Mengahapus hoax adalah kegiatan yang tak berguna saat ini, sebab ada hal yang lebih penting daripada menghapuskannya. Yaitu kegiatan mencerdaskan masyarakat luas, membuat masyarakat kritis terhadap isu dan wacana yang beredar pada era internet atau media sosial, yang saat ini lebih disukai masyarakat luas.

Fenomena hoax pada saat ini begitu mendramatisir hati pembacanya, aksi tipu-tipu, memfitnah, propoganda dan saling adu domba adalah kegiatan yang biasa dari hoax. Hoax ini mudah sekali menyebar karena biasanya cenderung lebih greget, bombastis dan disukai masyarakat umumnya. Hoax sendiri sudah menyebar dari berbagai hal dimulai dari berita, pembicaraan, tulisan, Bahasa dll.

Hoax sebuah informasi tak bermakna, lebih cenderung membesar-besarkan, tidak memiliki esensi yang akurat. Karena kebanyakan dari hoax adalah sebuah tempat untuk membohongi orang. Maka dari itu, kemanfaatannya tidak ada sama sekali. Begitu juga dengan pemproduksiaannya yang sangat mudah sekali sebab tanpa adanya kroschek dan rechek.

Ada beberapa fakta besar dalam perhoaxan saat ini. Seperti adanya adu domba, fitnah, saling metuding, tipu menipu dan bersifat negative. Hoax pada saat ini seringkali dikonsumsi masyarakat luas sehingga banyak yang tertipu oleh hoax. Salah satu contohnya, di harian Jawapos.com yang di lansir pada tanggal 13 Januari 2017 memberitakan adanya kebakaran di salah satu pom di sekitar daerah saya.

Di berita itu di jelaskan satuan polisi pamong praja (Satpol PP) menginformasikan kepada pemadam kebakaran setempat kalau adanya kebakaran. setelah pemadam kebakaran datang ketempat tersebut ternyata mereka mendapati hoax, di sana ternyata aman dan tidak ada kebakaran. Ini juga tidak kalah dari masyarakat umumnya terlihat di beberapa media sosial (medsos) banyak sekali yang membagikan kebar hoax tersebut.

Melihat dari contoh tersebut, saya dapat berasumsi masih banyak dari kawasan masyarakat belum mengkroschek secara jelas dan teliti untuk masalah perhoaxan. Bahkan yang saya herankan dari pihak pemerintah masih tertipu dalam kasus contoh tersebut. Seharusnya pemerintah adalah representasi akurat dari sosok yang dibanggakan oleh masyarakat dan terkenal dapat menganalisa kabar akurat sebelum mengabarkannya kepada pemadam kebakaran.

Memang hoax itu dahsyat sekali, dapat menghipnotis seseorang dalam sekejap apalagi ada budi daya langsung telan dalam mengosumsi hoax. Jangan-jangan pihak pemerintah masih ada budi daya langsung telan tersebut? Sehingga menimbulkan kepanikan dalam tingkah laku, dan ingin berbuat layaknya superhero tanpa adanya croschek dan rechek terlebih dahulu.

Memang perlu dicermati tentang hoax ini. Dengan cara membumihanguskan dan menghilangkannya dari peradaban kemanusiaan. Namun saya rasa untuk menghapus hoax itu sulit sekali. Sebab kita telah sepakat dengan payung hukum negara, bawasannya kita bebas berpendapat, berbicara dan berekpresi. Ini sudah termaktub dalam UUD 1945 yaitu pasal 28E ayat (2) dan (3), pasal 2F dan pasal 2I.

Selain dari peraturan konstitusional, bias juga ditemui di Hak Asasi Manusia (HAM) yang di retifikasi melalui UU No. 12 tahun 2005 oleh Indonesia. Ini membuktikan kita sudah mempunyai acuan moral tertentu bersama negara-negara yang sudah mengesahkan HAM. Jadi untuk menghapus hoax saya kira pekerjaan yang berat, apalagi menyalahkan atau menghukum pembuat hoax itu lebih sulit lagi. Karena, mereka (pembuat hoax) juga punya hak untuk membuat informasi tersebut.

Membuat informasi memanglah salah satu hak untuk kita, tetapi patut disayangkan kenapa mereka membuat kabar hoax. Di sini banyak asumsi dalam benak saya sendiri, pasti ada kecenderungan mengapa mereka lebih memilih berita hoax, menyebarluaskan dengan begitu saja. Kalua dicermati lebih lanjut, saya rasa memang ada hal hal yang sedang di incar bagi pembuat hoax, seperti komersial, kekuasaan, dan ideologi-ideologi tertentu pastinya.

Mungkin ada beberapa cara untuk mengatasi ini saya kira, namun bukan mengahapus, memusnahkan, menyalahkan dan menghukum pembuat hoax. Melainkan dengan belajar, agar otak kita (pekonsumsi kabar) tidak tumpul begitu saja terhadap kabar yang berseliwungan diu sekitar kita. Ada lagi kita bisa menelaah secara kritis dalam memilih dan memilah sesuatu, agar tidak terjadi kesalah pahaman sosial.

Dengan begitu kita (masyarakat) dapat mengurangi perhoaxan yang tak bernilai apapun. Setidaknya kita dapat mengantisipasi untuk tidak ikut-ikutan menelan mentah-mentah apa yang telah kita konsumsi dalam kurun waktu yang tak terhingga. Dan cara selanjutnya mengkroschek dan rechek terhadap kabar atau permasalahan yang terjadi.

Saya kira beberapa cara tersebut dapat digunakan oleh kita mengingat era digital saat ini sudah menjadi hal viral. Begitu juga dengan pengguna gadget dan pemakai media sosial yang sudah merambah dari berbagai Kalangan umur seperti anak-anak, remaja, dewasa dan tua.