"Saya bukan Dipo, saya bukan MPO, saya HMI."

Di group WhatsApp, saya dikirimi oleh kawan saya sebuah tulisan. Tulisan yang ditulis oleh Alfit Lyceum. Tulisan itu menanggapi tulisan Qasim Mathar tentang HMI sudah tiada.

Saya diminta oleh kawan saya tadi untuk membuat narasi tandingan, baik tulisan Qasim Mathar maupun tulisan Alfit Lyceum.

Sebetulnya, saya tidak mau menanggapi tulisan itu. Sebab, baik tulisan Qasim Mathar maupun tulisan Alfit Lyceum tentang HMI, sama-sama dangkalnya. Tapi, oleh karena ini tanggungjawab intelektual dan meluruskan sejarah HMI, saya menanggapinya.

Dalam tulisannya, Qasim Mathar, tampa basa-basi ia langsung menembak. Sesungguhnya HMI itu sudah tiada. Menurutnya, HMI itu sudah tiada disebabkan karena HMI telah disusupi anasir radikalisme Islam dan eksis menggumpal menjadi HMI MPO. Sejak itu pula HMI itu sudah tiada.

Pertama: tesis Qasim Mathar mengatakan HMI itu sudah tiada disebabkan karena HMI itu telah disusupi anasir radikalisme Islam, sehingga menyebabkan HMI itu pecah dua dan sudah tiada.

Kedua: anasir HMI telah disusupi radikalisme Islam, lalu kemudian berubah menjadi HMI MPO, itu sesungguhnya menandakan bahwa Qasim Mathar itu salah alamat. Tidak paham masalah.

Ketiga: Qasim Mathar itu dangkal dan terjebak dengan narasi radikalisme Islam. Ini menandakan bahwa Qasim Mathar itu dangkal dan tidak paham masalah.

Qasim Mathar itu tidak tahu bahwa narasi radikalisme Islam itu proyek kekuasaan. Untuk mempertahankan kekuasaan, maka penguasa merawatlah narasi radikalisme Islam itu untuk mempertahankan kekuasaan.

Sebab, corak masyarakat Indonesia itu reaktif, paling gampang untuk digoreng apalagi kalau itu soal agama, sangat sensitif. Qasim Mathar itu salah satunya korban dari proyek itu. Atau jangan-jangan, Qasim Mathar itu bagian dari proyek itu, sehingga memainkan narasi radikalisme Islam untuk menyerang HMI, karena kritik HMI belakangan terhadap kekuasaan?

Saya tidak bisa berprasangka buruk kepada Qasim Mathar dan tetap menaruh perhatian padanya dan tetap mengedepankan nilai intelektualitas sebagai tradisi intelektual di HMI.

Keempat: Qasim Mathar itu tidak paham sejarah. Qasim Mathar itu ahistoris. Perpecahan HMI itu, baik HMI Dipo maupun HMI MPO, bukan karena anasir radikalisme Islam, sebagaimana yang dikatakan oleh Qasim Mathar tadi.

Perpecahan HMI itu disebabkan karena intervensi kekuasaan, yaitu penerapan asas tunggal Pancasila bagi semua organisasi dan partai politik di Indonesia saat itu oleh rezim Orde Baru.

Soeharto melihat, perkembangan organisasi Islam saat itu menjadi ancaman tersendiri bagi kekuasaannya, sehingga ia memberlakukan asas tunggal Pancasila untuk menghalau gerakan-gerakan itu. Tentu dengan segala persoalan yang dihadapi oleh rezim Orde Baru saat itu.

Salah satunya adalah HMI. Ada yang mengikuti asas tunggal Pancasila, ada pula yang tidak mau mengikuti asas tunggal Pancasila. Dengan alasan tetap mempertahankan ideologi Islam. Inilah yang nantinya melahirkan HMI MPO.

Yang mengikuti asas tunggal Pancasila, merubah asas Islam menjadi asas tunggal Pancasila meskipun belakangan, setelah rezim Soeharto runtuh, merubah kembali dari asas Pancasila menjadi asas Islam.

Perubahan asas ini, baik dari asas Islam berubah menjadi asas Pancasila maupun dari asas Pancasila berubah menjadi asas Islam, sesungguhnya ini sebagai taktik untuk melucuti rezim Orde Baru agar HMI tidak dibubarkan oleh Soeharto. Inilah yang nantinya melahirkan HMI Dipo.

Jadi, tesis Qasim Mathar di atas, yang mengatakan bahwa HMI itu sudah tiada disebabkan karena anasir radikalisme Islam itu terbantahkan. Keropos dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan secara historis.

Saya tidak mau terjebak dengan Qasim Mathar. Mana yang benar antara HMI MPO dan HMI Dipo? Mana HMI yang konstitusional dan mana HMI yang inkonstitusional. Mana HMI yang benar dan mana HMI yang salah.

Bagi saya, HMI itu sudah selesai. "Saya bukan MPO, saya bukan Dipo, saya HMI." Kita harus berani keluar dari sejarah dan bekerja untuk kemajuan umat dan bangsa dengan cara masing-masing.

Kelima: dalam sejarahnya HMI, ada dua cita-cita awalnya. Pertama: mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia. Kedua: mengembangkan ajaran Islam dan mempertinggi derajat masyarakat Indonesia.

Dua cita-cita awal HMI ini melekat dengan kondisi sosial politik masyarakat Indonesia saat itu. Pertama: mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia, itu sejalan dengan kondisi sosial dan politik Indonesia yang saat itu yang baru seumur jagung.

Kedua: mengembangkan ajaran Islam dan mempertinggi derajat masyarakat Indonesia, itu karena kondisi masyarakat Indonesia yang terbelakang, kondisi Islam di Indonesia yang cenderung mistis, kondisi perguruan tinggi (PT) yang liberal dan kondisi Islam dunia yang mengalami kemunduran.

Jadi, narasi yang dibangun oleh Qasim Mathar itu kontra produktif dengan semangat yang dibawa oleh HMI dari awal. Semengat yang dibawa oleh HMI itu: semangat ke-Indonesia-an dan semangat ke-Islam-an. 

Lagi-lagi, Qasim Mathar itu kontra naratif dengan HMI. Di sini, Qasim Mathar terbantahkan lagi. Saya melihatnya, Qasim Mathar itu tidak lebih dari seorang provokator. Provokator kiriman. Dan, tidak mencerminkan keilmuannya. Tidak mencerminkan seseorang yang berintelektual.