Loncatan teknologi informasi menjadi ciri peradapan saat ini, telah mampu membawa manusia pada sebuah tatanan dimana jarak dan waktu tidak lagi menjadi permasalahan untuk bertukar informasi.

Pada tingkat sosial teknologi terjadi sebuah transformasi besar masyarakat sejak dua dekade terakhir ini, sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi  yang menciptakan ruang baru berskala global, yaitu cyberpace. Cyberpace telah mengubah secara radikal pemahaman manusia tentang ruang, komunitas, tubuh, realitas, dan fantasi.

Perkembangan bentuk-bentuk komunikasi dalam masyarkat terus berlangsung tak terkendali dengan kecepatan tinggi, sehingga bentuk komunikasi menawarkan gaya dan variasi yang beragam disertai kerumitan dalam memilah dan memilih komunikasi yang berkualitas seiring lenyapnya tujuan dan fungsi komunikasi tersebut.

Akselerasi perkembangan teknologi komunikasi juga menawarkan model komunikasi virtual dalam situs media sosial di internet, seperti Instagram, Facebook, Twitter, dan komunikasi profektik lainya. Vitalitas komunikasi dalam kehidupan masyarakat kontemporer telah mengukuhkan keberadaan komunitas virtual dalam internet yang dapat berkomunikasi virtual secara interaktif satu sama lain.

Fenomena komunikasi abad ke 21 ini, menjadi perhatian khusus seorang pimikir strukturalis postmodern, Jean Baudrillard kemudian melahirkan konsep hyperrealitas dan simulacra.

Menurut hemat penulis, Hiperrealitas yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard adalah sebuah konsep dimana realitas yang dalam konstruksinya berdiri atas simulasi realitas tetapi tidak berpacu pada realitas melainkan citranya sendiri dan permainan tanda-tanda virtual yang tidak memiliki eksitensi yang subtansial.

Baudrillard menyatakan bahwa tanda-tanda telah terputus dari realitas tidak sekadar merepresentasi, melainkan mensimulasi. Kondisi ini telah melucuti rasionalitas masyarakat yang tidak lagi membedakan antara realiatas nyata dan realitas semu.

Kerancuan dalam Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Proses simulasi ini kemudian mendorong lahirnya term ‘hiperrealitas, di mana orang lebih terpesona dengan  tanda  dari pada penanda (makna).

Dalam alam hiperealitas ini, orang  tidak lagi sadar bahwa apa yang dilihat sebagai suatu kenyataan sebetulnya adalah konstruksi atau rekayasa realitas lewat teknologi informasi. Sebab terjadinya pengambilalihan dunia realitas dan tatanan sosial budaya yang bersifat alamiah oleh model-model artifisial teknologi simulasi. 

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebut hingga Juni 2019 tercatat sebanyak 171 juta pengguna internet di Indonesia. Setiap tahun pengguna internet tumbuh 10,2 persen atau 27 juta jiwa. Platform media sosial paling banyak diakses adalah Facebook dengan persentase 50,7 persen, disusul Instagram 17,8 persen dan Youtube 15,51 persen (Gatra.com).

Artinya Indonesia menjadi negara yang paling aktif dalam kegiatan konsumsi tanda-tanda virtual. Keterpesonaan masyarakat dalam bermedia sosial dan ketidaksadaran masyarakat yang disetir atas tanda dan kode, membawanya pada kerancuan mengidentifikasi identitas yang asli dan semu. Masyarakat, kemudian memiliki dua identitas; Identitas dunia nyata dan identitas virtual, dalam konsep kediriannya “self”.

Dalam dunia nyata, identitas adalah bahwa “satu tubuh, satu identitas”. Dalam dunia virtual, seseorang dalam dunia nyata bisa saja membuat beberapa identitas virtual sesuai dengan kemauan dan kemampuannya. Ia bisa menjadikan dirinya lebih bijak, lebih cerdas, lebih tampan dan lebih anggun.

Hal ini tidak terlepas dari perputaran dan pergantian citra,  kode,  informasi, barang, gaya, dan fashion yang tanpa henti, yang telah menyerab perhatian (perception) dan kesadaran (consciousness) masyarakat di dalam mekanisme kecepatan.  Inilah yang dimaksud Baudrillard Ecstasy of Commnication, " Tidak ada lagi transdensi atau kedalaman,  selain hanya permukaan operasional yang bersifat imanen,  permukaan komunikasi yang halus dan fungsional".

Ekstasi menjadi paradigma dari hampir semua fenomena sosial,  yang didalamnya segala sesuatu media,  politik,  tontonan,  informasi,  moneter,  seksual terperangkap di dalam keharusan operasional dan sirkulasi. Sehingga dalam kecepatan pergantian informasi,  gaya maupun kode tidak ada lagi ruang untuk pesan dan makna. 

Di dalam Kondisi demikian, masyarakat lalu menjalani hidup dalam kungkungan ekstasi komunikasi yang kacau, yang menjadikannya terikat secara total,  yang menjadikannya Hiper,  yang mengubahnya menjadi manusia yang panik, manusia-manusia yang cemburu terhadap segala sesuatu yang dipertontonkan dalam kehidupan sosialnya.

Bentuk komunikasi telah menghilangkan batas antara bagian dalam dan bagian luar sehingga ruang privat tidak lagi menjadi rahasia. Kehidupan yang paling intim, sekarang menjadi penopang hidup virtual media. Ekstasi komunikasi telah menciptakan dunia baru yang cabul atas segala sesuatu yang diperlihatkan, dipertontonkan, dan dikomunikasikan secara telanjang.

Fonomena hyperrealitas juga mampu mentranformasikan hubungan manusia kedalam objek yang dikontrol oleh kode atau tanda tertentu. Masyarakat terkurung di dalam sebuah dunia yang tidak pernah berhenti berlari, tidak pernah menurunkan kecepatan pergantian produk,  gaya dan gaya hidup, tidak pernah mengurangi kecepatan inovasinya, dan  tidak pernah mengurangi tempo konsumsinya.

Keadaan ini telah menimbulkan berbagai patologi psikis pada masyarakat, khususnya berbagai kondisi "panik",  yaitu kondisi mental yang ditandai oleh ketakutan yang tidak beralasan, yang membuatnya berlari mengimbanggi ritme produksinya.

Masyarakat kita dikelilingi oleh kondisi panik,  yang menghasilkan "mentalitas ekstasi", yaitu mentalitas yang merayakan kegairahan sehingga melupakan arah dan tujuan. Anggapan masyarakat kini  bahwa jarak sosial dapat ditinjau dari selera tanda, merk barang, genre music, bahkan cara berpakaian. Perbedaan status dimaknai sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan diukur dari banyaknya tanda yang dikonsumsi.

Sebagai akhir, penulis ingin katakan bahwa realitas saat ini menjadi orgasme kebudayaan dalam fantasi komunikasi yang dibangun atas frustasi realitas yang kacau. Masyarakat lebih memilih hidup dalam reliatas artifisial dengan kadangkalan makna dan kebahagiaan yang semu.

Sebagai penghambaan simbol, ia terus memupuk pengakuan dan pemujaan terhadap gangsi. Ia memilih berlari mengimbanggi arus global. Ia terus berlari, meski tanpa meninggalkan jejak-jejak ketuhanan dibelakangnya.  Citra ketuhanan tenggelam dalam keangkuhan dan kesombongannya dalam menguasai alam komunikasi baru.