Aceh dalam ingatan anak muda Indonesia lebih tercermin tentang Tsunami dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sebab kedua hal ini masih melekat dalam ingatan dan hangat dibicarakan bagi generasi muda kelahiran 90-an dan awal 2000-an. 

Selain statusnya sebagai daerah istimewa sebab gol-nya UU Otonomi Daerah menjadikan Aceh menjadi daerah sebagai bukti desentarlisasi pemerintahan secara demokratis, bersama-sama dengan Yogyakarta, Papua dan DKI Jakarta.

Namun sangatlah sedikit yang membahas secara deep tentang sejarah dahulunya bagi provinsi satu-satunya yang menerapkan syariat Islam sebagai Qanun (Undang-undang/Konstitusi) ini, yakni sejarah perjuangan Kerajaan Aceh dan Rakyatnya terhadap Kolonialisme Belanda.

Cerita ini berawal dari Usaha perluasan area kolonialisme Belanda dan upaya pelebaran pengaruh "Negara Kincir Angin" itu yang terhambat di Aceh, Aceh menjadi momok gelap dan menakutkan bagi Belanda. 

Ketika wilayah yang lain di Nusantara sudah berhasil dikuasai dan berada dalam pengaruh penjajahan serta kolonialisme, hanya Aceh yang masih belum bisa ditaklukkan, penyebabnya karena saat itu merupakan kerajaan yang kuat di kawasan Selat Malaka baik dari segi geografis, jalur ekonomi, perdagangan dan pengaruh sosial.

Wilayah Aceh yang strategis dan dikenal sebagai negeri penghasil lada terbesar, membuat Belanda berambisi menaklukkannya. Namun, ultimatum yang diberikan Belanda terhadap Kerajaan Aceh untuk menyerahkan wilayahnya dijawab dengan perlawanan bersenjata. 

Perlawanan bersenjata tersebut akhirnya menjadi perang terlama dalam sejarah kolonial di Belanda yakni antara tahun 1873 hingga 1904 masehi. meskipun secara de jure dan de facto Kerajaan Aceh menyerah di tahun 1904, perang gerilya dari masayarakat Aceh dan rakyatnya tetap berlangsung hingga tahun 1912.

Namun, realitas di masa lalu tersebut agaknya tidak terlalu banyak diingat oleh masyarakat Belanda sendiri. Padahal, Perang Aceh kala itu menjadi perhatian besar kerajaan Belanda. Terbukti, perkembangan perang selalu dilaporkan oleh pemerintah Hinda Belanda dalam laporan-laporan rinci yang dimuat dalam koleksi arsip di Belanda.

Pengetahuan terkait Perang Aceh hanya dibahas sekilas dalam pelajaran sejarah di SMA Belanda. Kenyataan itulah yang diungkapkan oleh Anton Stolwijk, seorang jurnalis Belanda yang cukup lama tinggal Aceh yang menulis Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkan (Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2021). 

Karya Anton Stolwijk ini sebetulnya telah rampung ditulis Anton pada tahun 2016 dengan judul “Atjeh: Het verhaal van de bloedigste strijd uit de Nederlandse koloniale geschiedenis”. Keinginan mengangkat kembali kisah kolonialisme Belanda dan perlawanan hebat masyarakat Aceh menjadi alasan Anton menulisnya dalam buku tersebut.

Meskipun bukanlah seorang sejarawan, Anton memiliki ketertarikan yang kuat pada sejarah. Seperti yang ditulis oleh Bonnie Triyana dalam kata pengantarnya, Anton berusaha menggali kembali rekaman ingatan masyarakat Aceh akan Perang Aceh dan menyandingkannya dengan sumber-sumber primer dan sekunder.

Sebagai seorang jurnalis, kisah sejarah yang dituangkan dalam bukunya bergaya populer dicampur dengan beberapa data-data. Upaya merekognisi peristiwa masa lalu dilakukan dengan wawancara, serta mendatangi secara langsung beberapa peninggalan sejarah. 

Seperti yang dia lakukan ketika mengunjungi makam sepuluh prajurit Belanda yang tewas pada tanggal 6 Januari 1874, sehingga Anton dapat menceritakan tentang perjalanan invasi Belanda ke Aceh.

Beberapa fakta yang Anton kemukakan menunjukkan dengan jelas bahwa buku ini merupakan karya historiografi yang ditulis dengan sudut pandang orang Belanda. Misalnya tentang bagaimana penulis menggambarkan sosok pasangan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Selain itu, Anton juga berupaya menggambarkan kondisi sosial masyarakat muslim Aceh ketika saat itu yang mungkin akan didebat oleh pembaca yang kritis sejarah.

Pandangan Neerlandosentris tersebut menjadi wajar karena manuskrip dan dokumen tentang Aceh awalnya banyak ditulis oleh kalangan Belanda. Sebut saja, Snouck Hurgronje yang kajiannya mengungkap peran ulama dalam mengerakkan Perang Sabil. 

Arsip berupa surat dan catatan pribadi yang digunakan Anton sebagai sumber referensi bisa jadi tidak sesuai dengan kenyataan menurut pembaca, namun dapat memberikan sudut pandang lain dalam membaca sejarah.

Kesesuaian berupa persamaan dengan sejarah yang sesungguhnya dapat diapresiasi, sedangkan beberapa hal yang dianggap berbeda dengan sejarah sesungguhnya bukanlah jadi masalah, karena akan memperkaya wawasan sahaja, sebab kita sebagai pembaca mesti memahami betul tentang perbedaan kacamata pandang atau perspektif lain.

Entah itu setuju atau tidak terhadap apa yang dituangkan penulisnya, cukuplah jadi pendapat subjektif dari pembaca atau hanya sekedar percaya atau tidak. yang terakhir adalah sikap kita sebagai generasi muda atas apa yang baru saja sebagai wawasan baru, yakni mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari buku.




Identitas Buku:

Judul: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkan

Penulis: Anton Stolwijk, Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia-KITLV Jakarta

Tahun terbit: 2021,  ISBN: 978-623-321-121-5, Jumlah halaman: xxiv+262 halaman