Dalam sebuah Seminar Kepemimpinan dan Moralitas Bangsa di Auditorium LIPI, Jakarta, 13 Juni 2002. Nurcholish Madjid  atau yang biasa disapa Cak Nur berkata  “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebaiknya dibubarkan saja, agar tidak menjadi bulan-bulanan dan dilaknat”.

Mengapa Cak Nur berkata demikian? Saya pikir kata yang terucap dari mulut beliau  bukan tanpa sebab. Barangkali tatkala beliau masih hidup dan  masih mengikuti perkembangan HMI, sepertinya timbul kekhawatiran dalam benak beliau tentang masa depan organisasi yang turut beliau besarkan.

Pada satu sisi karena kecintaan beliau terhadap HMI dan pada sisi yang lain karena kekhawatiran melihat kader HMI yang sudah menyimpang dari tujuan HMI,  sehingga saya berasumsi bahwa kata-kata pembubaran HMI tersebut  beliau ucapkan.

Syahdan, pembubaran HMI yang diucapkan Cak Nur, sepertinya ada benarnya, bagaimana tidak? Kalau ditilik, bukan hanya orang di luar organisasi HMI, tetapi orang di dalam HMI pun membuat HMI menjadi bulan-bulanan, bahkan menjadi olok-olokan. 

Kualitas keilmuan kader HMI yang  kini  mulai menurut dan cetek. Pun ada beberapa kader HMI yang menjadi koruptor dan juga melakukan skandal; dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Tentu kita ketahui  bersama bahwa ada beberapa nama besar yang pernah berproses di HMI dan perah menjadi Ketua Umum terjerat korupsi. Ketika diberi amanah untuk menjadi pejabat malah menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya, sehingga dengan kelakuannya itu akhirnya terjerat korupsi.

Bukankan itu merupakan hal yang memalukan serta mencoreng nama baik dari organisasi serta tujuan daripada HMI didirikan; dan  terbukti benar yang  dikatakan Cak Nur, daripada menjadi bulan-bulanan, sebaiknya HMI dibubarkan saja.

***

Bila kita menengok kembali tujuan daripada organisasi HMI didirikan adalah “Terbinanya pemuda/pemudi (insan) akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”

Jika ditelisik tujuan HMI tersebut, lalu ditilik tentang kinerja kader HMI, khususnya jajaran komisariat dan juga cabang saat ini sepertinya  “Jauh punggung dari api”, (masih jauh dari tujuannya).

Hatta, mengapa demikian?

Kalau kita mendedah kembali buku yang ditulis Agus Salim Sitompul tentang  44 Indikator  Kemunduran HMI, kesemua indikator tersebut sangat relevan dengan apa yang terjadi di HMI kiwari.

Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya hanya  mengutip tujuh indikator, yang menurut saya itu terjadi pada beberapa cabang di HMI yang saya temui.

Pertama, HMI dan kader-kader penerus kurang mampu mengikuti jejak para pendahulunya yang memiliki pandangan visioner, sebagaimana dilakukan pemrakarsa pendiri HMI Lafran Pane dan para penerusnya.

Kedua, Kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus.

Ketiga, Belum optimalnya pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan anggota dan pengurus HMI di hampir semua tingkatan kepengurusan tentang khasanah-khasanah ke-HMI-an dan keorganisasian.

Keempat, Memudarnya “tradisi intelektual HMI”.

Kelima, HMI banyak terlibat dalam kegiatan politik, sehingga banyak menyedot perhatian, tenaga, pikiran, bahkan dana.

Keenam, HMI sebagai mata rantai gerakan pembaharuan di Indonesia, akhir-akhir ini tidak menampakkan lagi pemikiran-pemikirannya yang cemerlang untuk melakukan pembaharuan dalam berbagai pemikiran; dan Ketujuh, daya kritis aktivis HMI menurun.

Syahdan, sebagai kader HMI, atau yang pernah berproses di HMI tentu kita takingin organisasi yang kita cinta tersebut terpuruk, bukan?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai kader yang pernah berproses di HMI atau saat ini masih aktif sebagai pengurus dan anggota HMI?

Sependek  pengetahuan saya, yang harus dilakukan  adalah kembali kepada khitah awal organisasi HMI didirikan. Dengan cara bagaimana? Hidupkan lagi khazanah keilmuan yang Rasional, Kritis, Sistematis dan juga Universal. Dan juga tutup kembali ceruk indikator penyebab terjadinya kemunduran HMI, seperti yang disampaikan Agus Salim Sitompul dalam Bukunya 44 Indikator Kemunduran HMI.

Arkian, tindakan sederhana yang menurut saya baiknya dilakukan kader adalah Pertama, pahami dengan baik dan maknai dengan jernih tujuan dari pada HMI didikan, agar tidak kajili-jili ( merasa organisasi ini miliknya dan keluarganya sehingga mencari makan di organisasi).

Kedua, tingkatkan literasi. Literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga menulis, mengkaji, dan sebagiannya.

Ketiga, pahami dengan baik Nilai Dasar Perjuangkan (NDP) HMI, artinya bukan hanya sekedar dihafal, tetapi dipahami/dimaknai. Kata Bung Hatta “Membaca tanpa merenungkan bagaikan makan tanpa dicerna.

Ketiga, perubahan diri atau dengan kata lain Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Jangan berharap melakukan perubahan sosial di tengah masyarakat ketika tak selesai dengan diri sendiri. Sebab, setiap perubahan sosial dimulai dengan mengarahkan perhatian kepada perubahan individual yang dimulai dari perubahan cara dan pola berpikir kemudian  pola perilaku.

Dengan itu,  saya yakin, HMI akan kembali kepada Khitah awal didirikan dan sesuai dengan yang diharapkan para pendiri dan juga harapan para senior yang menjunjung tinggi kebenaran, seperti Ayahanda Lafran Pane, Nurcholis Majid, Baharudin Loppa dan Munir Thalib.

Akhirnya kata saya mengutip kata Jalaluddin Rumi sebagian renungan:

Kemarin saya pintar, jadi saya ingin mengubah dunia.
Hari ini saya bijaksana, jadi saya mengubah diri saya sendiri.