Seorang aktivis HMI di salah satu cabang organisasi tersebut bercerita soal konflik organisasinya. Katanya bermula dari konflik KNPI berimbas pada HMI, konflik KNPI juga dampak dari tahun politik. Runutannya selalu begitu, dari besar memengaruhi yang kecil.

Mirip kisah Amerika Serikat dan Cina yang bersitegang, Indonesia yang kena getahnya. Indonesia menjadi 'boneka' salah satu negara adikuasa tersebut; kalaupun bukan, maka Indonesia memosisikan diri sebagai kader salah satunya.

Kisah yang sama bisa dianalogikan dalam konflik KNPI dan HMI. Dua kandidat Ketua Umum KNPI yang bertarung merupakan produk HMI. Itu artinya PB HMI merupakan junior mereka, bisa jadi mereka 'boneka' dari kedua kandidat.

Nafsu berkuasa senior berimbas pada junior sangat sering kita saksikan. Bukan hanya di HMI, namun semua organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, bahkan di kepolisian dan TNI. 

Lalu benarkah konflik di HMI imbas dari konflik KNPI dan pilpres?

Saya tidak ingin mengklaim hal itu salah atau benar. Kemungkinannya selalu ada, apalagi kongres, munas, maupun kegiatan sejenis selalu ada permainan elite politik. Uang yang beredar juga tak sedikit, plus janji-janji manis bagi pemenang. Tradisi ini sudah lama terjadi di organisasi.

Kembali soal HMI, organisasi kemahasiswaan tertua yang dimiliki Indonesia. Melalui training-trainingnya, HMI terus memproduksi kader penerus. Alumni HMI juga terus berproses melalui KAHMI sehingga ikatan emosional terus terjaga. Ikatan inilah yang menjadi salah satu sebab HMI bisa tetap eksis hingga hari ini.

Dalam setiap kegiatan-kegiatan HMI, katanya para alumni rajin membantu. Bantuan berupa uang maupun moril serta berbagi pengalaman. Karenanya, wajar bila di kemudian hari ada oknum alumni HMI yang meminta balasan. Tahun politik biasanya menjadi momen alumni meminta balasan tersebut.

Meski tidak semua begitu, akan tetapi kebanyakan alumni HMI yang menjadi politisi akan berbuat begitu. Dalam konteks pilpres misalnya, bukan mustahil konflik PB HMI dikarenakan kepentingan alumni dalam pilpres. Sebut saja Akbar Tanjung yang katanya memiliki pengaruh besar di HMI maupun KAHMI.

Bila merujuk posisi Akbar hari ini, maka sejatinya PB HMI mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Maka tak heran Milad HMI ke-72 di kediaman Akbar dihadiri PB HMI, KNPI, dan Jokowi. Peristiwa itu memberi sinyal ke mana dukungan PB HMI dan KNPI Haris Pertama.

Meski HMI bukan organisasi massa, akan tetapi HMI memiliki anggota se-Indonesia. Dan kader-kader HMI terkenal cerdas memanfaatkan momentum. Mereka dikenal mampu menarik massa.

Coba perhatikan setiap aksi mahasiswa, selalu ada kader HMI di dalamnya. Mereka menjadi inisiator dan penggerak demonstrasi mahasiswa. No HMI, No party.

Indikator HMI mendukung Jokowi-Ma'ruf juga bisa kita saksikan terkait aksi mahasiswa. Belakangan ini sangat jarang aksi mahasiswa yang mengkritisi pemerintah. Artinya, kepengurusan PB HMI belakangan ini sepakat mengawal Jokowi, setidaknya meredam aksi-aksi mahasiswa.

Perpecahan yang terjadi di internal PB HMI makin mudah mengkooptasi gerakan HMI. Daya kritis dan analisis PB HMI mengalami krisis. Lebih sering kita dengar mereka memuja Jokowi, entah karena Lafran Pane dijadikan pahlawan nasional atau uang mengalir ke rekening mereka.

Satu hal yang pasti, konflik internal PB HMI tak bisa dilepaskan dari operasi istana. Lingkaran istana banyak diisi mantan aktivis yang paham betul dengan tradisi ketua lembaga. Para ketua lembaga yang gemar 'menjual' organisasinya termasuk di dalam tubuh HMI.

Konflik internal HMI akan berakhir bila para kadernya kembali ke khitah organisasi. Menjalankan AD/ART sepenuh hati, menjaga jarak ideal dengan kekuasaan dan uang. Bukan tak boleh bekerja sama dengan pemerintah, akan tetapi HMI itu milik umat, sehingga berdirilah bersama umat.

Kalaupun kader HMI dukung capres secara personal sementara ia masih menjadi pengurus organisasi, wajar kader-kader lain bertanya, apakah benar PB HMI mendukung Jokowi dalam pilpres 2019; apakah gelar Lafran Pane menjadi dalil keharusan HMI mendukung Jokowi.

Selain itu, begitu banyaknya alumni HMI di kubu Jokowi akan menjadi landasan kuat PB HMI mendukung Jokowi. Bila benar demikian, maka nama besar HMI akan tereduksi walaupun sebenarnya sudah lama HMI terkenal dekat dengan penguasa. 

Tentu patut dicermati, dukungan HMI kepada Jokowi dan bila Jokowi menang kembali akan menaikkan nilai jual PB HMI. Namun jual organisasi pada politisi meskipun pada alumni bukanlah cita-cita HMI. Tentu saja tidak sejalan dengan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI.

Bagi pengamat sejarah HMI pasti tidak terkejut. Sudah lama anak-anak HMI mengkhianati Lafran Pane, NDP, dan AD/ART-nya sendiri. Bertahannya HMI hari ini karena masih ada komisariat yang memegang teguh nilai-nilai ke-HMI-an dan ke-Islam-an serta ke-Indonesia-an. Seperti Indonesia, elite memanfaatkan awam begitu pula dengan HMI.

Organisasi setua dan sebesar HMI, nilai jualnya pasti mahal. Bohir politik tak segan 'membeli' pengurus PB hingga cabang. Manfaatnya banyak, terutama di tahun politik era kapitalisme seperti saat ini. 

Lalu benarkah HMI dukung Jokowi? Jika benar, maka Jokowi pasti menang lagi dalam pilpres.