Hipotermia merupakan krisis terkait kesehatan yang terjadi ketika tubuh manusia kehilangan panas lebih cepat daripada menghasilkan panas. Kondisi ini membuat tingkat panas internal menjadi sangat rendah. Dengan demikian, jantung dan organ penting lainnya lalai bekerja.

Jika tidak segera diobati, hipotermia dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan sistem pernapasan, dan bahkan juga kematian. Tingkat panas internal manusia yang khas mencapai 36,5 hingga 37,3 Celcius. Penurunan tingkat panas internal sebagian besar terjadi ketika dihadapkan pada suhu udara atau air virus yang luar biasa, tanpa mengenakan pakaian yang sesuai.

Mendaki gunung adalah hal yang terbuka yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang, selama mereka memiliki kapasitas aktual yang memuaskan. Kekhasan hiking saat ini dilakukan oleh orang-orang yang siap, namun banyak pelajar dan remaja yang bergerak tanpa kemampuan dan pengaturan yang tepat hanya untuk mengejar petunjuk tanpa mengetahui bahaya yang mungkin terjadi.

Aksi pendakian ini mengambil risiko dengan mengorbankan kesehatan fisik dan mental para pendaki. Contoh hipotermia pada pendaki berkembang secara konsisten, banyak pendaki yang tidak melakukan kesiapan yang wajar dalam mendaki. Banyaknya kecelakaan dalam pendakian menjadi catatan dan perhatian yang berbeda.

Kesejahteraan dan keamanan satu sama lain adalah pekerjaan yang vital. Kematian yang seringkali terjadi juga disebabkan karena terkena hipotermia, kekecewaan dalam bantuan medis adalah sumber utama kematian. Oleh karena itu, kemampuan dan pengetahuan dalam merawat hipotermia sangat dibutuhkan guna mencegah terjadinya hal yang tidak di inginkan.

Sebelum menaiki gunung, hendaknya seseorang mengetahui informasi dan pendidikan kesehatan mengenai hipotermia. Penyebab dan cara penanganan merupakan hal-hal dasar yang menjadi batasan minimal perbekalan mengenai pengetahuan akan hipotermia. Hipotermia disebabkan oleh keadaan tubuh yang sangat dingin dalam waktu yang sangat lama.

Terutama pada iklim yang berangin dan badai yang membuat komponen penghangat tubuh menjadi terganggu. Ketika dikeringkan di ketinggian akan mengalami konsumsi oksigen, hal ini akan mempersulit seseorang untuk menarik napas. Kelelahan adalah alasan yang mendasari seseorang terkena hipotermia.

 Kondisi lemah membuat tubuh kita sulit beradaptasi dengan virus. Biasanya, kurang istirahat juga bisa membuat tubuh kita kurang fit saat mendaki, sehingga kita mudah lelah. Oleh karena itu, latihan sebelum mendaki merupakan faktor pendukung yang sangat penting untuk menghadapi beratnya track dalam pendakian.

Biasanya, pendaki yang kelelahan akan apatis untuk makan, mereka biasanya akan langsung beristirahat ketika muncul di bumi perkemahan atau tenda. Kondisi ini seringkali diabaikan oleh para pendaki, beristirahat dalam keadaan lapar dan lelah akan membuat tubuh kita tidak fit untuk menahan dinginnya suhu di pegunungan.

Pendorong utama seseorang yang mengalami hipotermia jelas adalah cuaca yang buruk. Kondisi cuaca super ini membuat suhu menjadi sangat rendah, bahkan di pegunungan tertentu suhunya bisa di bawah 0 derajat. Kondisi cuaca yang buruk juga umumnya digambarkan dengan curah hujan yang sangat tinggi.

Dengan asumsi bergerak dalam kondisi hujan deras, jelas kelemahannya akan berlipat ganda. Karena tubuh akan merasakan angin dingin dan kencang. Dingin dan lemas sering kali membuat pendaki mengalami hipotermia. Bagaimanapun, suhu yang luar biasa ini dapat diliputi oleh keadaan bugar, perut yang terisi dan pakaian yang nyaman, hingga mantel.

Perlu diingat, jangan pernah tinggal di tempat tidur dengan pakaian basah. Oleh karenanya, mendaki di saat hujan sangat tidak direkomendasikan. Mendaki gunung di musim hujan memiliki potensi kecelakaan yang tinggi. Di mana, curah hujan yang tinggi dapat membuat melewati wilayah lebih sulit dan perangkat keras mendaki basah.

Penggambaran jalur pendakian saat musim berangin adalah lanskap pendakian berbahaya, suhu udara dingin dan kabut tebal muncul. Kondisi ini membuat pendaki mudah tersesat, tiba-tiba jatuh sakit dalam perjalanan hingga terjadinya hipotermia. Oleh karena itu, pendaki tidak boleh mendaki gunung di musim badai.

Mendaki gunung merupakan permainan gerakan di alam bebas yang sangat berat untuk dilakukan. Dibutuhkan ketekunan atau kondisi brilian untuk mendaki gunung. Banyaknya barang yang diangkat ke jalur yang sulit atau jalur pendakian menjadi ujian yang mengharapkan pendaki memiliki pilihan untuk berkemah atau tiba di titik tertinggi gunung.

Pendaki juga perlu menyesuaikan diri dengan keadaan normal di sekitar gunung untuk bisa pindah ke titik tertinggi gunung. Angin sepoi-sepoi, suhu udara yang dingin, oksigen yang terkuras, dan makhluk-makhluk penghuni gunung harus menjadi kekhawatiran saat melewati gunung.

Pendaki harus mengetahui kejadian-kejadian yang mengejutkan, misalnya terpeleset saat mendaki, tersesat atau diburu oleh makhluk liar. Keselamatan adalah hal yang utama ketika ingin melakukan pendakian. Untuk itu, kita harus melakukan persiapan dengan sangat matang.

Menyusun segala perlengkapan yang dibutuhkan termasuk seperti logistik, dan menghitung estimasi biaya yang dibutuhkan. Bukan hanya itu, persiapan kondisi fisik dengan prima juga sangat penting supaya nantinya pendakian bisa berjalan dengan lancar dan juga menyenangkan.