Hitler terbangun di tahun 2011. Ia bingung, negara yang dicintainya dipenuhi imigran, dan dipimpin perempuan. Hitler diterima sebagai seorang pelawak yang melakukan parodi politik. Ia diajak mengisi acara stand up comedy, dan ditonton oleh banyak orang. Hitler menjadi sangat populer, dan dilirik oleh partai politik.

Itulah alur cerita dari novel pertama Timur Vermes yang berjudul Look Who’s Back (Er ist wieder da). Novel yang terbit pertama kali di Jerman pada tahun 2012, sudah terjual lebih dari satu juta kopi, dan diterjemahkan ke dalam 41 bahasa.

Look Who’s Back adalah sebuah satire politik, bercerita tentang Adolf Hitler yang terbangun di tahun 2011. Hitler pun bingung, karena menemukan dirinya masih berada di negara yang dicintainya, namun kini dipenuhi oleh imigran dan dipimpin oleh seorang perempuan. Ia kemudian berusaha mencari tahu apa saja yang terjadi selama ia tidur, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan kita, dengan menonton televisi dan menjelajahi internet.

Hitler dikira pelawak yang sedang melakoni peran satiris, sebagai Adolf Hitler, oleh orang yang memberinya tumpangan – seorang agen koran. Orang itu kemudian menghubungi sebuah rumah produksi. Hitler kemudian diajak untuk mengisi sebuah acara stand up comedy. Ketika acara itu diunggah ke YouTube, dalam waktu singkat sudah dilihat sebanyak 700.000 kali. Hitler pun selanjutnya diberi acara sendiri dan ditawari kontrak untuk menulis buku.

Diterima sebagai seorang pelawak yang melakoni peran satiris. Hitler tidak perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ia hanya perlu menjadi dirinya, dan orang-orang menerimanya dengan baik. Ketika ia mengutarakan pendapatnya tentang sesuatu, yang adalah pendapat seorang Hitler tanpa tedeng aling-aling dan sebenarnya tidak sesuai dengan suatu masyarakat yang bebas dan demokratis, orang-orang akan tertawa karena menerimanya sebagai suatu satire politik.

Diceritakan, hanya ada satu orang yang melihat Hitler sebagai dirinya, bukan sebagai seorang pelawak yang melakoni peran Hitler. Orang itu adalah nenek dari sekretarisnya. Ketika diberi tahu oleh cucunya bahwa ia bekerja untuk Hitler – sang pelawak – nenek itu menjadi sangat marah, dan mengatakan, “Apa yang dilakukan orang itu tidak lucu. Tidak ada yang perlu ditertawakan.

Kita tidak bisa mempunyai orang seperti itu di sekitar kita.” Ketika dijelaskan bahwa apa yang dilakukan Hitler sang pelawak itu adalah satire, sang nenek mengatakan, “Itu bukan satire. Dia hanya menjadi Hitler yang dulu. Orang-orang juga tertawa, ketika itu.”

Hal ironis terjadi ketika Hitler dipukuli oleh orang-orang ultrakanan. Orang-orang ultrakanan itu menilai Hitler sang pelawak menghina mereka, dengan memarodikan tokoh yang mereka idolakan. Padahal apa yang dilakukan Hitler, hanyalah menjadi dirinya sendiri, diri yang diidolakan oleh orang-orang ultrakanan itu.

Lebih ironis lagi, karena kejadian pemukulan itu, Hitler dianggap sebagai pejuang kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Orang-orang yang beranggapan demikian menilai Hitler sang pelawak sebagai seorang pemberani. Seorang pelawak yang berkukuh melakoni perannya meski mendapatkan kekerasan, atas nama kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat.

Secara keseluruhan, novel karya Timur Vermes itu datar-datar saja, tidak ada eksplorasi mendalam dari Hitler sebagai tokoh utamanya. Tokoh Hitler hanya digunakan untuk memancing kelucuan satiris, dengan menyatakan kembali pelbagai pandangan dan pendapat Hitler historis, dalam konteks zaman sekarang.

Namun demikian, ada beberapa hal menarik yang disampaikan Vermes dalam novelnya itu.

Pertama, ketika disampaikan bahwa videonya telah dilihat oleh 700.000 orang, Hitler berpikir sebagai seorang politikus, dan tidak mempercayai kabar itu. Ia berpikir, untuk mengerahkan massa sebanyak 700.000 orang diperlukan setidaknya 10.000 orang bayaran, dan ia tidak merasa membayar satu orang pun.

Kedua, ketika berbincang dengan warga, Hitler menemukan banyak orang yang sependapat dengannya. Setelah menonton televisi dan menelusuri internet, Hitler menemukan bahwa Jerman kini adalah negara yang demokratis dan menjunjung kebebasan individu, yang menurutnya menjadikan Jerman negara yang lemah.

Namun ketika melakukan perbincangan dengan warga untuk sebuah acara dengan format reality show, ia menemukan bahwa – di dalam negara yang seperti itu – banyak orang sependapat dengannya untuk memberikan hukuman yang sangat berat bagi para pelanggar aturan.

Ketiga, ketika sekretarisnya mengatakan bahwa Hitler bertanggung jawab atas pembantaian orang Yahudi, Hitler mengingatkan bahwa ia dipilih secara demokratis. Hitler mengatakan, “Seorang Führer (Pemimpin) dipilih dalam suatu cara yang demokratis… Führer yang dipilih adalah ia yang telah memaparkan rencananya secara terang-terangan. Rakyat Jerman memilihnya. Ya, termasuk orang Yahudi.”

Untuk menegaskan bahwa ia didukung oleh rakyat, Hitler menambahkan, “Pada tahun 1933 partai (Nazi) memiliki empat juta anggota…” Untuk Hitler, berdasarkan kenyataan tersebut, pilihannya adalah, “Entah terdapat bajingan sebanyak rakyat. Atau yang terjadi bukanlah tindakan para bajingan, melainkan kehendak rakyat.” Hitler melanjutkan, “Jika kamu mencari siapa yang bertanggung jawab (atas pembantaian orang Yahudi), kamu pada akhirnya mempunyai dua pilihan.

Entah kamu merunut jalur (komando) dari N.S.D.A.P. (singkatan dari nama resmi Partai Nazi), yang artinya orang yang bertanggung jawab adalah orang yang bertanggung jawab atas negara – yaitu Sang Führer sendiri. Atau kamu harus mengutuk mereka-mereka yang memilih Führer ini, tetapi gagal melengserkannya. Mereka adalah orang-orang yang sangat normal yang memilih orang yang luar biasa dan mempercayakan nasib bangsa mereka kepadanya.

Apakah kamu akan melarang pemilihan (umum), Nona Krömeier?” Vermes tampaknya berpendapat bahwa rakyat Jerman hingga batas tertentu ikut bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Hitler sebagai Führer, karena diceritakan Hitler menutup penjelasannya tersebut dengan mengatakan, “Saya hanya bisa menjadi arsitek kecil yang sederhana dari rumah ini. Kontraktor besarnya, Nona Krömeier, kontraktor besarnya adalah, dan harus selalu, rakyat Jerman.”

Di sisi yang lebih serius, tampaknya Vermes dengan novelnya itu hendak mengingatkan, secara satiris, bahwa negara fasis totaliter dengan kepemimpinan diktatorial itu lebih dekat dengan masyarakat yang bebas dan demokratis daripada anggapan umum tentangnya.

Dengan kata lain, fasisme, totaliterisme, dan kediktatoran itu senantiasa membayangi suatu masyarakat yang bebas dan demokratis, hingga pada suatu saat bayangan itu menjadi sangat besar dan meliputi masyarakat itu. Fasisme, totaliterisme, dan kediktatoran adalah bayangan dari kebebasan dan demokrasi itu sendiri, rupa gelap darinya yang senantiasa menyertai.

Bayangan yang berupa di antaranya: kebebasan berpendapat dan berbicara, untuk membenci yang lain; kebebasan yang dihayati sebagai kegamangan, sehingga menghendaki negara sampai mengurusi urusan-urusan privat; demokrasi dalam memilih pemimpin, yang diyakini tidak dapat salah atau memiliki kemampuan di atas manusia lainnya; dan sebagainya.

Persisnya Vermes mengajak kita untuk senantiasa curiga terhadap figur politis populer yang (seakan) mampu memahami apa yang dirasakan masyarakat, berani mengambil langkah yang tegas bahkan keras untuk mengatasi persoalan-persoalan yang menimbulkan perasaan itu, mungkin dengan ditambah penampilan yang ikonis dan – untuk sebagian orang – jenaka.

Jika dulu di Jerman muncul figur politis yang seakan dapat menangkap apa yang dirasakan oleh masyarakat setelah Jerman kalah Perang Dunia I, menunjuk masalahnya, dan mengajukan solusi untuk mengatasinya. Figur yang penampilannya ditertawakan oleh orang-orang berpendidikan, dengan potongan kumis yang konyol dan pakaian yang kampungan – Hitler senang menggunakan pakaian tradisional Jerman berupa celana pendek dari kulit yang disebut Lederhosen.

Mungkin kini di Amerika Serikat muncul figur yang dapat menangkap xenofobia – perasaan takut pada yang asing – sebagian masyarakat di sana, menjanjikan akan membangun tembok besar untuk membatasi Amerika dengan Meksiko, dan melarang Muslim untuk masuk ke Amerika. Seorang pengusaha, yang oleh kalangan berpendidikan di sana ditertawakan, karena tata rambutnya yang lucu dan perkataannya yang ngawur.