Mahasiswa
3 tahun lalu · 447 view · 3 menit baca · Politik 158.jpg
Foto: temalogy.org

HMI, Saut dan Maaf

Adalah Saut Sitomorang, salah satu komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah mampu membangunkan Macam tidur dari persemayamannya; Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Untung saja yang terbangun hanya anggota, alumni, dan simpatisan, jika arwah leluhur semisal Lafran, Cak Nur, dan Agus Salim yang dibangunkan, urusan bisa jadi tambah repot.

Yang disulut Saut bukan hanya Pengurus Besar HMI dan/atau Majelis Nasional Kahmi, melainkan seluruh komponen HMI yang tersebar mulai dari Aceh sampai Papua. Semua yang pernah mengikuti Latihan Kader 1 (LK-1), mereka marah, kesal, dan murka atas kejahatan nalar dan ucapan Saut.

Pengurus Besar HMI, Majelis Nasional Kahmi, dan lebih dari 50 HMI Cabang se-Nusantara melaporkan Saut ke Polisi. Ya, Saut dipolisikan atas tuduhan pencemaran nama baik, fitnah, dan ucapan/perbuatan yang tidak menyenangkan. Hukum pun hadir di tengah-tengah Saut dan HMI sebagai upaya pencarian atas keadilan yang harus ditegakkan.

Saut pun minta maaf. Ia sadar bahwa apa yang ia katakan kepada HMI itu jahat. Jika mengutip apa yang dikatakan kanda Din Syamsudin, bahwa generalisasi tentang kejahatan adalah kejahatan itu sendiri. Sesat nalar Saut telah menggeneralisir semua lulusan Latihan kader 1 (LK-1) HMI, yang ketika mereka menjabat menjadi jahat, curang dan rakus. Nalar seperi itu adalah sebuah kejahatan.

Maafnya Saut lantas tidak membuat keluarga HMI menyudahi proses hukum yang sedang ditempuh. Maaf diterima oleh 'sebagian pihak' dengan catatan proses hukum tetap berjalan. Itulah sikap 'sebagian' keluarga besar HMI sampai saat ini.

Idealnya, saat orang yang bersalah minta maaf, dan kemudian pihak yang menjadi korban memaafkan, keadaan selanjutnya adalah dalam posisi netral, konflik kedua belah pihak harus diakhiri.

Namun perlu kita ketahui semua, bahwa maafnya Saut belum memenuhi syarat tuntutan yang telah dilayangkan oleh PB HMI dan Majelis Nasional Kahmi. Dalam petisi online yang ditandatangani 10.196 orang (13 Mei 2016), isi salah satu petitumnya adalah bahwa Saut Situmorang harus minta maaf kepada HMI melalui media massa cetak dan elektronika nasional selama 5 hari berturut-turut.

Petitum itu tidak Saut indahkan. Saut hanya meminta maaf satu kali saat jumpa pers di Gedung KPK, Senin 9 Mei 2016. Sembari ia sadari bahwa apa yang ia katakan tentang HMI adalah berada di alam bawah sadarnya.

Meminta maaf dan memaafkan (forgiveness) menurut Leonardo Horwitz merupakan dua hal yang niscaya harus melibatkan pelaku, korban dan juga berbagai tingkat trauma, luka dan ketidakadilan. Dari itu, memaafkan biasanya lebih sulit ketimbang minta maaf, karena ada hati yang terluka dan ingatan yang trauma.

Keinginan korban untuk memaafkan (forgiveness) merupakan suatu hal yang kompleks, karena dipengaruhi oleh perasaan, pikiran, dan tingkat kejahatan yang telah dilakukan oleh si pelaku. Namun demikian, memaafkan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

McCullough berpendapat bahwa pemintaan maaf (apology) yang tulus ikhlas disertai dengan penyesalan yang mendalam atas perbuatannya dapat menjadi faktor yang berpotensi bagi pihak korban untuk memaafkan.

Dalam perspektif teologis, Islam pun mengkhendaki adanya sikap 'memaafkan' dengan narasi teks: "jadilah engkau pemaaf, dan serulah orang untuk mengerjakan hal yang ma'ruf," (al-A'raf: 199). Dalam narasi lain disebutkan: "hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada," (al-Nur: 22).

Jadi, kebijaksanaan antara si pelaku dan korban diuji dalam kontek maaf dan memaafkan (forgiveness). Dalam posisi pelaku, seharusnya ia menunaikan setiap apa yang korban inginkan sebagai wujud dari pembalasan atau ganti rugi. Bagi si korban sendiri, bukankah memaafkan dan melupakan jauh lebih mulia ketimbang terus memperkarakan kasus sehingga konflik terus berlarut?

Saat ego kedua belah pihak masih tersekat garis pemisah yang sangat kuat, maka penilaian benar-salah menjadi kewenangan hakim yang memutuskan, sebagai pihak penengah yang menegakkan hukum dan keadilan.

HMI dan Saut adalah bagian kecil dari contoh kasus tentang konflik sosial yang terjadi dalam sejarah perjalanan manusia, khususnya bangsa Indonesia. Masih terdapat banyak kasus yang dalam penyelesaiannya tak kunjung menemukan titik terang bahkan ditutup sehinggal menjadi mitos dan misteri.

Kebijaksanaan (hikmah) dan hukum kita sedang diuji. Saat keduanya tak kita dapatkan di pengadilan manusia, lantas harus kita cari kemana lagi? Jika demikian adanya, saya rasa negara tak diperlukan lagi.

Artikel Terkait