Mahasiswa
6 bulan lalu · 37 view · 4 menit baca · Media 44218_94712.jpg
pixabay.com

Hoaks di Musim Penghujan

Hujan pun telah datang menghampiri bumi ini. Hujan memang datang dengan mempunyai maksud untuk membersihkan pelbagai macam debu yang berada di mana pun itu, sehingga ketika hujan itu datang dari langit dan menghampiri bumi ini, maka udara segar pun seketika menghampiri untuk dihirup oleh mahluk yang menjadi penghuni tetap di bumi yang antah berantah ini. 

Ketika musim penghujan datang di negeri ini, ternyata masyarakat bukan menikmati musim penghujan dengan khidmat, tetapi nahasnya masyarakat justru dihampiri oleh epidemi kebohongan yang selalu beredar di dunia maya. Padahal musim penghujan adalah musim yang sangat indah untuk dinikmati bersama-sama tanpa adanya gangguan dari mana pun itu.

Terlebih lagi pada saat ini, musim penghujan juga datang bersamaan dengan musim politik yang semakin tegang. Jadi apalah arti musim penghujan jika selalu di ganggu dengan sekolompok orang yang selalu membuat polusi di media sosial.

Di saat musim penghujan seperti ini, tiba-tiba berita hoaks menjadi parasit yang menggerogoti ruang publik di negeri ini. Padahal hukum maupun kegiatan sosialisasi selalu menjadi watch dog (anjing penjaga) agar tidak ada lagi tersebarnya berita hoaks, tetapi tetap saja yang namanya hoaks ya tetap hoaks, dan pada akhirnya pun hoaks menjadi bangkai yang menciptakan bau busuk di musim yang sangat indah ini. 


Buktinya saja kemarin, berita hoaks mengenai penculikan anak dan jatuhnya pesawat Lion Air sempat menghebohkan media sosial, terlebih lagi bukannya mencegah berita hoaks menjadi tersebar, tetapi yang lebih mengenaskan lagi beberapa orang yang tidak bertanggung jawab tersebut justru menyebarkan berita tersebut dengan mempunyai motif prihatin terhadap para pengguna media sosial lainnya. 

Memang tanpa dipungkiri para pengguna media sosial di negeri ini cenderung lebih memilih untuk menutupi akal sehatnya dengan rasa empati yang salah kaprah, sehingga hal itu yang menjadi penyebab mengapa kecerdasan masyarakat Indonesia dalam bermain media sosial di negeri ini semakin tumpul pada setiap tahunnya.

Eudomonisme dalam Menggunakan Media Sosial

Media sosial memang saat ini sudah menjadi tuhan bagi masyarakat yang setiap harinya sudah menjadikan media sosial sebagai sosok yang harus di puja dan di puji dalam setiap hembusan nafasnya. Sharing informasi juga sering dilakukan bagi semua orang yang menganggap bahwa informasi tersebut merupakan informasi yang sangat penting. 

Tetapi dinamika interaksi di media sosial sering kali berdampak buruk terhadap akal sehat masyarakat yang selalu dikalahkan oleh informasi yang tidak lazim. Ketika informasi yang tidak lazim itu datang menghampiri para pengguna media sosial, tiba-tiba karena akal sehat yang dimilikinya tidak sekuat karang, maka tersebarlah informasi tersebut, dan pada akhirnya ternyata informasi tersebut adalah hoaks. 

Jadi pada umumnya, para pengguna media sosial masih menganggap informasi yang tidak lazim adalah informasi yang harus disebarkan, sehingga hal ini berimplikasi terhadap musnahnya kesadaran untuk membedakan informasi seperti apa yang dapat dikatakan benar. Hal ini dibuat semakin pelik, ketika fanatisme dalam bermain media sosial di negeri ini tidak diikuti dengan cara berpikir yang kritis.

Aristoteles merupakan tokoh yang pertama kali menjadi pencetus aliran eudomonisme. Menurut Aristoteles, terdapat dua keutamaan manusia dibandingkan mahluk lain, yaitu keutamaan intelektual (akal) dan keutamaan moral (budi). Keutamaan intelektual menyempurnakan langsung rasio itu sendiri. Dengan keutamaan moral, bersama nalar, menjalankan pilihan-pilihan yang perlu diadakan dalam hidup sehari-hari. 

Aristoteles berpendapat, manusia adalah baik dari segi moral jika selalu mengadakan pilihan-pilihan rasional yang tepat dalam perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam penalaran intelektual. Orang seperti itu adalah orang yang akan mendapatkan kebahagiaan (Vardiansyah, 2008: 101). 

Jadi marilah mengutamatakan akal sehat dan moral kita untuk menggunakan media sosial dalam setiap harinya, bukan justru menjadi manusia yang selalu mengikuti tren kebohongan di media sosial, sehingga pada akhirnya bukannya akal sehat yang bisa mengontrol berita bohong itu, tetapi justru berita bohong lah yang mengatur akal sehat manusia.


Kebenaran Bukan Berasal dari Keprihatinan

Ketika determinasi teknologi sudah tidak bisa menjadi kerabat dekat bagi masyarakat kita, pada akhirnya pesan-pesan yang tidak bermutu pun menjadi bias di dalam ruang publik itu sendiri, karena masyarakat tidak pernah peduli apakah pesan tersebut benar atau tidak. Beberapa fenomena tersebut merupakan gambaran bahwa era Post-Truth telah menghampiri Indonesia.

Era Post-Truth merupakan era yang sering kali didefinisikan sebagai era yang di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik, dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi. Di era Post-Truth, orang tidak lagi mencari kebenaran dan fakta melainkan afirmasi dan konfirmasi dan dukungan atas keyakinan yang dimilikinya.

Pada umumnya masyarakat yang kurang mempunyai kemampuan literasi yang baik, biasanya sering kali menerima berita-berita yang tergolong ke dalam berita yang sangat bombastis. Misalnya saya menulis berita di media sosial bahwa, “Artis Dewi Persik Mabuk Rebusan Pembalut”. Tetapi berita tersebut adalah berita bohong, dan saya membuat seolah-olah berita tersebut adalah berita yang benar. 

Tentu masyarakat yang kurang mempunyai kemampuan literasi yang baik akan membacanya dan menyebarkannya kepada temannya yang lain. Begitu pun dengan berita bohong yang menyangkut rasa emosi para pengguna media sosial, maka tidak menutup kemungkinan berita tersebut akan menjadi tersebar luas.

Oleh karena itu bentuk keprihatinan kita terhadap berita di media sosial jangan di jadikan alasan untuk menganggapnya sebagai kebenaran. Pada hakikatnya, kebenaran yang abadi adalah akal sehat, kita harus menggunakan akal sehat kita dalam bermain media sosial agar tidak tertipu oleh berita bohong tersebut. Jangan jadikan kesalahan sebagai kebenaran, dan jangan jadikan kebenaran sebagai sesuatu yang harus dianggap salah.

DAFTAR PUSTAKA

Vardiansyah, Dani. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Indeks.


Artikel Terkait