Di Kabupaten Banyuwangi, Jatim, seminggu ini diresahkan oleh informasi simpang siur perihal aktivitas kriminalitas yang akan dilakukan secara terstruktur dan sistematis dengan menurunkan sejumlah orang di perbatasan Kecamatan Genteng dan Kecamatan Gambiran.

Informasi berbentuk pesan suara tersebut sudah terlanjur meluas dengan cepat dan meresahkan masyarakat sekitar. Berikut kurang lebih pesan suara tersebut yang sebelumnya menggunakan Bahasa Jawa dan saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia. 

Perhatian! Perhatian! Hati-hati malam ini akan disebarkan maling-maling dari (Kabupaten) Jember sebanyak dua mobil yang akan dimasukan dan disebarkan ke Canga'an. Jangan tidur para warga, ini bakalan ramai disebar maling-maling dua mobil dari Jember. Hati-hati rumahnya masing-masing.

Pesan suara tersebut terendus dan sempat diberitakan oleh JTV, media televisi lokal dengan segmen acara Sego Tempong. 

Dalam pemberitaan itu, tampak pesan suara yang bernada peringatan membuat warga nampak siaga berjaga malam dan tengah terjadi empat percobaan pencurian di kawasan Kecamatan Gambiran. Termasuk informasi percobaan pencurian yang dialami Sriyatun, warga Dusun Krajan, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. 

Bila boleh mengoreksi, terdapat beberapa kekurangan dalam pemberitaan tersebut. Paling mendasar adalah laporan tersebut hanya berkutat pada latar peristiwa saja pada korban percobaan pencurian yang dialami Sriyatun tanpa ada verifikasi lebih mendalam kepada aparat desa dan kepolisian setempat.

Namun pemberitaan yang memuat perihal pesan suara bernada peringatan tersebut benar adanya setelah saya konfirmasikan kepada kerabat di sekitaran lokasi. Keresahan ini semakin menguat dan meluas dengan diiringi penyebaran beberapa foto dan video aksi kekerasan perihal tertangkapnya beberapa oknum yang diduga melakukan pencurian.

Video pertama, memuat berdurasi 30 detik berisi tentang sebanyak 9 anak muda yang berjalan dengan posisi berjongkok di suatu tempat. Selain itu, tangan mereka berada di atas kepala dengan kondisi muka babak belur seperti usai dihakimi massa.

Video kedua berisi seorang pria yang juga terduga oknum pencurian yang dihakimi massa sampai babak belur. Dalam kondisi luka-luka yang dialaminya pria tersebut nyaris merengang nyawa. Terlihat dari napasnya yang tersenggal-senggal dalam kondisi nyaris telanjang. Dalam video berdurasi 28 detik tersebut juga memuat kata umpatan bernada kesal kepada pria yang terkapar dalam suasana bulan Ramadhan.

Selasa, 28 April, seorang kerabat anggota kepolisian setempat mengatakan Polresta Banyuwangi menangkap pelaku penyebaran pesan suara yang dianggap meresahkan. Dalam rilis tersebut pelaku berinisial K berasal dari Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran.

K yang saat itu melakukan rapat bersama tokoh masyarakat di dusunnya mengaku tidak membuka telepon genggamnya. Kala rapat usai dan membuka telepon genggamnya, banyak beredar video penangkapan pencuri yang dihakimi massa. Beberapa video diantaranya adalah dua video yang saya ulas di atas.

Barangkali merasa cemas dengan kondisi keamanan desanya, K membuat pesan suara bernada peringatan. Namun dasar statement perihal kedatangan sejumlah oknum pencuri dari Jember tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Kepada kepolisian, kasus ini dihentikan dengan meminta K melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Hoaks dan Kecemasan Publik

Konsekuensi selanjutnya yang terjadi adalah nalar publik, khususnya di dua kecamatan yang sempat saya sebut kembali memukul keras logika pemerintah tentang program asimilasi kepada napi di tengah kondisi pandemi korona. Namun demikian, program tersebut memang perlu dikoreksi dan dikritik dalam kondisi di tengah pandemi korona. 

Sebanyak tiga puluh ribuan napi yang dibebaskan, meski tidak secara keseluruhan, beberapa napi ada yang melangkah ke arah positif. Namun, tidak menutup kemungkinan sisa napi yang lain masih kembali ke arah yang negatif dengan menghidupkan dan menciptakan jaringan kriminal baru dan metode baru.

Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah kala Polri mengumumkan pada (20/4/20) tengah terjadi peningkatan kriminalitas dalam dua pekan terakhir terutama pada pekan 15 dan pekan 16 tahun 2020 sebanyak 11,80 persen.

Peningkatan tersebut terkait dengan dua faktor. Pertama, pembebasan lebih 30-an ribu narapidana untuk asimilasi. Pembebasan itu dengan dalih mencegah penyebaran wabah korona di dalam penjara yang sudah mengalami kelebihan kapasitas. Seiring dengan itu, terjadi peningkatan pemberitaan penangkapan residivis sekaligus eks napi yang menerima asimilasi.

Kedua, disebabkan meningkatnya jumlah orang miskin dan pengangguran. Kebijakan PSBB di beberapa kota dan lainnya mengakibatkan semakin banyak orang tidak bekerja sementara mereka dan keluarga perlu makan. Kuat dugaan sebagian mereka tergoda menempuh jalan pintas dengan melakukan aksi kriminal. 

Di tengah rapuhnya perekonomian dalam negeri dan ketidakberdayaan masyarakat kelas menengah ke bawah akan kebutuhan hidup (pangan) sampai keamanan adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini. Penyebaran hoax kriminalitas yang barangkali juga terjadi di kota-kota lain dalam kondisi seperti ini tentunya dapat memperkeruh kecemasan publik. 

Namun, sepenuhnya mengambing-hitamkan eks napi atau orang-orang yang terpaksa melakukan tindakan kriminal di masa pandemi Covid-19 ini juga bukan hal bijak seperti halnya yang sudah dilakukan oleh K dengan hoax yang disebarkannya. Sekalipun tindakan kriminal juga tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun.

Hal paling mendesak untuk dilakukan adalah seluruh masyarakat saling membantu sesama dengan memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada masyarakat yang paling membutuhkan. 

Sikap kewaspadaan juga perlu ditingkatkan di lingkungan masing-masing guna menjaga dan menciptakan rasa aman. Selain negara juga harus turun tangan mengatasi problem sosial sehingga aksi-aksi kriminal yang disebabkan keterbatasan ekonomi dapat diminimalisasi.