.

Kegiatan memelihara satwa liar pada asasnya adalah bentuk pemanfaatan oleh manusia itu sendiri terhadap potensi keaneragaman fauna di Indonesia. Pemanfaatan ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan konservasi yang diatur di Undang-Undang No 5 Tahun 1990 dan peraturan turunannya. 

IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) merumuskan daftar yang membahas status konservasi berbagai jenis makhluk hidup, salah satunya satwa (Red List IUCN). Terdapat 9 kategori Red List IUCN berdasarkan jumlah populasi, penyebaran dan resiko dari kepunahan, yaitu, Punah (Extinct ;EX), Punah di alam liar (Extinct in the wild ;EW) Kritis (Critically Endangered; CR), Genting (Endangered ;EN) Rentan (Vulnarable; VU),Hampir terancam (Near Threatened; NT), Beresiko rendah (Least Concern; LC), Informasi kurang (Data Deficient; DD),  dan Tidak dievaluasi (Not evaluated; NE).Daftar tersebut menjadi penting karena sebagai sumber informasi status populasi dan penyebarannya di alam liar ketika ada keinginan untuk memelihara satwa liar. 

Di Indonesia pada kegiatan upaya konservasi sebenarnya diberikan ruang untuk swasta (non negara) sebagai bentuk pertanggungjawaban bersama upaya kelestarian satwa liar. Hal ini adanya saluran resmi jika ada masyarakat yang ingin memelihara satwa liar dengan tujuan konservasi tentunya dapat mengajukan perizinan ke pemerintah. Upaya ini juga sebagai “jalan tengah” untuk mengatasi keterbatasan anggaran negara untuk melindungi satwa liar dan meminimalisir jual beli satwa liar.

Kategorisasi lain adalah satwa liar dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu pertama Apendix 1 dan kedua, Appendix 2. Satwa langka dengan kategori Appendix 1 adalah satwa langka yang jumlahnya kurang dari 800 ekor di alam. Satwa yang masuk dalam katagori ini  menggunakan metode konsevasi yang menitikberatkan pengawetan dan perlindungan, bahkan  satwa liar yang sudah ditangkarkan dan dapat berkembang biak ini tidak boleh dimanfaatkan untuk apa pun dan harus tetap kembali ke kawasan konservasi. 

Kategori Appendix 2 adalah hewan langka yang dilindungi di alamnya. Tidak boleh diambil dan dijual apabila keturunan hewan langka langsung dari alam. Namun,  pada  kondisi satwa tersebut telah melalui proses penangkaran, maka keturunan generasi ketiga atau F2-nya boleh dimanfaatkan.

Ada dua syarat penting dalam hal memelihara atau memperjualbelikan hewan langka. Pertama, Hewan langka yang dimanfaatkan untuk peliharaan atau diperjualbelikan harus didapatkan dari penangkaran, bukan dari alam dan syarat kedua adalah Hewan langka yang boleh dimanfaatkan yang berasal dari penangkaran merupakan kategori F2.

Satwa kategori F2 adalah satwa generasi ketiga yang dihasilkan dari penangkaran. Syarat dalam memastikan hewan yang berhasil ditangkarkan sampai 3 generasi. Bukti generasi ke-3 ini dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang mencakup kandang tempat penangkaran atau pemeliharaan, ketersediaan pakan, dan perlengkapan dalam memelihara hewan yang dilindungi. Syarat lain yang harus ada adalah proses penangkaran ini memiliki Surat Rekomendasi dari kepala BKSDA setempat, jika satwa berasal dari daerah lain.

Pada akhirnya kita sampai pada pemahaman yang jernih bahwa memelihara satwa liar tidak cukup memuaskan ego kita sebagai manusia.  Hobi memelihara Satwa liar tidak cukup selesai adanya kemauan diri saja namun dituntut adanya kemampuan konservasi pada adopter tersebut.

Keberadaan satwa sebagai bagian dari potensi sumber daya alam pada sektor keaneragaman hayati adalah tanggungjawab besar kita semua. Para abdopter tidak hanya memiliki tanggungjawab untuk merawat hewan saja namun harus memiliki kesadaran moral untuk mendukung kampanye perlindungan hewan di alam liar mengingat kerusakan lingkungan yang semakin meningkat setiap tahun.