Beberapa pekan terakhir ini, kita dihebohkan oleh dokumen yang terlampir dalam buku Menjerat Gus Dur karya sejarawan muda Virdika Rizky Utama. Dokumen tersebut berisi surat rahasia Fuad Bawazir kepada Akbar Tanjung, laporan tentang pelaksanaan Operasi Semut Merah.

Publik begitu heboh dengan isu HMI Connection yang menjadi dalang di balik pemakzulan mantan Presiden Abdurrahman Wahid pada 2001 silam.

Siapa yang tidak kenal HMI? Organisasi besutan Lafran Pane dan 14 kawannya ini tumbuh menjadi salah satu organisasi mahasiswa terbesar yang ada di Indonesia sampai saat ini.

Beberapa tulisan yang mencuat belakangan ini mencoba mengurai akar kemelut permasalahan Gus Dur dengan HMI Connection. Penulis besar Muhiddin M. Dahlan dalam esainya pada salah satu media online mencoba menelusuri kejadian tersebut. 

Dengan menelaah dokumen-dokumen lama, ia memaparkan peristiwa demi peristiwa akar perseteruan HMI Connection dengan Gus Dur kala itu, di antaranya: pertama, ia memulai dari judul sampul majalah Panji Masyarakat terbitan Mei 1994, Gus Dur Tuding KAHMI.

Kedua, kronologi perseteruan KAHMI dan Gus Dur dalam majalah Tiras yang terbit pertama kali pada Januari 1995; dalam hal ini, menempatkan Nurcholis Madjid yang berdarah Masyumi-NU dan merupakan tokoh besar HMI sebagai penengah.

Ketiga, buntut dari pernyataan-pernyataan Gus Dur yang membuat akronim 'ICMI' masuk dalam headline media massa dan cover story majalah-majalah berita tahun 1994.

Keempat, pada laporan Editor No. 14 bertarikh 15 Desember 1990 dengan judul Yang Bergerak di Belakang Layar. Saat itu editornya menyebut tokoh HMI dan PII Imaduddin Abdulrahim berada di belakang pendirian ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Sementara Gus Dur sendiri adalah penentang utama kehadiran ICMI.

Kelima, wawancara Cak Nur yang dikutip secara verbatim oleh Gus Muh dalam majalah Sinar edisi 19 September 1994 berjudul Orang Islam Masih Suka Retorika. Dari pengakuan Cak Nur, nama ICMI diberikan oleh dirinya. Menurut Gus Muh, sikap Gus Dur yang menjauhi ICMI kemungkinan karena ia mengetahui keterlibatan HMI Connection dalam tubuh organisasi tersebut.

Keenam, hubungan kurang harmonis antara Gus Dur dengan Buya Ismail Hasan yang tidak lain adalah bagian dari HMI Connection di tubuh PPP, yang diperkeruh oleh komentar pedas Gus Dur terhadap Buya Ismail pada saat itu.

Ketujuh, buntut dari pemecatan Jusuf Kalla sebagai Menteri Perindustrian pada 2000 menambah runcing permasalahan ini. Di mana Jusuf Kalla sendiri adalah salah satu tokoh HMI yang malang melintang dalam kancah perpolitikan tanah air.

Singkatnya, Gus Muh menuturkan dalam bahasanya, luka lama sepanjang 1990-an pun kembali mengaga lebar. HMI Connection barang kali beranggapan, ''Gus Dur ini nggak tahu terima kasih." HMI Connection ingin mengukuhkan kekuasaan jaringannya bahwa "mereka jangan sekali-kali diremehkan".

Operasi Semut Merah pun menjadi penanda dilancarkannya aksi pemakzulan terhadap Presiden Gus Dur oleh sekelompok elite politik kala itu. Kepada Gus Muh, terima kasih telah bersusah payah menyuguhkan argumen yang sangat intrinsik sebagai pembelajaran sejarah bagi kader HMI.

Mengenal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Himpunan Mahasiswa Islam atau biasa disebut HMI adalah organisasi mahasiswa yang didirikan untuk menjawab tantangan zaman pada saat itu. HMI didirikan pada Rabu, 5 Februari 1947, bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H di kota Yogyakarta.

Tujuan awal terbentuknya HMI adalah: pertama, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, mengembangkan dan menegakkan ajaran agama Islam.

HMI terbentuk untuk menjawab permasalahan keumatan dan kebangsaan. Arif Musthopa menukilkan dari Yudi Latif, ia menggambarkan sejarah HMI dalam kontinuitas sejarah genealogi intelegensia muslim sebagai suatu blok historis yang memiliki peranan penting dalam kesejarahan Indonesia, khususnya sejak awal abad ke-20.

Organisasi ini mendapat sambutan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini tercermin dalam sambutan Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam peringatan satu tahun berdirinya HMI pada 5 Februari 1948. 

Dalam kesempatan tersebut, Jenderal Soedirman menuturkan, ''HMI hendaknya benar-benar HMI, jangan sampai suka menyendiri'.'

Bagi Jenderal besar itu, HMI yang benar bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam, melainkan harapan masyarakat Indonesia. Begitulah kepanjangan dari nama HMI dalam gagasan sang jenderal.

Di balik kebesaran namanya, HMI sebagai organisasi perkaderan telah melahirkan kader-kader intelektual progresif. Salah satu pemikir besar yang lahir dari rahim HMI adalah Nurcholis Madjid.

Beliau adalah penggagas NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang menjadi semboyan intelektual kader HMI dalam mengejawantahkan nilai-nilai ketauhidan serta kemanusiaan. Ia membumikan sikap pluralisme dalam tubuh masyarakat Indonesia melalui wadah HMI.

HMI dalam Pusaran Sejarah

Sejak kelahirannya, organisasi mahasiswa tertua ini dihadapkan pada perjuangan melawan agresor asing yang berkeinginan untuk kembali menjajah Indonesia. 

Abad 19 dan awal abad 20 pasca perang dunia kedua adalah momen penting bagi pertumbuhan gerakan mahasiswa di bawah pertarungan ideologi, serta perang-perang besar didalam dan diluar negeri. Dalam tahun-tahun ini pulalah HMI menampilkan diri sebagai organisasi perjuangan.

Generasi pertama HMI menunjukan identitas diri sebagai sosok heroik yang terlibat penuh dalam gerakan mahasiswa. Pada saat Orde Lama berkuasa, HMI memasuki fase tantangan. Sejak diberlakukannya demokrasi terpimpin, saat itu pula gerakan mahasiswa mengalami ideologisasi.

Gerakan mahasiswa yang tidak sesuai dengan ideologi negara akan terkucilkan atau bahkan dianggap kontrarevolusi.

Dalam pidatonya, D.N Aidit menyebutkan, ''Seharusnya tidak ada plintat-plintut terhadap HMI. Saya menyokong penuh tuntutan pemuda, pelajar, dan mahasiswa yang menuntut pembubaran HMI, yang seharusnya sudah lama bubar bersama dengan bubarnya Masyumi'.'

Dalam pidato lain, Aidit menyebutkan, ''Kalau tidak sanggup membubarkan HMI, pakai kain sarung saja!''

Sebagaimana digambarkan oleh Budi Gunawan S, ''Entah bagaimana kemampuan pimpinan PB HMI pada masa itu, sehingga HMI yang tidak lain adalah bagian dari kelompok oposan, bisa lolos dari pembersihan yang dilakukan oleh PKI (Partai Komunisme Indonesia) dan CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia)."

Fase ini adalah fase tantangan yang terjadi dalam tubuh HMI, dan lagi HMI berhasil melewati gelombang pembersihan tersebut. Hal ini ditandai dengan gagalnya upaya PKI dalam membubarkan HMI pada saat itu.

Setelah berakhirnya Orde Lama, pada masa Orde Baru, HMI mengalami perpecahan dalam tubuh internalnya. Pada saat itu, HMI terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok Dipo (bersekretariat di jalan Diponegoro) dan kelompok lainnya yang menamai dirinya sebagai Majelis Penyelamat Organisasi (MPO).

Terpecahnya HMI menjadi dua kubu merupakan puncak dari diberlakukannya asas tunggal Pancasila oleh penguasa Orde Baru.

Risky Wahyuni menuturkan dalam tajuk Sebuah Kado untuk Milad HMI ke-61, HMI telah melewati beberapa fase dalam berbangsa dan bernegara di republik ini, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Dalam selang waktu itu, HMI telah banyak mencetak pemikir Islam yang kritis terhadap permasalahan keumatan dan kebangsaan.

Pada Fase pergolakan dan pembaruan pemikiran Islam, puncaknya pada 1970 tatkala Cak Nur (Ketua Umum PB HMI dua periode) menyampaikan ide pembaruan pemikiran Islam dan masalah interaksi umat.

Tak tanggung-tanggung, HMI telah melahirkan cendekiawan muslim berbakat. Di antara mereka ada Deliar Noer, Nurcholis Madjid, Syafii Maarif, Azyumardi Azra, dan Komaruddin Hidayat.

Rentetan Masalah yang Menerpa HMI 

Dalam usia senja memasuki usia 73 tahun, HMI hari ini terdengar nyaring diperbincangkan oleh khalayak ramai. Bukan karena ia malang melintang dalam sejarah bangsa ini, akan tetapi karena anak kandung yang lahir dari rahimnya telah menorehkan cerita kasak-kusuk yang tak berkesudahan.

Budi Gunawan S, dalam tulisannya yang bertajuk HMI dan Kevakuman Ideologi, ia menuliskan:

"Memahami HMI belumlah cukup ketika melihat banyak alumninya yang terlibat kasus korupsi atau perilaku yang tak terpuji lain, anggotanya yang minim peran dalam gerakan mahasiswa, atau HMI hari ini yang sudah kurang diminati mahasiswa kebanyakan. Lebih dari itu, tak dapat dimungkiri bahwa sejarah organisasi ini sebagai track record memang telah mewatak menjadi pola perilaku objektif yang ternyata justru melahirkan banyak persoalan di belakang hari."

Bukan HMI namanya kalau tidak pernah diterpa permasalahan. Di tubuh HMI sendiri, terlepas dari masalah eksternal yang menggoncang HMI, masalah internal pun masih sering menghampiri organisasi ini. Sebut saja permasalahan dualisme kepengurusan antara Respiratory Saddam Al-Jihad dengan Sekjennya Ariya Karisma. Itu adalah salah satu contoh permasalahan yang masih menghujani tubuh HMI.

Namun di balik permasalahan tersebut, kader HMI tetap santai menjalani rutinitas organisasinya. Masalah bagi HMI adalah bagian dari dinamika kehidupan. Dengan berjalan melewati permasalahan akan membentuk karakter dan sikap setiap individu begitu pula dengan organisasi ini.

Kita akan melihat kembali permasalahan yang dihadapi organisasi ini pada permulaan 2013. Salah satu seniornya, Anas Urbaningrum, Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999, terjerat kasus Hambalang yang mengantarkan dirinya ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada 2014.

Tidak ada teman-teman HMI yang bereaksi keras pada saat itu. Tidak ada instruksi nasional yang mengharuskan kader HMI untuk turun ke jalan menuntut pembebasan seniornya. Roda organisasi pun tetap berjalan normal. Hanya ada sedikit perbincangan di tengah diskusi di kalangan teman-teman HMI.

Lagi-lagi permasalahan itu dikembalikan kepada individu. Nama organisasi memang cenderung melekat dalam diri individu dan akan selamanya dilihat demikian.

Sama halnya dengan hari ini, ketika orang-orang sedang ramainya memperbincangkan buku Menjerat Gus Dur dengan HMI connection sebagai dalangnya, kader HMI sejauh ini masih santai dalam menanggapinya. Tidak ada kasak-kusuk yang terdengar di kalangan HMI, kecuali diskusi-diskusi ringan di antara teman-teman HMI. 

Iya, mereka memang rajin berdiskusi. Ini adalah budaya yang ada di tubuh HMI, memperbincangkan buku-buku sampai wacana-wacana keislaman dan kebangsaan yang kontemporer.

Rutinitas tersebut telah menjadi makanan keseharian kader Hijau Hitam. Mereka tidak segan membuka ruang-ruang diskusi untuk memperkaya khazanah intelektual.

Kado pahit di awal 2020 yang meninggalkan secarik luka dalam tubuh HMI adalah badai musim hujan yang harus dilewati oleh seluruh elemen kader HMI.

HMI sudah biasa diterpa badai perpolitikan. Saya kira pun hari ini HMI tidak akan goyah hanya karena kado pahit di awal 2020 ini.