"Rizieq Shihab itu bukan Khomeini, kalau Khomeini mau pulang dari Paris misalnya, seluruh rakyatnya mau menyambut karena Khomeini itu orang suci. Rizieq Shihab pengikutnya enggak banyak juga dibandingkan dengan umat islam seluruhnya di indonesia," tutur Mahfud MD dikutip dari Sindonews.com.

Kalimat itu diucapkan saat Habib Rizieq mau datang ke Indonesia tgl 10 Nopember 2020 lalu. Dan membuahkan banyak komentar negatif buat Mahfud MD, dianggapnya menyepelekan jumlah penjemput HRS, yang “katanya” 3 juta orang.      

Maksud Mahfud MD sebetulnya adalah bahwa pengikut Rizieq itu jumlahnya sedikit  jika dibandingkan dengan seluruh umat Islam di Indonesia.  Lalu salahnya dimana?

Mari kita coba buka-bukaan, berapa banyak sih pengikut FPI itu.

Ada beberapa penelitian yang mengukur jumlah pengikut FPI dan ormas Islam lainnya. Penulis akan ambil salah satu saja karena hasil risetnya tak ada perbedaan yang kontras.

Hasil riset LSI  Denny JA pada 18-25 Februari 2019, NU didaulat sebagai ormas terbesar di Indonesia,  dengan jumlah pesentase 49,5%, Muhammadiyah 4,3%.  Gabungan ormas Islam lain 1,3%, P.A. 212 berjumlah 0,7% dan  FPI  0,4%.  Tidak merasa bagian dari ormas  35%. Maka NU merupakan ormas terbesar di Indonesia, juga di dunia, dengan memiliki basis massa sekitar 108 juta orang. Penelitian lain juga menyatakan bahwa NU yang terbesar.

Data ini mendukung pernyataan Mahfud MD, jumlah pengikut FPI di Indonesia jumlahnya sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Islam Indonesia. Data riset LSI di atas menunjukkan, FPI berjumlah 0,4% sementara NU 49,5%. Belum ormas lainnya.

Yang membuat FPI kelihatan besar dan banyak itu karena mereka sering turun ke jalan sehingga sering diberitakan media.  Juga medsosnya sangat kuat. Jadi tepatnya nama FPI sangat populer meskipun secara jumlah fisik pengikutnya tak seperti yang diberitakan.

Contoh kasus, menurut pentolan FPI penjemput Habib Rizieq berjumlah 3 juta orang, sementara menurut Tim Detiknet dengan menggunakan sistem MapChecking “hanya” 13.621 orang.  Demo 212 Monas diakui dikunjungi 7 juta orang, apakah ini berarti 67% penduduk DKI yang 10,5 juta tumplek di Monas???. Silakan jawab sendiri.

Sudah dibubarkan, keukeuh ingin ganti baru

Saat ini semua kegiatan organisasi FPI sudah distop pemerintah. Beberapa pentolannya berurusan dengan polisi. Semua properti (baliho, kantor, dll) sudah dibersihkan. Tapi beberapa kadernya masih keukeuh mau mendirikan organisasi baru. 

Masih susah menerka apa yang akan terjadi. Mau ganti organisasi, pemerintah pun pasti sudah punya strategi sendiri bagaimana menghadapinya. Maka perkembangannya tergatung kepada “seperti apa organisasi ex FPI itu nanti?”. Bisa makin melunak sesuai standar pemeritah, bisa juga tetap ngotot.

Sebetulnya, pada masa awal berdirinya, ketika ativitasnya baru “sekedar” sweeping sana, sweeping sini, pemerintah tak terlalu menekan FPI. Ormas-ormas Islam lain pun rada cuwek. Maka masyarakat rada gamang menindak FPI karena sepertinya “dilindungi” pemerintah dan ormas Islam lain.

Tapi ketika FPI warnanya sudah mulai meng-khilafah maka ormas Islam terutama NU mulai merasa gerah. Apalagi ketika kader NU, Gus Muwafik, diperkarakan gara-gara menyinggung Rasulullah SAW, NU makin bangkit. Banyak kader NU, dari Ansor dan Banser, mulai terang-terangan menantang FPI.

Bahkan KH Agil Siradz sendiri, Ketua Pengurus besar NU, segera meminta warganya untuk “Jihad online, melawan radikalisme di medsos.”  Grup medsos anak muda NU pun makin bermunculan.

Dengan jumlah pengikut NU yang sangat besar, langkah konfrontasi FPI terhadap NU itu merupakan langkah blunder, salah besar, layaknya membangunkan Macan tidur.  Banyak yang under-estimate terhadap NU karena orang NU itu biasanya adem, tenang, gak mau ribut-ribut bila masalahnya tidak penting benar.

Padahal, jam terbang NU itu sudah kelewat banyak.  Misalnya, siapa dulu yang melawan PKI  secara “head to head” ?   NU juga telah teruji sejak zaman kemerdekaan dan sebelumnya. Banyak kader NU yang berperan dalam perang 10 Nopember di Surabaya, dengan tentara Hizbullahnya.  Juga di Palagan Ambarawa dan Pertempuran 5 hari di Semarang.

Jadi barisan Banser itu bukan hal aneh karena sejak perang kemerdekaan NU sudah punya laskar semi militernya. Tapi fungsi Banser  kini lebih ke urusan sosial atau mu’amallah. 

Dibayangi gerakan Arab Spring

Bila ada ormas yang sudah menyerempet gerakan khilafah maka akan sangat ditentang NU. 

NU adalah organisasi Islam yang fahamnya moderat, berdiri paling depan bila berhubungan dengan urusan pilar NKRI.  Menurut NU, Indonesia adalah  “Negara Kesepakatan” (al mitsaq al wathoni)  seperti zaman Nabi SAW di Madinah yang penduduknya plural.

NU sangat khawatir bila gerakan Arab Spring di ekspor ke Indonesia. Gerakan itu telah menghancurkan beberapa negara Arab. Biasanya rakyatnya diprovokasi melawan pemerintah, pemerintah di jelek-jelekan (hate speech), lalu teroris dan radikalis masuk seolah-olah membantu rakyatnya menentang pemerintah. Hasilnya, semua negara itu hancur terbelah.

Salah satu negara yang hancur itu Suriah. Rakyatnya berperang dengan pemerintahnya sendiri dan makin ribet kondisinya karena banyak provokator yang nimbrung dan mengadu domba, misalnya ISIS yang maksa ingin mendirikan negara khilafah. 

Miris, melihat ulama pro pemerintah berperang dengan ulama pro pemberontak yang sama-sama Islam.  Ulama satu, seperti sekelas Syaikh Yusuf Qardawi yg fenomenal itu berfatwa. Ulama lainnya mengeluarkan fatwa berlawanan. Ujung-ujungnya timbul perang Fatwa, perang saudara, bangunan dan tempat ibadah hancur, penduduk banyak mengungsi.

Bayangkan, mereka saling membunuh dengan sama-sama meneriakkan  “Allohu Akbar !”...  Takbiir... dan masing2 merasa bakal masuk surganya sendiri. Allohumagfirlahum...

 

Bagaimana dengan di Indonesia?

Kasus hancurnya Suriah dan negara-negara korban Arab Spring bisa hijrah ke Indonesia.

Ini bisa terjadi kalau HTI tidak dibubarkan, dan bila, sekali lagi bila, organisasi semacam mantan FPI makin condong ke khilafah dan makin membesar organisasinya, meskipun kini masih kecil.

Dina Y Sulaeman, pengamat Timur Tengah, mengatakan bahwa perang Suriah terjadi antara pemerintah sah (hasil pemilu) melawan milisi-milisi bersenjata (termasuk teroris seperti ISIS) yang mengklaim “berjihad”.  Untuk membesarkan organisasinya mereka memanfaatkan benar medsos. Lalu menyebar hoax, memfitnah pemerintah (sebagai rezim yang zalim), memfitnah Ulama Islam lawannya (hate speech), membuat fatwa sendiri.

Di Indonesia sudah nampak, KH Agil Siradz (NU) difitnah sebagai syiah. KH Syafii Maarif (Muhammaadiyah) dibilang liberal. Pemerintah habis-habisan di fitnah (hoax), dll.  Pernah membuat fatwa ulama sendiri, selain fatwa MUI.

Jadi, gerakannya sudah mirip, tinggal tunggu matangnya saja.  Maka kita tinggal berharap pemerintah saat ini, akan bagaimana strateginya biar faham khilafah tak semakin menggurita, dan bahkan bisa dirangkul untuk berbalik, bertobat, dari pemahamaannya yang khilaf. Mari kita lihat, mantan FPI itu gerakannya kemana dan seperti apa.

NKRI harga mati.  Semoga Indonesia makin damai, nyaman, dan aman...