Seniman
1 minggu lalu · 208 view · 3 min baca · Puisi 46622_64114.jpg
Pexels

Hitam di Atas Putih

Kali pertama kau melihatnya di puncak tebing, ia bersibuk melempar barang ke batuan runcing: Kaleng, botol, ban bekas, juga daging. 

Awalnya, kau tak cermati apa pun, hanya bagian belakang kepalanya. Kauhampirinya, membujuknya … meniru Jack pada Rose kau lantas berkata, “Kauloncat, aku pun loncat.”

Di lautan kabut kauterawangi wajahnya. Tak begitu tentu, tapi sepasang mata sayu menatapmu malu; jantungmu berdetak laju. Adakah wajahmu memucat? Mungkinkah merona cacat?

Matanya berlian dengan inti kecokelatan; bibirnya flamingo memerah muda … telapak tangannya, kau berhasrat 'tuk sandarkan pipi ke atasnya; sedang jiwanya mencerminkan angkasa belau. 

Selain itu, kau yakin bakal suka dengan apa pun selera musiknya. Kausuka caranya menggenggam buku; kausuka caranya menatap awang-awang; kausuka gaun puspawarna yang tengah ia kenakan, dan cara sinar matahari memainkan rambut lurus panjangnya.

Engkau menurunkan mata, lalu berpaling muka, dan dia terus mendekatimu, lurus menuju tempatmu tercenung. 

Napasmu tertahan; bibirmu mengering; kata-kata tersangkut di tenggorokan. Dan ketika kata-kata itu terpaksa menyembul, mereka keluar dalam keadaan rusak pun serak. 

Kau merasa ditonjok dengan kelumpuhan bawaan; tak berdaya menggerakkan otot muka. Mungkin kauingin berpatah kata, atau sekadar melengkungkan senyum. 

Getar mengambil alih tangan dan kaki; butir-butir keringat muncul di alis, seiring dengan pikiranmu yang mulai mengosong ketika dunia tiba-tiba berhenti. Kau membeku tepat waktu.

Bisa kaulihat ia menari bersama melati, di saat kau berupaya memeluk sepi. 

Kau bisa melihatnya terbang tinggi, di kehampaan mimpi, di malam yang sunyi, dan sempat membikinmu berpikir, "Akankah ia mengizinkanku masuk ke dalam lingkar mainnya? Adakah ini sekadar memori yang membias belaka?”

Kau merasa bahwa, kau pernah melihatnya di Terminal Mardika, ketika ia tengah menyandarkan punggung di salah satu kursi tunggu, di bawah pijar lemah lampu perunggu. 

Perlahan, kau lantas menyamperi; membaui siapa pun yang sedang duduk di sana. Dia dekat, cukup dekat, untuk menjadi jelmaan hantu si 'dia' yang telah lalu.

Tiap orang, punyai persepsi keindahan berdasar alasannya masing-masing. Tiap orang, melihat keindahan secara berbeda. 

Bila kau melihat seorang baru di ruang publik; di jalanan luar … yang tak asing; yang mirip dengan: 'Dia' yang telah lalu; sepupu yang kautaksir; atau bintang film kesukaan—maka, bisa jadi kau hanya tertarik akan kilas fisiknya, meskipun orang lain menganggapnya rata-rata.

Dan kini, dengan nyali setengah-setengah, sambil menuntunnya menuruni bukit, kau lantas melempar tanya, "Katakan padaku, di mana tempat persembunyianmu? Karena aku takut … aku takut bakal melupakan garis pun lekuk wajahmu.”

Dia menjawab tak sepatah kata.

“Siapa namamu?”

Dia menjawab tak sepatah kata.

“Mmm … tak apa jika kau enggan memberi nama. Tapi, sopankah bila kusapa kau menggunakan nama si 'dia' yang telah lalu?”

“Kau bebas menyapaku sesukamu.”

Akhirnya, suara itu pun keluar juga. Suara malu-malu dari si gadis pemalu; suara malu-malu dari si gadis pemilik senyum malu-malu.

Sontak kaurasakan sensasi itu lagi, namun, lebih dahsyat kali ini. Sebuah sensasi menggelitik pun mengeriput dari dalam perut, sebab berkurangnya aliran darah di pembuluh. Ini ialah sebentuk pelepasan cemas yang tak kaunyana, yang membikinmu waspada. 

Sejatinya, kau ingin merespons dengan cara melawan ataupun melarikan diri, ketika otak merasakan ancaman potensial untuk bertahan hidup; ketika sistem saraf menstimulasi adrenalin pula kortisol, dan membuatmu berpeluh sebasah-basahnya.

Reaksi melawan ataupun melarikan diri, mungkin telah berakar berumbi sejak lama … sejak zaman batu; sejak zaman purba, yang tentu merupakan produk evolusi. 

Ketika moyangmu kalang kabut dikejar harimau—atau hewan prasejarah lainnya—penegangan otot dan degup dada, memacu mereka berlari jauh lebih cepat. Laksana si pincang yang bisa meloncati pagar tinggi, tak lama sehabis melihat setan; laksana maling yang berlari macam Gundala, tak lama setelah dipergoki. 

Jadi, kendatipun penolakan cinta tak langsung membunuhmu di tempat, tetap saja, tubuhmu berdaya menangani stres dengan cara yang sama kayak kasus harimau.

Sekarang, coba kaulihat mukamu sendiri! Kini kau berpucat merah nan berkerut, sebab kupu-kupu di dalam perut.

Tentu kautahu: Isi perut ialah 'otak kedua’. Tentu kautahu: Ada 100 juta neuron yang menghubungkan perut dengan kepala. Makanya itu, tak heran jikalau gugupmu yang sekarang ini mampu mengundang mual. 

Dan, atas nama alam semesta; atas nama angin malam yang berembus ke utara, baiknya kautelan kembali muntahan yang tertahan di pangkal kerongkonganmu itu! Jangan membikin malu!

“Menerka-nerka … seperti apa namanya. Indah merekah … aura dari bentuknya," ungkapmu tanpa bertanya. "Harum parfumnya … tercium sampai di sini. Mana kertasnya … biar kutandatangani."

Sebenarnya apa maumu? Kau ingin kubuktikan bahwa kau salah?

"Tak sudi aku, hanya menjadi temannya; tak usah kaku, jadikan aku kasihnya. Salahkah yang kurasa? Salahkah lidahku yang terkesan memaksa? Salahkah aku yang haus akan kuasa?,” bisikmu padaku, pelan tanpa ingar bingar; kau tak ingin ia mendengar.

Tampaknya, kau telah nekat campakkan keyakinan, hanya untuk bisa menggosok dadamu ke atas dadanya. Jelas sekali bahwa, kau tak ingin lagi banyak bertanya, dan langsung membasuh kaki bengkaknya.

Akan tetapi, sudikah kau mengikat kontrak? Mampukah kau berkomitmen?

“Persetan dengan hitam di atas putih; ku bersumpah, kan setia sampai mati. Mohon limpahkanku kepuasan dunia; kujual jiwaku sebagai gantinya.”

Artikel Terkait