Ada yang berkelakar di tengah-tengah orang-orang Indonesia menonton Euro 2020 (yang dilaksanakan di 2021) sembari itu kasus di Covid di Indonesia kian hari, kian meningkat. Bahkan kini menembus angka fantastis lebih dari 20.000 kasus. Padahal kalau kita melihat tren data kasus pernah terlihat dalam tren data itu dalam kisaran dibawah 100 per hari dalam kurun waktu Maret dan April di tahun 2020. Setelah itu kondisi normatif dengan kasus dibawah 1000 di bulan Juni 2020. Kemudian angka normatif dibawah 10.000 berjalan dalam kurun waktu Juli 2020 hingga Juni 2021. Dan kemudian melonjak mencapai angka 20.000 per hari.

Covid pula telah berjalan setahun. Tentu perasaan atau kondisi yang dirasakan dengan awal kejadian covid di tahun lalu dengan kondisi kini terasa berbeda. Di awal-awal kejadian, orang atau sebagian besar orang menempatkan kesadaran bahwa dunia sedang dilanda wabah penyakit dan berkepanjangan disertai tidak tahu kapan itu berakhir.

Berdasarkan literatur Kemenkes dalam Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disesase tertulis tanggal 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. 

Pada tanggal 7 Januari 2020, China mengidentifikasi kasus tersebut sebagai jenis baru coronavirus. Tanggal 30 Januari WHO menetapkan kejadian tersebut sebagai kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang meresahkan Dunia. Kemudian tanggal 11 Maret 2020 WHO menetapkan Covid 19 sebagai Pandemi.

Kondisi setahun yang lalu dan kondisi saat ini terasa berbeda, setahun yang lalu orang dengan “rela untuk dikandangkan” di rumah. Orang dengan “senang dan gembira” untuk sekedar menikmati aktivitas di rumah, berkuliah melalui daring, menyaksikan berbagai seminar dan pelatihan melalui daring dan sebagainya. Perspektif pandemi menjadi sangat beragam, ada yang menempatkan pandangan dari covid itu palsu, covid itu permainan politik, covid itu semu, hingga covid itu ‘dagangan kapitalis’. 

Tentu tak sedikit juga yang menempatkan pandangan bahwa covid itu ada, bagian dari virus yang bisa mempengaruhi kesehatan dan dalam kondisi tertentu bisa menyebabkan kehilangan nyawa. Ada pula yang menempatkan pandangan normatif seperti halnya bahwa covid itu flu biasa. Memang kesadaran tentang herd immunity atau kekebalan bersama adalah hal yang dilakukan dengan vaksin mencapai 70% masyarakat merupakan kondisional dari kekebalan bersama yang diharapkan.

Perspektif soal covid juga sangat beragam dari yang serius hingga yang sekedar bercanda namun satir. Misalkan covid 19 dengan varian baru hanya “jualan dan bualan politik” untuk mencapai tiga periode, hingga orang-orang yang terus menggalakkan kesadaran penggunaan masker dua lapis lebih baik.

Di tengah pandemi ragam kondisi juga dialami setiap kondisi keluarga di Indonesia dari yang bisa tetap kongko-kongko kaki sambil tetap menikmati sajian minuman di pagi hari tanpa resah dengan dampak pandemi, ada orang-orang yang terpaksa harus keluar rumah hanya untuk “terpaksa” menjalankan rutinitas untuk mendapatkan penghasilan, ada orang yang bisa saja tetap di rumah dengan kondisi seadanya, ada juga yang tetap begitu-begitu saja entah ada atau tidak ada pandemi, mereka tetap berjejaran di jalan-jalan, di pinggiran-pinggiran lampu merah sambil memegang sebuah kaleng. 

Awal-awal kejadian covid, orang-orang atau saya sempat berpikir bagaimana dengan mereka (“peminta-peminta”) dengan kondisi covid ini di tengah-tengah orang sibuk mencari masker dan hand sanitizier. Alangkah hiperbola hidup ini, alangkah hiperbola kondisi negeri kita dan awal-awal covid ini malah hand sanitizier dan masker ditimbun orang tak bertanggung jawab.

Hiperbola itu adalah asas dasar rasa tidak saling percaya atau semacam reduksi kesadaran di tengah-tengah publik. Hiperbola itu bermula ketika di awal-awal kesiapan respon masyarakat terhadap covid, ada semacam “rasa percaya diri secara berlebihan” oleh pejabat-pejabat kita, “Kalau tidak ada kasus itu ya justru disyukuri bukan malah dipertanyakan terus” atau semacam “Salahmu sendiri kok beli masker ya. Masker kan untuk orang sakit” atau semacam pseudo-kesadaran dengan mengatakan kekebalan karena nasi kucing.

Hiperbola itu karena disrupsi kesadaran antara penyebutan kepada orang-orang yang menganggap covid sebagai palsu, konspirasi, dan sebagainya. Penyebutan pseudo-sains kepada orang-orang ini. Kemudian bertentangan dengan orang-orang yang merasa perlu melakukan penggunaan masker, mencuci tangan, jaga jarak, mandi setelah beraktivitas di luar rumah dan sebagainya.

Disrupsi kesadaran juga adalah pertentangan dari orang yang menolak divaksin dan menganjurkan vaksinasi. Kejadian-kejadian ini terlalu hiperbola. Hiperbola juga termasuk dalam hal pemeriksaan antigen dan antibodi dengan harga yang kadang selangit dari pihak swasta untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Demonstrasi soal penghentian pemeriksaan seperti ini dengan berbayar dilakukan di berbagai daerah. 

Selain itu di tengah-tengah itu tentu ada orang yang mengalami semacam perasaan kewaspadaan yang berlebihan (hypervigilant) yang mengarah pada gangguan ketakutan, kecemasan yang berlebihan, depresi, insomnia. Tentu secara teoritis keadaan seperti ini dengan stress yang berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. Tubuh memberikan reaksi atas perasaan stress yang muncul seperti detak jantung yang lebih cepat, otot menjadi kaku bahkan hingga tekanan darah yang meningkat.

Kondisi kini dengan kondisi ketika awal covid berbeda. Sebelumnya orang-orang masih “rela” untuk tetap di rumah, sekarang ajakan untuk kembali beraktivitas di rumah saja mungkin terasa sulit. Penulis yang saat ini berada di Sulawesi Selatan melihat orang tetap saja melakukan aktivitas dengan biasanya, kendaran-kendaran terasa padat. Memang realitas dengan kekebalan bersama lebih diharapkan dengan proses vaksinasi. 

Pelonjakan kasus terasa “membahayakan”, tetapi dengan kondisi demikian orang dengan pandangan normatif tentu berharap kekebalan bersama harus terbentuk. Penderita komorbid memang akan sangat terasa susah dengan harapan kekebalan bersama, penderita komorbid menjadi sasaran waspada dalam kondisi ini.

Hal yang lebih mendasar dari kekebalan bersama adalah penempatan kesadaran bersama. Penempatan kesadaran bersama bukan untuk soal pembenaran penggunaan masker, cuci tangan atau jaga jarak atau kembali tetap di rumah. Tapi soal penerimaan bersama atas berbagai perspektif soal covid itu agar orang saling menempatkan pandanganya masing-masing soal covid itu. Agar disrupsi kesadaran di ruang publik itu  terhindari dan perspektif soal covid menjadi pandangan normatif dari ragam perspektif itu. Tapi mula-mula penumbuhan kesadaran itu harus dimulai dari penumbuhan rasa kepercayaan dari laku pemerintah kita sebab orang-orang ini mengalami disrupsi kesadaran karena tingkah pemerintah kita yang membuat perasaan ragu lebih kuat daripada perasaan waspada. 

Atau ada semacam satir misalkan yang membuat orang yang menerima pemberian bantuan karena covid kemudian “mendoakan” covid untuk umur panjang. Padahal dengan kesadaran dana bantuan sosial covid juga dikorupsi. Akhirnya kita akan selalu stagnan pada perspektif, “Covid itu nyata tapi proyek dari covid juga nyata, tragisnya orang meninggal karena covid juga nyata, tapi orang meninggal karena dicovidkan juga nyata”. 

Hiperbola memang kita semua dan orang-orang kita. Tapi setidaknya kita jangan hiperbolakan covid. Dengan mula-mula penumbuhan kesadaran akan kepercayaan kepada pemerintah soal vaksinasi dan kebijakan-kebijakan soal penanganan covid adalah hal mendasar tapi dimulai dari pemerintah sendiri untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakatnya.