… agar manusia sebagai makhluk hidup berakal bisa berperilaku bijak dalam menjalani kehidupan.

Berperilaku

Manusia mendapat anugerah tubuh dan panca indera yang mendukung segala gagasan serta kemauan dapat dilakukannya.

Panca indera pada setiap manusia, yakni mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, kulit untuk merasakan sentuhan, lidah untuk bertualang aneka cita rasa, hidung untuk mencium beragam aroma.

Jelas, kelima fungsi indera sebagai pengindikasi awal sensasi lingkungan, sekitar agar manusia pemiliknya bisa menentukan aksi maupun reaksi secara tepat.

Melalui peran kelima indera tersebut, lalu otak manusia dalam hitungan sepersekian detik mengolah segala sensasi yang diterimanya, guna memerintah anggota tubuh lainnya, agar beraksi atau bereaksi sesuai kebutuhan, memenuhi naluri.

Ilustrasi aksi tubuh manusia sebagai reaksi atas sensasi nyata yang diterima oleh panca indera, lalu mengalir sebagai reaksi berantai dalam simpul-simpul syaraf.

Pemandangan air terjun di tengah kerindangan pohon hutan, cipratan air nan lembut menyentuh kulit, aroma alami menyegarkan, lalu otak pun menitahkan tubuh si manusia agar tak bergeming dari tempatnya memandang, demi menyegarkan badan, juga perasaan.

Kehangatan teh tubruk yang rasa sepatnya berbaur dengan manis gula batu dalam takaran pas, yang dalam setiap seruputan bakal menyapa lidah lalu menuai sensasi yang memikat otak untuk menimbang dan memutuskan agar jari-jemari manusia memungut tempe mendoan hangat yang sedang bergelimpangan di hadapannya.

Kemudian si manusia yang tengah hanyut dalam sensasi menyenangkan itu, lantas mencelup-celup sebentar tempe mendoan ke dalam adonan sambel kecap. Lalu menggigitnya pelan-pelan, melengkapi cita rasa teh tubruk yang kadung terekam sekian kilo byte dalam memori otaknya.

Alunan musik jazz yang lembut, gelombang suaranya menendang-nendang bulu-bulu syaraf gendang telinga, merangsang otak si pendengar untuk memberi instruksi telapak kakinya agar sedikit bergoyang.

Bisa juga otak bakal menyuruh rangkaian otot leher si pendengar untuk sedikit menggeleng-geleng pelan, bersamaan dengan pelupuk mata yang terkadang menutup pun membuka, melek merem nikmat mengikuti nada dan irama.

Semua itu adalah sedikit contoh betapa panca indera adalah dasbor bagi otak. Sebagai penyelaras pesan awal bagi otak guna menimbang dan memutuskan respon seperti apa yang tepat, agar manusia sebagai makhluk hidup berakal bisa berperilaku bijak dalam menjalani kehidupan.

Apabila manusia melulu hanya segumpal otak tanpa panca indera pun anggota tubuh lainnya baik organ luar maupun dalam, maka bumi sekedar planet biru tanpa kisah-kisah perilaku di dalamnya. Waktu sekedar berlalu tanpa hiasan jalan sejarah.

Tanpa perilaku manusia, maka bumi adalah tempat hunian yang membosankan.



… kelima indera, juga lengan, telapak tangan, jari jemari, sikut, lutut, tungkai, telapak kaki, tumit, bekerjasama satu sama lain, menentukan sikap agresif atau defensif.

Membela Diri

Manusia dengan otak, panca indera dan organ-organ tubuh luar dalam yang dianugerahkan, adalah bekal berperilaku dalam bumi, yang tak hanya mereka huni sendiri. Melainkan bersama dengan sesamanya, juga dengan makhluk hidup lainnya, yaitu hewan dan tumbuhan baik makro maupun mikroskopis.

Buminya hanya satu, kelimpahan tanah, air dan udaranya terbatas, membuat penghuninya saling bersaing satu sama lain, demi melanjutkan hidupnya.

Hewan dan tumbuhan baik yang hidup di daratan maupun perairan, saling bersaing dengan predator utama sebagai penentu keseimbangan sistem alam. Sekali predator utama punah, maka putaran persaingan alami menjadi tak imbang, yang justru merusak keseluruhan isi bumi.

Manusia, makhluk hidup paling berakal yang menjadi penentu keseimbangan putaran persaingan alami itu pun tak luput dari tuntutan bersaing satu sama lain.

Bedanya, jika hewan dan tumbuhan berlaku hukum rimba, di mana bagi mereka yang kuat adalah pemenangnya, maka manusia dalam bersaing masih dibatasi tatanan yang sering kali disepakati bersama. Agar persaingan menjadi elegan, lebih mengedepankan perilaku makhluk berakal yang tak mengandalkan kemauan naluriah belaka.

Akan tetapi, sifat manusia tak pernah sama persis antara satu sama lain. Dalam bersaing, adakala satu pihak tak mengindahkan tata perilaku yang disepakati bersama sebagai suatu norma, adab bersaing. Tipikal sifat manusia seperti ini cenderung agresif karena menghalalkan cara, demi memenangkan suatu persaingan.

Sebaliknya, sifat manusia yang mengindahkan adab bersaing, sering kali terkaget-kaget dengan serangan mendadak tipikal manusia beraksi agresif, yang memicu reaksi untuk bertahan, defensif.

Ribuan tahun lalu, menyadari akan adanya dua perilaku yang berlawanan itu, maka manusia menyadari bahwa otak, panca indera, anggota tubuh yang dianugerahkan kepadanya adalah perangkat alami untuk memenangkan suatu persaingan. Dalam ungkapan bersaing secara fisik, maka kemampuan menyerang dan bertahan pun lalu dipelajari.

Atas perintah otak, melalui milyaran simpul syaraf dalam tubuh, maka kelima indera, juga lengan, telapak tangan, jari jemari, sikut, lutut, tungkai, telapak kaki, tumit, bekerjasama satu sama lain, menentukan sikap agresif atau defensif.

Kerjasama internal tubuh manusia itu bakal menghasilkan gerakan-gerakan baik menyerang maupun bertahan, melindungi organ-organ tubuh yang bisa fatal jika dilumpuhkan.

Menyerang atau bertahan, keduanya menggunakan istilah yang sama; Bela Diri.



… Disebut seni, karena meski bisa melumpuhkan, namun terdapat keindahan dalam setiap gerakan uniknya.

Berbudi Luhur

Dalam perjalanan manusia mempertahankan pilihannya, lambat laun ilmu bela diri menjadi penting. Tak sekedar menjadi cara meraih kemenangan dalam persaingan, namun lebih ke nilai-nilai manusiawi tentang proses bagaimana persaingan itu bakal dimenangkan.

Banyak bangsa yang karena pengaruh budaya, alam lingkungan dan bentuk fisik orang-orangnya, lalu mengkreasi ilmu bela diri unik, yang menjadi dikenal sebagai seni bela diri khas bangsa itu. Disebut seni, karena meski bisa melumpuhkan, namun terdapat keindahan dalam setiap gerakan uniknya.

Amerika latin terkenal dengan Capoeira-nya. Asia tengah terkenal dengan Gulat-nya. Asia tenggara dengan Pencak Silat-nya. Adapun Eropa dengan bogem Tinju-nya.

Lalu, Asia timur juga dikenal paling kaya ragam seni bela diri mendunia, seperti Aikido, Judo, Karate, Ninjutsu, Tae Kwon Do, Wu Shu dan Kungfu.

Setiap ilmu seni bela diri tersebut, punya keunggulan masing-masing, baik dalam gerakan menyerang maupun bertahan. Oleh karenanya, agar bisa dipelajari, maka setiap gerakan punya nama sebagai teknik atau jurus yang mudah diingat. Dengan demikian, setiap pembelajar ilmu bela diri akan terbantu dalam mempraktikkan gerakan-gerakan unik dan memahami kegunaannya.

Beberapa teknik maupun jurus bisa sangat mematikan jika diarahkan ke bagian tubuh yang vital. Seperti Hook dalam tinju atau Shuto dalam karate yang menyasar rahang atau leher lawan, bisa berakibat fatal karena syaraf pernafasan bisa putusnya. Lalu kepalan tangan bagai palu godam ala Ninjutsu yang diarahkan ke arah dada lawan, mampu membuat organ jantung berhenti berdetak .

Kemudian pada pencak silat ada teknik Gejlig berupa tendangan tungkai kaki menyasar ulu hati. Ada lagi teknik bantingan khas Judo yang mengambil posisi pada titik tak seimbang lawan, yang bisa berakibat cidera tulang. Juga, tendangan putar ala Tae Kwon Do yang menghujam kepala, bisa berakibat putusnya tulang leher.

Metode Serang-Hindar Dalam Latihan Pencak Silat Perisai Diri. Sumber: fitriwardhono.wordpress.com

Semua teknik tersebut adalah sedikit contoh, betapa sikap agresif tanpa didasari budi pekerti yang luhur justru membuat nilai seni ilmu beladiri meluntur. Bukan keindahan yang muncul, melainkan hanya keburukan semata. Karena ilmu bela diri telah menjadi cara menyakiti bahkan menghilangkan nyawa sesama.

Inti keindahan ilmu bela diri, terletak pada keluhuran budi, menobatkannya sebagai seni yang mampu menyeimbangkan sistem berperilaku manusia, di bumi.



…telah menyiratkan pesan bahwa ilmu dan nilai-nilai yang diajarkan dalam seni bela diri, sejatinya untuk menggalang kebersamaan, mempromosikan perdamaian.

Berpromosi

Ribuan tahun berselang, adab bersaing mengalami perubahan seiring dengan perkembangan ragam ilmu pengetahuan dan pembelajaran manusia atas jalannya sejarah.

Tak bisa dihindari, perubahan itu pun turut mengimbas seni bela diri. Sejalan dengan perannya sebagai pendukung kodrat manusia agar bertahan dalam persaingan dengan sesamanya.

Bela diri yang tadinya hasil kajian penggunaan panca indera, otak, kaki dan tangan untuk menyerang dan bertahan, menjadi ilmu bela diri yang unik mewakili bangsa asalnya, yang kemudian dilembagakan.

Lembaga-lembaga seni bela diri khas dari banyak bangsa itu, lambat laun menebar ilmu dan nilai-nilai luhur di dalamnya, kepada orang-orang dari bangsa lain yang tertarik untuk mempelajarinya, sesuai minat, bakat masing-masing.

Lembaga-lembaga ilmu bela diri itu pun secara elegan saling bersaing, berlomba-lomba dalam mempromosikan keunggulan masing-masing, beserta nilai-nilai yang kebanyakan menjunjung kesportifan dan kemanusiaan, kepada dunia.

Pertandingan-pertandingan antar negara dari suatu lembaga bela diri, menjadi ajang persahabatan. Para peserta yang mewakili beragam bangsa pun turut saling mengenal Tak hanya menjadi ajang persahabatan, namun juga menyadarkan banyak orang bahwa seni bela diri itu sebenarnya universal.

Juga, dalam perhelatan pertandingan olah raga mulai tingkat regional hingga dunia, maka cabang-cabang seni bela diri yang diakui untuk dipertandingkan seperti Tinju, Karate, Judo, Tae Kwon Do, Wu Shu, Gulat, Pencak Silat, telah menyiratkan pesan bahwa ilmu dan nilai-nilai yang diajarkan dalam seni bela diri, sejatinya adalah untuk menggalang kebersamaan, mempromosikan perdamaian.



 … menasbihkan Kungfu sebagai seni bela diri yang lebih dikenal dunia, dalam sentuhan karya sinema yang tuturan kisah dan adegan laganya bisa membuat pemirsa ketagihan.

Menjadi Populer

Dibanding banyak bangsa yang dikenal mendunia sebagai asal suatu ilmu beladiri, maka Cina terbilang berhasil menjadi bangsa yang kreatif dalam mengemas seni bela diri menjadi runtutan kisah mengharu biru dalam karya seni, baik drama maupun sinema.

Sejak jelang akhir tahun 1960-an, Hongkong menjadi pusat industri perfilman terkemuka di kawasan asia timur, sangat produktif menghasilkan karya sinema berlatar belakang bela diri, kepada pemirsa setianya.

Terdapat dua perusahaan film besar yang bersaing ketat pada era itu, yakni Shaw Brothers dan Golden Harvest. Keduanya punya ciri khas tuturan kisah dan aliran bela diri yang menghiasi adegan-adegan laga.

Jika Shaw Brothers lebih banyak menampilkan Wushu bersenjatakan pedang, toya, tombak dan sebagainya dalam kisah-kisah drama dalam balutan suasana klasik, maka Golden Harvest lebih menonjolkan Kungfu, laga tangan kosong sebagai adegan laga yang terlihat lebih keras dan nyata. Keduanya juga punya jagoan andalan masing-masing sebagai pemeran utama.

Logo Perusahaan Industri Sinema Hongkong, Shaw Brothers.

Shaw Brothers mengandalkan nama-nama besar pemeran laga seperti duo David Chang, Ti Lung, Fu Hsen, Chen Kwantai, Jimmy Wang Yu, Gordon Liu, juga Lo Lieh aktor laga kelahiran Sumatra Utara.

Adapun Golden Harvest lebih populer dengan jagoan laga andalan produksi sinema laga yang melegenda seperti Bruce Lee, Chen Lung alias Jacky Chan, Jet Li dan Donnie Yen. Juga pernah terukir nama Chuang Chen Li yang lebih dikenal bernama Willy Dozan, pria asli Magelang Jawa Tengah, Indonesia.

Aktris Cheng Pei-Pei pelopor sosok pendekar wanita dalam Come Drink With Me (1966) produksi Shaw Brothers dan aktor Bruce Lee yang menjadi sosok legendaris dalam Enter The Dragon (1973) produksi Golden Harvest yang menembus pasar Hollywood, telah mengantar Wushu dan Kungfu semakin mendunia.

Ciri khas alur cerita juga menjadi pembeda kebanyakan film-film keluaran kedua perusahaan besar tersebut.

Penggalan aksi Alexander Fu Shen dalamThe Brave Archer (1977) produksi Shaw Brothers, Sang Pemanah Rajawali yang versi serial video kasetnya sangat laris tahun 1980-an.

Shaw Brothers lebih banyak menuturkan kisah berlatar belakang alam yang berpemandangan kuno. Dalam tuturan kisah berkisar urusan cinta, persaudaraan dan kesetiakawanan, dengan sosok baik dan jahat yang tak disajikan terlalu hitam putih. Adegan laganya pun tertata sebagai seni koreografi yang tak sekedar mengedepankan kekerasan, namun bagai sebuah prosa dalam bait-bait puisi.

Aksi David Chiang dalam One Armed Swordman (1967) produksi Shaw Brothers.

Sementara, Golden Harvest lebih berkisah dalam dunia yang lebih modern. Seringkali berlatar belakang dendam kesumat, dengan penyelesaian sengketa secara pragmatis, penuh adegan laga jual beli bogem mentah yang brutal nan nyata, bonyok berdarah-darah.

Aksi Chen Lung (Jacky Chan) dalam Drunken Master (1978) pendobrak tuturan kisah laga Kungfu berhias aksi komedi.

Dengan kelebihannya masing-masing, kedua brand industri layar lebar bercita rasa Cina tersebut, selama beberapa dekade telah berhasil menata proses yang menasbihkan Kungfu sebagai seni bela diri yang lebih dikenal dunia, dalam sentuhan karya sinema yang kisah dan adegan laganya membuat pemirsa ketagihan.

Kata Kungfu pun pelan namun pasti menjadi populer dan terpatri dalam benak banyak orang sedunia, menjadi seni bela diri terbaik.

Trio Jacky Chan, Sammo Hung dan Yuen Biao dalam Project A (1983) produksi Golden Harvest, pelopor film Kungfu dengan aksi lebih nyata, brutal, tanpa koreografi laga yang bagai orang menari-nari, meski mengakomodasi unsur komedi.



Alih-alih menghargai sejarah ilmu bela diri adalah mengedukasi perilaku mengalahkan hawa nafsu diri sendiri, malah bisa saling merendahkan lalu saling balas dendam.

Kisah-Kisah yang Menghipnosis

Memperkenalkan seni bela diri melalui pendekatan budaya populer yang kreatif, secara tak langsung telah memengaruhi opini, bahwa setiap ilmu bela diri itu memiliki kelebihan. Tak sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam karya-karya sinema yang menuturkan kisah persaingan, permusuhan antar ilmu bela diri.

Seperti yang dikisahkan dalam tetralogi Ip Man, besutan sutradara Wilson Yip, yang dibintangi aktor laga Donnie Yen. Berdasarkan sosok nyata, Yip Man sang ahli Wing Chun, salah satu aliran kungfu bagian selatan Cina yang dalam sejarahnya terkenal khas dengan kekuatan kuda-kuda tangan dan pukulan tinjunya.

Dalam keempat serialnya, film ini menitikberatkan kehebatan Wing Chun yang diusung oleh Ip Man sang sosok baik, sekaligus mengalahkan banyak sosok jahat yang memiliki ilmu seni bela diri lain, seperti Karate, Tinju dan seni beladiri khas Marinir Amerika (Marine Corp’s Martial Arts).

Seperti banyak karya sinema lainnya yang beralur mirip film ini, maka kalangan sineas Cina seolah punya kesempatan untuk mengumbar ‘dendam sejarah’. Antara lain masa pendudukan Jepang selama berkecamuk perang dunia II dan masa kolonisasi Inggris atas Hongkong selama seratus tahun.

Sehingga, semangat yang disampaikan bagi pemirsa baik dalam negeri Cina maupun bagi dunia, adalah menebar cara berpikir, mindset, bahwa Kungfu kejumawaannya berada pada tingkat teratas dalam hal seni bela diri.

Bagaimana tidak, sosok-sosok mulai master Karate, petinju profesional, hingga petarung Marinir Amerika semuanya berakhir kedodoran, tak berdaya, remek menghadapi Wing Chun.

Aksi Donnie Yen melawan Mike Tyson dalam Ip Man 3 (2015). Bahkan Mike Tyson mengeluh jari jemarinya mengalami retak tulang, saat syuting laga.

Belum lagi kisah-kisah lain dalam karya sinema seputar Shaolin versus Ninja, maka mesti si Ninja dibuat nelangsa.

Lalu ada sosok Chen Zhen yang diperankan aktor Bruce Lee, dikisahkan mengamuk tak terkendali dalam sebuah padepokan perguruan Karate, yang membuat puluhan orang Jepang bergelimpangan pada minta ampun, dalam Fist of Fury film laga Kungfu buatan tahun 1971.

Aksi Cheng Zhen diperankan Bruce Lee sedang mengamuk di padepokan pendekar Jepang dalam Fist of Fury (1971).

Semua kisah-kisah tersebut menafikan fakta, bahwa betapa kepalan pukulan petinju profesional kelas welter itu memiliki kekuatan lebih dari 2.500 Newton, yang jika sasarannya adalah kepala, bisa membuat penerimanya bakal mengalami koma berhari-hari dalam unit gawat darurat rumah sakit.

Lalu teknik Chudan Tzuki seorang karateka yang lurus menghujam ulu hati, bakal membuat penerimanya tersungkur menekuk, mirip Croissant, roti panggang khas Prancis.

Juga tebasan pedang Katana milik Samurai yang efektif menumpas lawan, tanpa banyak berpolah tingkah.

Jab sang legendaris Muhammad Ali mendarat telak ke wajah Oscar Bonavena dalam pertandingan tinju profesional 7 Desember 1970. Bukti bahwa pukulan seorang petinju memiliki potensi fatal jika tak mengenakan sarung tangan tinju sebagai peredam kekuatan pukulan.

Atau Kanuragan pencak silat andalan Paspampres, yang mampu membuat sasaran jatuh bangun kelimpungan tak berdaya, meski berjarak satu meter, tanpa menyentuh sama sekali.

Dalam dunia nyata, mempertimbangkan setiap ilmu bela diri memiliki kelebihan unik, maka mempertarungkannya satu sama lain adalah kesia-siaan, menjauhi nilai-nilai luhur yang tersemat di dalamnya.

Mempertemukan dua jenis bela diri yang berlainan, bakal menjadi pertunjukan pertarungan yang barbar. Sama sekali tak manusiawi, tanpa aturan dan bersemangat saling mencederai. 

Tidak apple to apple istilahnya, hanya sekedar pertarungan jalanan.

Alih-alih menghargai perjalanan sejarah ilmu bela diri yang mengedukasi perilaku mengalahkan hawa nafsu diri sendiri, justru malah memicu aksi saling merendahkan, lalu menuai reaksi saling balas dendam.

Selebihnya, dalam hal kreativitas karya seni, maka tetralogi Ip Man, juga karya-karya sinema lainnya yang bergenre laga berbasis bela diri asal Cina, telah berhasil menyemangati nasionalisme negeri itu melalui pendekatan kehebatan seni bela diri.

Meskipun, apabila alur kisah karya-karya sinema tersebut dikemas dalam tuturan yang lebih manusiawi, bakal lebih menarik, yang tak sekedar menjadi film laga yang kaya adegan baku hantam, namun lebih menginspirasi perjuangan menebar nilai-nilai sportif dan kemanusiaan.

Patut diakui, melalui media karya seni sinema, Cina berhasil menghipnosis dunia akan kejumawaan seni bela diri. Baik Wu Shu maupun Kungfu.



Itu contoh betapa politik di satu sisi adalah kejam, disisi lain menumbuhkan harapan.

Cina Juaranya

Metode menghipnosis dunia, tak hanya dilakukan Cina dibidang karya seni sinema, melainkan juga ke bidang yang secara nyata menimbulkan kepanikan global dalam waktu tiga tahun terakhir ini.

Betapa ketakutan dunia akan menyebar dan meningkatnya resistensi wabah Covid19 benar-benar mengurangi akal sehat, yang bahkan angka-angka persentase antara jumlah korban dan sembuh, tak lagi menjadi telaahan rasional.

Segala rencana untuk meraih tujuan, mendadak berubah gara-gara wabah.

Ilustrasi Karikatur potret perubahan rencana dan kacaunya kenyataan gara-gara Covid19.

Sejak awal wabah merebak tiga tahun lalu, semua orang pada takut tertular. 

Semua orang berlomba-lomba menghindari berinteraksi satu sama lain, secara langsung. 

Semua orang merasa aman tinggal di rumah. Semua orang menyimak berita, baik televisi, radio, kanal media sosial, yang berkisar kabar terkini tentang perkembangan wabah.

Hampir tak ada yang curiga, bahwa hanya berselang seminggu sejak wabah menyebar di Wuhan, ahli virus Cina menyampaikan kriteria genom Covid19 kepada lembaga kesehatan dunia, WHO, lalu memaparkan potensi genom tersebut menjadi wabah mendunia.

Banyak industri Cina yang menjadi andalan pasokan bahan jadi maupun setengah jadi bagi dunia, ditutup sementara, demi fokus pada upaya memerangi Covid19

Dampaknya luar biasa, kekurangan bahan-bahan pendukung putaran industri skala dunia, yang membuat ekonomi global hampir lumpuh pada bulan-bulan awal wabah menjadi pandemi bagi dunia.

Protokol Kesehatan berupa program penyemprotan disinfektan, mengenakan masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak saat berinteraksi sosial, mengkonsumsi asupan sehat bergizi, merupakan perilaku normal baru (New Normal) selama pandemi Covid19.

Tak hanya itu, ditambah rasa takut akan tertularnya virus mematikan ini, maka banyak orang-orang kaya pemilik perusahaan-perusahaan besar telah menjual saham-saham miliknya, dengan harga yang merosot tajam.

Gayung bersambut!

Kondisi demikian bertemu dengan naluri dagang khas taipan, membeli modal ketika harga sedang jatuh pada titik rendah. 

Cina pun  bakal membeli saham-saham jeblok itu, untuk menggeliatkan ekonomi. Sekaligus memengaruhi dunia, bahwa dalam persaingan dagang dengan Amerika, dia telah menjadi pemenang.

Amerika dan sekutunya tak bakal bisa berbuat banyak. Karena sejak lama dalam sistem ekonomi mereka, berlaku pula sistem pengelola jejaring sekumpulan orang kaya, yang memasok pendapatannya sebagai pajak, namun terlanjur telah menjual-jual sahamnya gara-gara mendadak panik. 

Cina menjadi juara dalam pertarungan ini.

Vaksin dan anti virus Covid19 telah ditemukan, industri Cina mulai dibuka, lima perusahaan besar Cina berhasil menjadi saham-saham yang harganya menjanjikan pemegang saham global.

Bagaimana dengan ribuan warga Wuhan yang menjadi korban karena Covid19?

Politik memang demikian. Mengorbankan sekian ribu orang untuk menumbuhkan harapan masa depan bagi sekian juta orang.

Indonesia pun pernah mengalami dampak permainan persaingan politik global yang demikian. Pasca huru hara jelang akhir tahun tahun 1965, nyawa ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang melayang. Sejarah lalu mencatat peristiwa itu sebagai titik balik pergantian orde lama ke orde baru, yang digadang-gadang mampu memperbaiki masa depan bagi sekian ratus juta rakyat Indonesia.

Itu contoh betapa politik di satu sisi adalah kejam, disisi lain menumbuhkan harapan.

Pihak yang memenangi sebuah persaingan, bakal menoreh tinta jalan sejarah sebagai pihak yang turut andil pada bagian yang mencerahkan. Sebaliknya pihak yang kalah mau tak mau harus selalu berbaik sangka, akur dengan jalannya sejarah.

Hanya saja, semoga metode hipnosis global ala Cina ini diiringi pula dengan semangat menebar nilai-nilai ilmu seni bela diri yang telah terpatri pada benak banyak orang akan kejumawaanya. Yaitu; Kemanusiaan dan Perdamaian.


Bahan bacaan penginspirasi tulisan;

  1. Anonymous, April 2021, How does the neuromuscular system work?, Neuromuscular system, healthdirect.gov.au.
  2. Zein, Dian Mochammad, 2014, Hubungan Power Tungkai Terhadap Hasil Tendangan Depan (Gejlig) Dan Tendangan Belakang Pada Cabang Olah Raga Pencak Silat, Universitas Pendidikan Indonesia.
  3. Somnambulist876, October 16, 2021, Ten Shaw Brothers Movies Any Kung Fu fan Must See, reelrundown.com.
  4. Raymond, Nicholas,  May 22, 2021, How Golden Harvest Signed Bruce Lee (& Who They Really Wanted), Screenrant.com.
  5. He, Laura, , Feb. 4, 2020, China could spend billions buying stocks if the coronavirus panic continues. It's done it before, CNN Business.
  6. Yeung, Jessie, Feb. 27, 2020, A global coronavirus: Travel bans, face masks, and fear, CNN World.
  7. Lango, Luke, Apr. 23, 2020, 5 Chinese Stocks to Buy for the Cecond Half 2020 Rebound, Chinese stocks are positioned to rally big in 2020 once coronavirus fears subside, InvestorPlace Investment Analysist.
  8. He, Laura, Dec. 15, 2021, China was already facing an economic slowdown in 2022. Now here comes Omicron, CNN Business.