Saya pikir, kawan-kawan yang telah memahami HMI akan merasa punya dua sisi greget yang saling bertentangan. Pertama, kekecewaan. Kemudian, yang kedua adalah harapan. 

Jika berbicara kekecewaan, kita mulai dengan hal yang paling mendasar. Yakni stigma identitas. 

Zen Muttaqin mengatakan, tidak ada stigma jika tidak ada presedennya dalam realitas. Kita telah menyaksikan serta mengamini pula, mungkin juga lelah untuk mengamati fenomena HMI saat ini. Quo Vadis, ke mana arah gerak HMI seharusnya?

Alumni, pengamat, bahkan kader HMI sendiri mencoba untuk menjawab persoalan tersebut. Di beberapa training serta diskusi yang diadakan, saya yakin pemantik selalu meneriakkan problem yang terjadi.

Namun bagaimana hasilnya? Anda tentu memiliki jawaban sendiri.

Saya teringat, saat berdiskusi dengan beberapa peserta SC Cabang Bandung 2019. Seorang kader Jogja berkata sinis, sampai kapan pun, HMI akan seperti ini. Jika tidak dimulai dengan kesadaran kolektif setiap kadernya.

"Dengan melanjutkan jenjang training, seperti kita-kita ini yang mengikuti SC, kita telah selangkah melakukan kesadaran kolektif. Kita selangkah untuk tetap berjuang di ranah perkaderan," imbuhnya.

Ya, perkaderan. Inilah sisi kedua dari persinggungan itu. Kita masih memiliki harapan, yakni konsisten serta inovatif melaksanakan misi perkaderan.

Namun apa guna jika kita sibuk membersihkan lantai sedang orang lain masih asik mengotorinya?

Memandang Posisi HMI dalam Bentangan Sejarah

Sejarah perjalanan HMI selama 73 tahun pada dasarnya telah melalui dua masa, yaitu masa dulu dan masa kini. Selama itu, HMI telah menjalani 10 fase perjuangan.

Kesepuluh fase itu, delapan fase di antaranya dapat dilalui dengan baik. Walaupun tidak luput dari berbagai kekurangan maupun kesalahan HMI serta dapat memberikan jawaban dan

kontribusi yang terbaik kepada bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Delapan fase tersebut didorong oleh beberapa faktor pendukung atas keberhasilannya. Antara lain, pertama, proses berdirinya HMI mendapat dukungan dari bawah serta diterima mahasiswa dan kalangan perguruan tinggi.

Kedua, HMI telah dapat menjadikan dirinya sebagai aset nasional alat perjuangan bangsa yang harus dibina dan mendapat respon dari mahasiswa sehingga HMI menjadi organisasi besar, dengan jumlah pengikut yang besar pula.

Ketiga, pemikiran-pemikiran yang disampaikan HMI sangat relevan dengan kebutuhan bangsa Indonesia dalam kehidupan.

Sejak kelahirannya, HMI telah berhasil meletakkan hal-hal yang bersifat fundamental dan mendasar. Sehingga keberadaan HMI dapat kokoh di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara umumnya. Serta di tengah dunia perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan pada khususnya.

Namun, di sisi lain, kita memahami ternyata terdapat dua citra yang saling bertolak belakang. Di satu arah dipandang sebagai suatu keberhasilan dan keunggulan HMI yang penuh romantisisme sejarah.  

Di satu arah lain, HMI mengalami kemunduran, sebagai satu kegagalan menjalankan peranannya sebagai organisasi perjuangan. HMI berada di persimpangan sejarah.

Seharusnya dalam usia HMI 73 tahun, dan telah memasuki usia 50 tahun kedua (50 tahun pertama 1947-1997, dan usia 50 tahun kedua 1998-2048), perjalanan perjuangannya makin mulus dan menanjak. Sudah take off-meminjam istilah Agussalim Sitompul.

Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya--HMI mengalami kemunduran.

Seperti yang ditulis oleh Didik J. Rachbini, sudah terjadi sejak tahun 1980, berarti sudah 40 tahun. Hampir setengah abad HMI tidak dapat mengikuti perkembangan realitas sosial budaya yang berkembang sangat pesat.

Berdasarkan indikator itu, HMI sejak 1980-2009 tampaknya banyak melakukan kesalahan di berbagai hal, yang menyebabkan HMI mengalami kemunduran.

Koreksi dan kritikan terhadap HMI telah banyak dilakukan, baik dari dalam maupun dari luar HMI. Akan tetapi dengan koreksi dan kritikan itu, tidak kunjung terjadi perubahan terhadap perbaikan HMI yang dilakukan PB HMI.

Bahkan tiga periode terakhir, HMI makin terpuruk karena terjadi dualisme kepemimpinan dalam tubuh PB HMI (Kholis Malik - Muchlis 2001-2003, Hasanuddin - Syamud Ngabalin 2003-2006, dan yang akhir-akhir ini terjadi, Saddam Al-jihad - Arya Kharisma 2018-2020).

Dengan terbitnya karya monumental Agussalim Sitompul “44 Indikator Kemunduran HMI”, seharusnya muncul kesadaran individual dan kolektif di kalangan HMI secara masif. Bahwa memang HMI benar-benar mengalami kemunduran, dan diikuti pula kesadaran individual dan kolektif bahwa dalam tubuh HMI mutlak dilakukan perubahan agar dapat bangkit kembali.

HMI Ibda' Binafsik dalam Menata Fase Kebangkitan Kembali

Semua kejadian sejarah yang menyebabkan kemunduran HMI hendaknya dapat dipahami sepenuhnya oleh para pengurus. Hal demikian adalah tanda yang mengandung makna sebagai cobaan atau peringatan dari Allah SWT, yang perlu ditangkap maknanya agar dapat dijadikan contoh untuk hari ini.

Tentu dalam langkah guna memperbaiki HMI dari kemundurannya sehingga dapat bangkit kembali. Allah SWT akan terus menguji dan mendatangkan peringatan kepada HMI apabila kalangan pengurus atau anggota tidak cepat-cepat melakukan perbaikan atau perubahan.

Langkah pertama kita bisa memulai dengan membangun komitmen dan konsistensi kembali dalam menjalankan sistematika perkaderan.

Serta kita juga bisa memasifkan karakter kader HMI itu sendiri, dengan berjuang secara serius dalam perjalanan organisasi untuk dapat meningkatkan keunggulan komparatif sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki HMI sekaligus eksis di tengah gerakan-gerakan sosial masyarakat yang akseleratif.

Maka dari itu, kita bisa memulai dengan merebut kembali ruang belajar atau tradisi intelektualisme; yaitu di antaranya para kader HMI dan pengurusnya harus berprestasi di kampusnya dan menghidupkan kembali kajian-kajian ilmiah.

Lalu mengambil peran di tengah-tengah perubahan masyarakat. Karena setiap kader HMI merupakan aktor sejarah, atau pelaku dalam melakukan perubahan sosial di lingkungan serta bidang garapannya masing-masing.

Sabda Tuhan, dalam Ar-Ra’d (13:11), menegaskan sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Ibda' binafsik. Diri, dalam ayat tersebut berakar kata dari anfus, jamak dari nafs. Atau kata lainnya, dalam terminologi sosial disebut sebagai individu.

Karena perubahan struktural tidak akan pernah terjadi tanpa didahului perubahan kultural, dan perubahan kultural tidak akan pernah terjadi tanpa perubahan inidividual.

Perubahan individual merupakan awal dari perubahan bagi suatu kelompok atau suatu kaum. Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda: “Ibda’ Binafsik” yang artinya Mulailah dari dirimu.

Kita bisa memulainya sendiri. Mulai dari sekarang tentunya. Selamat menunaikan ibadah perkaderan.