Single Parent
2 bulan lalu · 1100 view · 4 menit baca · Politik 75371_22396.jpg
ANTARA Foto

Hoaks Prabowo Menang di Luar Negeri

Sore tadi, sebuah pesan WhatsApp masuk, berisi link berita sebuah portal berita besar yang menulis tentang penyelenggaraan Pemilu di luar negeri. Di bawahnya, ditulis perolehan suara pemilu presiden.

Ketika link dibuka, ternyata tak ada hasil penghitungan suara. Isi berita juga hanya pernyataan KPU bahwa penyelenggaraan pemilu di luar negeri lancar. Tak ada hasil penghitungan suara, apalagi persentase yang menyebutkan bahwa Prabowo sukses mengungguli Jokowi.

Namun ada pula berita bohong yang dilakukan dengan menempel teks di bawah tautan berita yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Jadi berita bohong ini ada dua versi. 

Redaksi Liputan6 segera bergerak, menghubungi KPU dan meminta klarifikasi soal tempelan teks itu. Karena memang dalam konten tulisan tak ada hasil pemilu yang ditulis. Tak sampai 30 menit, klarifikasi berita sudah tersaji. 

Liputan6 kali ini yang ditumpangi penyebar berita bohong. Ke depan, sangat mungkin media-media yang kredibel dan terjaga netralitasnya yang akan menjadi korban.

Berita bohong atau hoaks itu mengingatkan saya pada uang pecahan seratus ribuan. Pada awalnya, pecahan seratus ribu dicetak dengan kertas paling berbeda, dengan teknologi paling canggih. Bahannya serupa plastik. Tetapi ternyata ia menjadi uang yang paling rentan dikabarkan mudah dipalsu. 


Alhasil, publik menempuh cara radikal: menolak pembayaran dengan pecahan seratus ribuan. Nggak ada urusan asli atau palsu.

Dari dua hal itu, menunjukkan bahwa talenta bangsa menjadi pemalsu sangatlah besar. Apa sih di Indonesia yang tak bisa dipalsu? Jam, sepatu, spare part, kaos, duit, lukisan, oli, makanan, jamu, obat kuat, bahkan narkoba sekalipun bisa dipalsu.

Memalsu, meniru, memodifikasi adalah bakat alami manusia Indonesia. Karenanya, mobil dan sepeda motor tua nyaris tak ada yang pensiun dan masih mondar-mandir di jalan raya. Ini bukan soal kemiskinan semata, tetapi juga karena kemampuan menyiasati barang yang mestinya sudah pensiun kembali menjadi muda.

Bengkel mobil dan sepeda motor yang terbaik adalah yang mampu menyiasati kerusakan onderdilnya, yang bengkel resmi saja sudah angkat tangan.

Sebaran berita bohong yang menyebutkan Prabowo mendominasi pemilihan umum di luar negeri sebenarnya juga refleksi bahwa masih ada manusia yang tidak sabar berproses. Seperti memelihara tanaman hias, ada yang salah tempat, maka ia tak bisa berkembang sesuai khitahnya.

Tanaman yang rakus panas namun diletakkan di keteduhan, jelas akan gagal menghadiahi keindahan. Tanaman yang suka teduh tetapi terpapar sinar matahari terus, juga tak bisa berkembang.

Tanaman hias ini serupa dengan partai politik di Indonesia. Sama warnanya bisa pecah. Dari Golkar lahirlah Gerindra, Nasdem, Perindo, PKPI, Hanura, dan masih ada lagi. Dari PDI menjadi PDIP, PNI, PDP, dan entah apa lagi. Sama-sama berniat baik, bermacam cara mewujudkannya.

Nah, ketika tanaman hias ini dipindah sesuai kebutuhannya, yang suka panas ketemu panas, yang suka teduh ketemu teduh, maka proses akan berjalan. Namun jangan harap perubahan akan terjadi segera.

Tanaman itu secara fisik pasti akan tetap seperti semula: merana, menderita, dan mengundang iba yang memandangnya. Tetapi tunggulah, dibalik batang yang disangka mati itu, ada pokok tanaman yang segar. Benar kiranya, itu adalah tanaman sehat, hanya memang belum bersemi.

Lalu lihatlah apa yang terjadi ketika tunas-tunas baru tumbuh? Perubahan dari layu, kering menuju ke rimbun dan berbunga sangatlah pesat.


Makin hari perubahan itu kian nyata. Ternyata memang tidak ada perubahan yang seketika. Ketidaksabaran terhadap perubahan inilah watak dasar manusia yang sering melahirkan bermacam-macam masalah.

Dalam pemilu, bisa melahirkan berita bohong alias hoaks; di dalam birokrasi, bisa memancing korupsi yang membangkrutkan negara. Bahkan ada pula yang mengantar masuk penjara seperti Bowo Sidik Pangarsa yang ditangkap KPK beserta 400 ribu amplop yang siap dibagi.

Perubahan, jika diukur dengan ketergesaan, justru terasa sangat lambat.

Kembali ke soal tanaman tadi. Saat bonggol meranggas itu mulai bertunas. daun-daun berikutnya menyusul cepat sekali. Bahkan mungkin di luar ekpektasi ketika lupa menyambangi malah menunjukkan kuncup bunga.

Perubahan memang sulit di langkah pertama. Ketika yang pertama telah dijatuhkan, kedua dan ketiga akan mengikuti dengan sendirinya. Tanaman hias itu mengajarkan segala sesuatu jika berada sesuai tempatnya. Tak peduli betapa pun lambat, ia akan berubah juga.

Maka ketika sebuah partai politik dilahirkan dalam sebuah sistem yang korup, maka ia juga akan berubah menjadi korup, seideal apa pun cita-citanya.

Sedangkan pelajaran dari uang pecahan seratus ribu itu jelas, bahwa gosip dan isu masih menjadi primadona di Indonesia. Ketika masyarakat sudah mulai membangun sebuah kepercayaan, tiba-tiba muncul satu kata, palsu, maka semua akan buyar. 

Paranoia menjadi virus yang menakutkan. Virus yang membuat masyarakat gampang dibuat linglung dan cenderung lebih mempercayai gosip ketimbang fakta.

Penyebabnya sepele. Pertama, masyarakat telah terlalu banyak ditipu. Korban penipuan yang terus-menerus ini membuat mereka nyaris menjatuhkan mosi tidak percaya kepada apa pun dan siapa pun. Jika ia melihat pejabat kaya, ia hanya punya satu kata: korup.

Kedua, betapa rendah minat masyarakat kita untuk memiliki kebiasaan membaca dan mengumpulkan fakta. Inilah yang dimanfaatkan penyebar hoaks hasil Pemilu di luar negeri. Penerima pesan tak mau mengeklik atau membuka tautan yang disertakan, tetapi hanya membaca teks yang ditambahkan.


Sesungguhnya kebiasaan membaca memiliki sumbangan penting untuk membentuk mental skeptis, mental tidak gampang percaya, dan terus mempertanyakan setiap alasan dari setiap kejadian. Tetapi watak yang lebih suka bertanya daripada membaca itu adalah hulu dari watak-watak berikutnya. Lebih suka dicekoki katimbang mengeksplorasi. Lebih bisa membuat tiruan daripada menemukan. Lebih suka mengonsumsi daripada memproduksi.

Olala, ternyata amat sangat banyak tugas yang belum diselesaikan. Dari semuanya, yang paling mendesak hadirnya pihak yang bisa dipercaya. Bagaimana publik akan suka menyimpan uangnya di bank jika bank saja bisa dibobol? Bahkan ada uang palsu dalam mesin ATM.

Jadi, kesimpulannya, terlalu banyak pihak yang gagal dipercaya yang akhirnya bersintesis menjadi sumber kekacauan adab bernegara.

Artikel Terkait