Sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, HMI telah banyak menyerahkan punggungnya memikul beban materil pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berpengetahuan luas, futuris, dan beradab. HMI pun turut menyumbang tokoh-tokoh hebat untuk bangsa Indonesia, yang kalau mau disebut nama-namanya satu per satu di sini, saya pastikan tak jauh berbeda dengan apa yang biasa kader-kader HMI banggakan di banyak tempat di luar sana.

Alasan awal saya berHMI sederhana, bahkan bisa dibilang konyol dan agak lucu. Suatu waktu, saat masih belajar di bangku SMA, saya pernah diskusi dengan seorang kader HMI, kebetulan dia adalah saudara saya, tentang distingsi manusia dan binatang. 

Itu bukan suatu tema yang wow menurut saya. Malah biasa banget, mengingat terlalu sering dalam keseharian mendengar (kadang sebagai pengucap) orang melakukan salah dikatai "kelakuan seperti binatang".

Singkat cerita, saya menganggap manusia dan binatang tidak sama. Tapi saat itu saya merasa diri kalah dan dipermalukan di hadapan beberapa teman-teman saya, karena saya tak bisa membantah argumennya bahwa manusia dan binatang itu sama—bahwa manusia adalah binatang, didukung dengan berbagai macam contoh fakta. Saya terpaksa rela dipanggil "kambing".

Saya sadar, pandangannya tak seluruhnya benar. Namun kekerdilan pikiran membuat argumentasi saya terbatas. 

Saya merasa kebodohan adalah akar "malu" segala hal yang memalukan di muka bumi ini. Dari situlah saya teguhkan niat untuk kuliah di HMI, bukan di kampus. Kampus hanya sebagai pintu masuk menuju HMI. Jadi, saya masuk HMI tanpa tahu Dahlan Ranuwiharjo, Cak Nur, Akbar Tanjung, Ridwan Saidi, Jusuf Kalla, Abdullah Hehumahua, dan tokoh-tokoh nasional lainnya itu alumni HMI.

Masing-masing kader HMI punya motivasi dan cerita berHMI yang beragam. Saya pikir, kader yang mendambakan HMI sejak masih berada di bangku SMA, mahasiswa yang mencari stand pendaftaran peserta basic training HMI bukan cuma saya sendiri. Masih banyak bertebaran di komisariat-komisariat di seluruh Indonesia, dan jumlahnya tak terbilang.

Kalimat "kuliah di HMI, bukan di kampus" sampai sekarang masih saya ulang-ulang di setiap sela diskusi raut pendidikan dan gerakan kemahasiswaan. Saya selipkan sebagai pembuka sebelum saya mengatakan bahwa berorganisasi sejatinya adalah melawan status quo pendidikan, melawan kampus—sekaligus pengganti prosa kecintaan saya yang teramat terhadap organisasi yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam.

Jargon perjuangan di HMI adalah Yakusa, artinya Yakin Usaha Sampai. Sedangkan semboyan perkaderan di HMI adalah berteman lebih dari saudara

Saya kurang menyukai jargon dan semboyan itu. Saya lebih tertarik adigium asmara di HMI: "Nikahi kohatimu, maka sempurnalah HMImu." Syahdu. Saat jantung berdegub, pikiran selalu mencari cela keselamatan penuh syukur dan ikhlas. Mengingat merebut hati kohati bukanlah perkara mudah.

Tragisnya, saya menjatuhkan bibit cinta berulang kali, namun yang tumbuh baru sekali. Itu pun layu di persimpangan jalan. 

Saking kelamnya, sesekali saya merasa tertampar saat mendengar atau menyaksikan secara langsung sesama kader HMI saling menikahi. Merasa diri seperti botol tak berisi di sisi-sisi jalan, alias sampah. Saya tak kuat membayangkan betapa indahnya sesama kader insan cita saling membangun cinta dalam suatu ikatan pernikahan.

Insting saya ulang kali berkata ada semacam 'take me out' yang diam-diam terjadi dan sedang berlangsung di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, susah atau mudah, perjuangan meraih hati kohati harus terus dilakukan supaya besok-lusa jenis kelamin anak saya bentuknya seperti perisai, pena, yang di atasnya terdapat tiga bukit tujuan hidup manusia: beriman, berilmu, beramal.

Menikahi seorang kohati, bagi saya, adalah cara sederhana menebus kegagalan mewujudkan masyarakat cita, sekaligus tindakan memperpanjang nafas eksistensial-kehidupan HMI itu sendiri dalam pusaran evolusi sosio-kultural.

Tapi akhir-akhir ini, saya suka merasa jengkel dan sedih saat memikirkan HMI secara utuh dengan berbagai macam tipikal manusia yang hidup di dalamnya: dari yang paling takut neraka sampai kader yang sama sekali tak memedulikan surga.

Dari kader paling liberal sampai konservatif paling kanan; dari intelektual kritis hingga krisis intelektual; dari apatisme kader di komisariat sampai pengurus gede yang rela jungkir-balik, gontok-gontokan dan saling mengkhianati sesama kader HMI demi memuaskan syahwat kuasa dan gengsi sosial semata.

Sebenarnya apa sih bagusnya HMI itu, sehingga membuat banyak orang tertarik, bangga, mati-matian berHMI? Meski di sisi lain banyak kader yang merasa masa depannya sedang dalam mara-bahaya jika melawan kehendak senior.

Apakah karena kultur intelektualitas dan notabenenya merupakan organisasi mahasiswa Islam pertama pasca kemerdekaan, keluasan jejaringnya (kalau bukan karena ketidakmampuan individu berjuang di jalan sunyi) orang-orang memilih berHMI? Saya pikir, jawaban terbaik yang dimiliki saat ini adalah terdapat titik temu, keserasian, antara cita individu dan cita Himpunan.

Fanatisme formal berHMI kontemporal membawa saya pada kerinduan yang mendalam terhadap seorang senior yang secara tegas mengatakan kepada Pengurus Besar HMI bahwa dirinya pamit meninggalkan HMI. 

"Orang seperti aku atau Djohan Effendi tak bisa masuk organisasi yang terlalu ketat seperti HMI," pungkasnya dalam memorandum kekaderan yang ia tuliskan dan persembahkan untuk HMI, organisasi yang ia ucapkan salam cinta dan perpisahan. Senior itu bernama Ahmad Wahib.

Wahib adalah tipikal orang tak fanatik jabatan, pembenci keketatan. Ia pencinta HMI dan menghendaki kemerdekaan kader. Semoga Allah meninggikan derajatnya dan menempatkan dirinya bersama Hj. Agus Salim, Gus Dur, Ranuwiharjo, Cak Nur, dan seluruh para pemikir Islam pluralisme progresif Indonesia yang telah wafat. Amin.

Trayek Cita Perjuangan Menyurut

Sembilan windu telah berlalu, HMI tak lagi muda. Dilahirkan pada tanggal 5 Februari 1947, bertepatan dengan 14 Rabiul Awal 1366 H. Oleh para orang tua, HMI disematkan cita: Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Dalam perkembangannya, setelah perjuangan kemerdekaan telah dianggap selesai, pada kongres ke-IV tanggal 14 Oktober 1955 di Bandung, cita-cita HMI berubah menjadi: Ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam.

Dari organisasi perjuangan menjadi organisasi perkaderan, HMI turun tangan membasahi tanah pertiwi serta menaburi benih manusia-manusia pejuang dan pengkader keindonesiaan-keislaman untuk generasi yang akan datang. Sekarang, HMI bukan lagi sekadar Himpunan Mahasiswa Islam. Takaran HMI bertambah, seperti yang ditakar oleh Jendral Sudirman bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia.

Meski langkah juang tersendat-sendat, dan beberapa kali terganjal konflik eksta-intra interest, HMI tidak pernah terjatuh apalagi berbalik arah duduk di bangku penonton berpangku tangan sembari ikut bersorak-sorai. HMI tak punya watak memberi riak; watak HMI pencipta gelombang pembaruan demi Indonesia yang berkeadilan dan berkemajuan.

Mengarungi samudra pendewasaan diri, perdebatan tentang tujuan gerakan tak pernah sedetik pun abstain di HMI. Pada Kongres ke-X tanggal 10 Oktober 1971 di Palembang, rumusan cita-cita HMI bertambah sesuai tantangan zaman menjadi:

"Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhoi Allah subhanahu wa ta ala."

Tiga kali penyesuaian, cita HMI tak berubah, bertahan sampai kini.

Kalau mau dihitung-hitung, rumusan cita-cita HMI pada 10 Oktober 1971, di tanggal 10 Oktober 2019 nanti genap berusia 48 tahun. Saya tidak tahu sebab terpakainya apakah karena masih dianggap relevan dengan tatanan sosial dan tantangan zaman ataukah terjadi stagnan pemikiran pembaruan. Hanya para peserta kongres dari periode ke periode sajalah yang bisa menjawab secara tepat, bukan saya.

Namun yang dapat saya pastikan kepada teman-teman kader HMI yang kebetulan membaca tulisan ini adalah jangankan merekonstruksi atau menyegarkan cita-cita perjuangan, program kerja nasional saja kita tak punya. Kalaupun ada orang yang bilang prokernas ada, saya minta dan tolong bagikan ke setiap cabang di Indonesia.

Selalu di forum-forum perkaderan di HMI, keterpurukan umat Islam lantaran terlalu membanggakan kejayaan Islam di masa lampau berulang kali disampaikan untuk peserta. Saking serunya menebar pesona dan mencecar isi kepala para kader, tak sadar bahwa hal yang diingatkan itu sedang dipraktikan oleh manusia-manusia di HMI itu sendiri.

Daya khawatir raga HMI maju, tapi jiwa dan pikirannya tertinggal jauh di tahun 1971, di kota Palembang. 

Mengapa tidak? Bayangkan, undang-undang negara saja sudah berulang kali diamandemenkan—dan HMI masih merasa dirinya sebagai intelektual-pluralis, kiblat organisasi demokratik dan modern, eh, sedangkan sistem pemilihan orang nomor satu di tingkat teritorial (Cabang), wilayah (Badko), dan nasional (Pengurus Besar) saja masih bersifat keterwakilan. 

Sistem keterwakilan atau perlementer itu, di bangsa ini, sudah dikuburkan sejak puluhan tahun lalu di dalam tanah pertiwi, dan HMI masih setia menganutnya.

***

HMI bukan sekadar alat yang bisa diganti dengan lain alat. HMI bukan sekadar saluran yang bisa ditukar bergantian. Terasa, HMI telah menjadi nyawa kita. HMI telah ada dalam urat dan nadi kita. Ia ada di keringan kita, kesusahan kita, kecabulan kita, kekanak-kanakan kita, HMI telah mengisi saluran darah kita.

Selain tua umur, gagasan HMI juga sudah renta. Saya rasa, kerja-kerja pembaruan inter-ekster masih harus terus dilakukan. HMI belum menemukan dirinya sendiri. Kader HMI perlu membasuh muka terlebih dahulu sebelum menyematkan label "pemikir pembaruan yang humanis dan progresif" pada subjek kader Himpunan Mahasiswa Islam.

Manakala HMI belum berani menerapkan demokrasi langsung, masih betah dengan sistem keterwakilan, minimal HMI harus berani berbenah kultur, maju tiga langkah: pertama, lupakan masa lalu gemilang; kedua, memberi batas keterlibatan senior pada ruang-ruang politik internal; ketiga, promosikan kader-kader yang unggul ke jenjang yang semestinya, bukan manusia yang bisanya hanya mengangguk-nganggukan kepala yang dipromosikan.

Kader HMI, berhentilah berbangga nama senior-senior kalian yang saat ini sedang mengisi penuh kursi dan menakhodai perdebatan yuridis di Mahkamah Konstitusi perihal Pilpres.

Kader HMI, berhentilah berdebat soal Saddam dan Arya siapa ketua PB HMI. "Dualisme" itu bullshit, tak mungkin dua kebenaran terjadi dalam waktu bersamaan. Bisa jadi, ketua HMI ada di antara Saddam dan Arya, bukan mereka berdua. Toh, belum ada preseden dua Kongres HMI terjadi dalam waktu bersamaan.

Kader HMI, berhentilah menyoalkan DIPO-MPO. HMI tak pernah terbelah, tetapi membagi diri memang pernah. Tapi ingat, sampai hari ini, tak ada namanya KAHMI DIPO atau KAHMI MPO.

Kader HMI, berhentilah menyoalkan antara NDP lama-NDP baru mana yang legal. Sejenak, tengadakanlah muka ke atas, ke alam bebas, tanyalah ke dalam diri sendiri: ke mana kejayaan HMI pergi?