Teman saya membagikan berita di whatsapp mengenai kegiatan yang harus dilakukan pada hari ini, atau doa-doa yang harus dibaca pada hari itu. Padahal apakah itu benar atau tidaknya masih belum jelas. Saya terkadang suka heran, ketika membagikan sesuatu di grup WA, yang mana sesuatu itu malah justru memprovokasi, dan bukannya menentramkan.

Kebohongan yang dilakukan oleh banyak orang bisa menjadi sebuah kebenaran. Orang membagikan berita tanpa berpikir untuk mengeceknya lagi. Mereka percaya begitu saja, katanya dari teman, dari keluarga, dari grup sebelah, sehingga mereka merasa lebih tepanggil untuk menyebarkan kebaikan itu. Apakah itu kebaikan asli atau palsu, mereka tak begitu perhatikan. Yang mereka perhatikan adalah amal jariyah yang di dapat setelah menyelesaikan kebaikan itu.

Media kini menjadi alat yang bisa digunakan siapapun. Bisa menjadi alat kebaikan atau menjadi alat propaganda, provokasi, menebar kebencian, menanam isu-isu sara dan sebagainya. Media bisa menjadi alat yang berbahaya. Karena kini hampir seluruh masyarakat bisa mengakses media. Media menjangkau orang-orang yang begitu jauh tempatnya. Dengan media, semua orang bisa tahu informasi dimanapun dan kapanpun.

Kita tidak bisa mempercayai sebuah media. Dan bahkan media yang kredibel pun pasti memiliki kepentingan. Disini masyarakat harus mampu menilai. Kalau tidak, bisa sekelompok orang yang ahli di bidangnya yang menilai media, sehingga masyarakat bisa aman dan nyaman dalam mengakses media tersebut.

Media bisa memberitahukan sesuatu yang bohong. Bagaimana orang menipu orang lain melalui sosial media. Bagaimana pemberitaan yang bisa membohongi masyarakat. Pertama kita perlu untuk memilih media mana yang benar-benar dipercaya, walaupun mungkin tidak 100%. Kemudian menakar kualitas dari informasi yang diberikan. Karena kita tidak boleh 100% percaya, perlu untuk dicek dan diverifikasi lagi.

Media memudahkan penyebaran informasi. Kini bahkan informasi di Indonesia bisa diketahui oleh anak kecil di ujung kota Jepang, tentunya jika ia tahu negara kita. Bagaimana kemudian kita bisa memberikan informasi yang baik? Agar orang dari negara lain pun bisa memahaminya dengan baik pula.

Ketika kita mampu untuk menilai suatu informasi maka kita akan bisa mengetahui kebenaran dan manfaat dari suatu informasi. Jangan sampai kita mudah untuk dibohongi, ditipu, diadu domba oleh sekelompok orang atau organisasi, yang mana mereka bertujuan untuk memuslihatkan banyak pihak dan masyarakat. Maka penting adanya pemahaman mengenai literasi media.

Literasi media yaitu bagaimana kita mampu menilai suatu media dan menggunakannya secara bijak. Bagaimana kita menggunakan social media secara wajar. Ketika ada anak-anak atau remaja yang terperdaya pada sebuah persaingan hoaks, informasi bohong pun dikonsumsi dan langsung dibagikan ke teman-teman mereka.

Social media sebagai tempat yang nyaman bagi para hoaker. Hoaker ada yang memang dia bayar untuk itu, dan tentunya ada yang tidak sengaja. Tapi kalau tidak sengaja secara terus menerus, tentunya menjadi pertanyaan, apakah memang tidak ada filter dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peran dari tiga komponen itu seakan-akan lenyap.

Social media tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk curhat dan menuangkan seluruh perasaan pribadi kita tanpa di saring. Apalagi masalah pribadi yang menjadi konsumsi publik pun sebenarnya tidak terlalu mendapatkan perhatian, kecuali rasa kasihan. Karena orang akan membantu, jika dia bisa dan tidak harus lewat publik. Curhat di media sosial tidak baik, karena hal itu bisa mempengaruhi pembaca untuk marah, dan bersifat negatif pula.

Kalau orang berkomentar di social media, mereka seakan bebas, tidak ada yang memarahi, menegur dan mengawasinya secara langsung. Jadi mereka lebih berani untuk mengutarakan pendapatnya, yang tak jarang menyakiti hati. Hal itu masih mending dibandingkan dengan kata-kata kasar bau sampah. Kata-kata itu bersumber dari kedengkiannya terhadap hal yang dibacanya. Ia tak peduli dengan komentar buruknya. Baru setelahnya (mungkin) ia menyesal.

Sayang, penyesalan itu tak berujung lama selain daripada dicari kepolisian. Kalau mereka tak ketahuan, atau merasa aman dari perbuatannya itu. Maka mereka akan terus melakukannya, dan bahkan semakin berani menyampaikan pendapat busuknya.

Istilah yang selaras dengan hoax dalam jurnalistik adalah libel, berita bohong, tidak benar, sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik. Hoax adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan pemberitaan palsu, usaha untuk menipu atau mengakali pembaca supaya mempercayai sesuatu. Pemberitaan yang tidak berdasar pada kebenaran, yang tujuannya untuk lelucon, iseng, hingga membentuk opini publik. Hoax memang menyesatkan, jika pengguna internet tidak kritis dan langsung membagikan apa yang dibacanya (Juditha, 2018:33). Saya memahami apa yang dimaksud hoaks sebagai suatu kebohongan yang bisa menyamar menjadi kebenaran. Sesosok makhluk yang bisa menggerakkan orang lain.

Orang yang suka menyebarkan hoaks sepertinya bisa dibilang sebagai penghasut atau penyebar isu kenegatifan. Ketika kita tidak memahami ataupun menyadari apa yang kita sebarkan, lalu pertanyaannya mengapa kita sebarkan? Apakah kita sangat percaya kepada orang yang memberikan informasi kepada kita.

Literasi dalam hal ini adalah bagaimana kita mampu mengevaluasi diri, mengevaluasi media yang kita gunakan, agar jangan sampai media yang netral dan damai itu mengarah pada jurang kenegatifan. Jangan sampai kita lupa, lalai, lalu aha, kita baru berpikir dan menyadari bahwa informasi itu hoaks.

Biasanya informasi harus dibagikan, karena ia tertutupi oleh rasa benci, seperti pendukung kelompok satu dan dua saat pemilihan presiden. Dimana-mana orang saling membenci, pernyataan kelompok lain dianggap provokasi, kebohongan dan banyak tipu muslihat. Pertanyaan kelompok sendiri dianggap suci dan diamini kebenarannya.

Mau sampai kapan kita terpecah belah oleh dua kelompok yang sama-sama punya kepentingan itu. Kita satu, bangsa Indonesia. Bangsa yang cerdas yang seharusnya mampu memilah-milah informasi. Saya bukan hanya bicara individu, tetapi kelompok. Kita mampu mengelola dan mengendalikan media bersama-sama, entah itu media sosial, media massa, maupun media lainnya.

Ketika kita terlalu benci kepada seseorang, organisasi atau kelompok tertentu. Biasanya kita akan membagikan informasi dari kelompok sendiri, tanpa menganalisis, mengevaluasi dan mengkritisi apakah informasi itu tepat, benar dan relevan, atau malah justru informasi itu menyulut api kemarahan kelompok lain.

Maka harus ada peran orangtua disini untuk membimbing dan menjaga anak dan remaja. Karena kedua insan ini, yaitu anak yang belum menyadari hal-hal buruk di masa depan, dan remaja yang butuh eksistensi diri. Rasanya perlu ada pembelajaran mengenai kemampuan membaca, pemahaman akan literasi dan tentunya mengenai literasi media.

Bagaimana kita mampu memanfaatkan media menjadi positif, menjadi lebih pintar, tahu dan untuk pembelajaran. Media sebenarnya membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Berapa banyak orang yang menuliskan informasi saat ini, banyak sekali sehingga membuat kita overwhelmed.

Tetapi tidak serta merta banyak penulis tadi diimbangi dengan penulis author, atau orang yang cakap dan ahli di bidangnya. Jadi author ialah orang yang tulisannya dapat menjadi rujukan, acuan atau sebagai sumber informasi. Karena tulisan yang banyak tadi, tak jarang membuat kita jenuh.

Biasanya kita akan mencari tulisan yang bersuara. Tulisan yang bersuara itu terjadi, ketika penulis berani mengambil sikap. Seperti yang dikatakan oleh Okky Madasari, ketika penulis berani menentukan sikapnya pada posisi yang mana, maka tulisannya akan bersuara. Kalau tulisannya tidak bersuara, untuk apa? Sudah terlalu banyak tulisan saat ini.

Ketika kita memulai sebuah tulisan maka media yang ada bermacam-macam. Seperti koran, website, buku, jurnal dan sebagainya. Media ini adalah sebagai alat untuk menyimpan dan menyebarkan informasi. Tapi informasi yang disebarkan malah bohong, maka harus ada yang berperan sebagai penyaring, ini adalah peran dari perpustakaan

Karena sudah seharusnya perpustakaan menyediakan, mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber informasi berkualitas. Dengan adanya perpustakaan, kita dapat menemukan referensi, rujukan, untuk tulisan yang kita buat. Referensi yang membangun pikiran kita. Dan untuk itu diperlukan proses membaca. Membaca adalah literasi. Jadi kembali ke awal, literasi penting, peran dari keluarga, perpustakaan dan masyarakat yang bersatu, untuk kemudian menangkal penyebaran hoaks yang bisa saja meluas kapanpun.


Daftar Pustaka

Juditha, Christiany. 2018. Interaksi Komunikasi Hoax di Media Sosial serta Antisipasinya Hoax Communication Interactivity in Social Media and Anticipation. Diakses https://media.neliti.com/media/publications/261723-hoax-communication-interactivity-in-soci-2ad5c1d9.pdf, tanggal 24 Oktober 2019.