2 tahun lalu · 141279 view · 5 menit baca · Hiburan joeyagnez.png
Joey Alexander dan Agnes Monica [Foto: Salihara dan Kapanlagi.com]

Histeria Go-International

Grammy Awards. Ajang kompetisi musik di Amerika Serikat ini merupakan yang terpenting di seluruh dunia. Boleh dibilang, inilah barometer musik dunia. Tentu saja, ini menurut orang Amerika yang cenderung berpikir bahwa negara mereka adalah pusatnya dunia.

Ketenaran Grammy Awards tidak hanya didukung oleh industri musik Amerika, tapi juga oleh negara-negara lain yang turut ambil bagian dalam mempopulerkannya, walaupun tangga lagunya dipenuhi oleh produk Amerika, seperti Beyoncé, Taylor Swift, Justin Bieber atau Rihanna.

Terlepas Anda suka atau tidak suka dengan musik Amerika, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah pengaruh mereka dalam industri musik dunia luar biasa, yang bisa mempengaruhi banyak negara lain. 

Dalam era globalisasi seperti sekarang, kenyataan ini sangat menggoda para artis yang ingin karyanya dikenal di seluruh dunia. Jika mungkin, lewat pintu Amerika.

Pada tahun 1998, album internasional pertama saya diterbitkan di Amerika Serikat di bawah label Epic, milik Sony Music Entertainment. Untuk dirilis di Amerika dan masuk dengan format mereka, album saya harus diberi “American treatment,” seperti shooting video musik baru dengan video director yang “MTV friendly” (kala itu MTV adalah channel music yang sangat penting). Begitu juga, sesi foto untuk membuat cover album harus versi Amerika dan stok foto-foto promosi juga harus dengan fotografer Amerika.

Cara berbusana dan bermake-up saya diubah agar lebih “girl next door”. Bahkan saya dianjurkan meninggalkan aksen saya yang berbau agak Inggris untuk jadi lebih Amerika. Tiba-tiba tim kerja saya orang Amerika semua, manager, product manager, business manager, PR, agent, stylist, make up artist, dll.

Mempunyai paspor Indonesia pada saat itu menjadi kendala, karena setiap bulan saya menghabiskan tiga minggu di Amerika dan seminggu harus pulang ke Perancis untuk urusan visa. Akhirnya, setelah susah payah saya diberi visa O-1 oleh Kedutaan Besar Amerika yang ternyata hanya diberikan kepada orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus.

Semuanya, pada saat itu, saya lakukan dengan senang hati. Sampai akhirnya saya merasa keberatan.

Keberadaan Joey Alexander di Grammy Awards mengagetkan dan membanggakan orang Indonesia, juga memberi hawa segar untuk musik jazz dunia yang cenderung dianggap sebagai musik orang tua. “Indonesian Prodigy,” julukan yang diberi oleh para wartawan manca negara kepada Joey membuat daya tarik tersendiri. Nama Indonesia bergema pada malam acara Grammy Awards itu.

Orang Indonesia bangga dengan seorang Joey Alexander yang sebelumnya tidak mereka kenali. Apakah kekaguman ini murni karena talentanya ataukah karena bocah ini orang Indonesia? Apakah jika albumnya tidak dapat nominasi dari Grammy Awards, mungkinkah orang Indonesia akan tahu keberadaannya dan tetap bangga dengannya? Jawabannya pasti berbeda-beda. Tapi buat banyak orang, yang paling penting nama Indonesia bergaung. 

Saya mengamati beberapa posting teman-teman saya di Facebook tentang Joey Alexander. Semuanya bangga, "yah, normal dong wong dia orang kita!”, “Kalo nggak bangga sama dia berarti nggak patriotis!”, “Presiden Jokowi aja mention dia lewat twitter!” “Joey Alexander berhasil mengharumkan nama Indonesia :D”.

Lalu ada pula yang berbagi cerita karena kenal dengan orang tuanya. Ada juga tentang tantenya, Nafa Urbach, yang dulu sempat jadi penyanyi Rock dan sempat diperkirakan akan jadi penerus Almarhumah Nike Ardilla, karena kemiripan gaya dan wajah yang sama cantiknya.

Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, dalam berbagai diskusi itu, muncul nama Agnes Monica atau yang kini lebih dikenal dengan Agnez Mo. Arah percakapan yang saya tangkap amat menyudutkan keadaan karirnya, yang mereka anggap stagnan. 

Saya lalu membaca beberapa artikel di portal berita yang nadanya sama, menyindir secara terbuka sang diva. Dasar alasannya pun persis, Agnez Mo dari dulu sangat vokal dengan impiannya mempunyai karir internasional dan mempunyai Grammy Awards, dan setelah bertahun-tahun apa yang diimpikan belum menjelma. 

Jika saya mengikuti logika berbagai tulisan itu, kesimpulannya adalah boleh mempunyai mimpi, tetapi harus berhasil.

Saya pikir ini tidak adil sama sekali. Meraih mimpi itu hal yang sukar, banyak tahap yang harus dilewati, banyak juga faktor yang harus dimiliki, salah satunya adalah faktor keberuntungan.

Joey Alexander sangat beruntung mempunyai bakat yang luar biasa. Beruntung pula mempunyai orang tua yang percaya dan mendukung bakatnya. Amat beruntung talentanya ditangkap oleh Herbie Hancock, tokoh jazz terkemuka di dunia. Joey pun beruntung karena genre musiknya yang bisa dibilang elitis, alias tidak komersial, tidak mengharuskannya untuk masuk dalam format Amerika. 

Keberuntungan yang dikombinasi oleh kerja keras dan bakat yang luar biasa itu membawanya hingga ke panggung Grammy Awards. 

Kembali ke Agnez Mo dan fenomena Joey Alexander, yang menarik buat saya di sini adalah antara ambisi dan ekspektasi orang Indonesia terhadap seorang artis.

Dalam era social network ini, dunia kita otomatis dipenuhi oleh self-documentation, membiasakan kita untuk selalu berpromosi diri. Generasi selfie, generasi hashtag, generasi “dear diary” yang dulunya hanya untuk pribadi, sekarang ditujukan ke publik.

Publik yang bukan hanya fans, diterbiasakan dengan banyak tahap atau cerita. Di setiap cerita, selalu ditunggu punch line-nya. Jika belum ada, tidak ada, lambat, atau tidak yang seperti yang mereka harapkan, mereka merasa berhak untuk kecewa, menyindir, atau mengkritik.

Ambisi seorang artis untuk karirnya adalah sesuatu yang personal. Hanya milik sang artis itu sendiri, bukan milik orang lain atau juga negara. Gagal dan suksesnya seorang artis hanya bisa dirasakan oleh sang artis sendiri.

Memang sangat luar biasa rasanya jika banyak orang ikut senang atas suatu kesuksesan. Ini adalah adrenalin yang mengangkat dan memberi motivasi yang tak terbayangkan. Tetapi, mencibir seseorang yang tengah berusaha, mengejek secara hampir histeris, membandingkan prosesnya dengan kesuksesan orang lain yang tentunya mempunyai cerita, tahap, cara, dan juga faktor keberuntungan yang berbeda, sekali lagi, sangat tidak adil.

Pertanyaannya: apakah kadar kesuksesan harus lewat Amerika? Apakah harus ada kata Grammy Awards dan Hollywood supaya bisa disebut sukses? Iko Uwais, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, Joe Taslim, adalah nama-nama yang dikenal dan dibanggakan di Indonesia, tetapi bagaimana dengan Tania Gunadi yang berkarir dan wajahnya sering dilihat di banyak seri TV Amerika? 

Bagaimana pula dengan grup seperti Superman Is Dead yang sempat tour keliling Amerika? Bagaimana dengan Farah Angsana, designer Indonesia yang kreasinya kerap dipakai oleh Carrie Underwood? Tex Saverio yang juga menjadi salah satu designer pilihan Lady Gaga?

Bagaimana pula dengan mereka yang memilih untuk mewujudkan mimpi di benua lain? Didit Hediprasetyo yang berhasil masuk ketatnya seleksi Chambre Syndicale de la Haute Couture di Prancis?

Banyak sekali anak Indonesia yang berbakat dan mencoba bahkan yang telah berhasil mempunyai karir di negri orang, tetapi sepertinya tidak mendapat tanggapan yang besar dari orang kita karena mungkin tidak masuk kriteria sukses mereka.

Bapak saya dulu pernah bilang bahwa dalam hidup kita harus mempunyai mimpi, karena jika kita tidak punya mimpi, hidup kita akan hambar. Saya menginterpretasi ucapan beliau dengan serius, hidup harus ada tujuan dan sebisa mungkin kita mengarahkannya ke tujuan tersebut. Mewujudkan mimpi adalah sesuatu yang indah dan proses menjalaninya bisa memperkaya diri.

Mahatma Gandhi pernah berkata: “kejayaan itu berada dalam proses meraih mimpi, bukan oleh mimpi itu sendiri.”