Bulan puasa menjadi bulan yang paling didambakan umat Islam. Bulan yang sangat istimewa. Keistimewaannya membuat orang-orang tidak bersedia dan selalu berharap agar bertemu dengannya. 

Bulan puasa adalah hal yang sangat monumental. Sebab ia hanya terjadi sebulan dalam setahun. Sekali terjadinya dalam setahun itulah yang membuat umat Islam harus mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat dan dengan hal yang sebaik-baik mungkin.

Namun pada fakta lapangannya, hal-hal di atas, seperti mengisi bulan dengan hal-hal bermanfaat dan hal yang sebaik-baiknya, sekadar euforia semata. Hanya angan-angan yang pada gilirannya hilang seiring dengan berlangsungnya waktu puasa. Apa yang ditekadkan untuk dilakukan, terlupakan. Hal yang dilakukan justru berseberangan dengan yang diagendakan.

Di tulisan ini, saya merangkum hal-hal tidak baik yang dilakukan ketika bulan puasa. Karena ia cenderung dilakukan secara ekstrem atau berlebih-lebihan. Andai saja dilakukan ala kadarnya atau biasa-biasa saja, tentu tak masalah. Sebab ia adalah hal yang wajar dan mungkin hal yang pokok dalam kehidupan kita manusia.

Agama, dalam hal ini Islam, selalu mendakwahkan dan mengingatkan pada kita bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik. Baik berlebihan dalam tambahnya atau berlebihan dalam kurangnya. Karenanya Islam mengandaikan umatnya agar senantiasa melakukan segala sesuatu secara moderat, tengah-tengah dan seimbang.  

Apa hal-hal baik yang menjadi tidak baik karena dilakukan secara esktrem tersebut? Saya melihat setidaknya ada tiga, yakni dalam hal tidur, dalam hal makan dan membeli makanan. Jika hal tersebut dianggap masih kurang, pembaca bisa menambahkannya sendiri. Jelasnya, dalam tulisan ini, saya hanya akan fokus pada tiga hal di atas.

Pertama, tidur. Tidur pada dasarnya adalah hal yang baik dan juga merupakan kebutuhan setiap manusia. Tidur menjadi tempat melepas penat setelah sebelumnya berkegiatan penuh. Setiap manusia menghendaki tidur. Tapi tidak sepantasnya ia dilakukan secara berlebihan. Karena bukannya membawa kebaikan, nantinya justru memberi dampak buruk.

Dalam bulan puasa, banyak orang-orang yang melakukan tidur secara berlebihan. Umumnya, tidur yang sehat menurut ilmu kesehatan adalah kisaran 8 jam. Namun dalam berpuasa, tidak sedikit orang yang tidur di atas jumlah maksimal tersebut. 

Secara general (umum), alasan mereka tidur panjang adalah untuk memperpendek waktu menuju berbuka puasa. Misalnya ada orang yang nekad tidur dari setelah sahur sampai menjelang waktu asar atau sekitar jam 5 an.

Mereka yang tidur sepanjang itu biasanya tidak tidur dalam waktu sekaligus. Artinya tidak tidur sepenuhnya dari setelah sahur sampai menjelang waktu asar. Tidak. Ada kalanya di rentang waktu yang panjang itu mereka bangun. Barang sekali, dua kali atau tiga kali. Namun bedanya, setelah bangun dari tidur, mereka tidak segera beranjak meninggalkan kasur, mandi dan kemudian beraktivitas di dalam dan di luar rumah.

Setelah bangun, mereka malah memilih tetap baring dan uring-uringan di atas kasur sambil berusaha agar tertidur kembali dan begitu seterusnya. Karenanya banyak yang sembari bergurau mengatakan bahwa itu bukan tidur lagi, melainkan latihan meninggal. Karena saking lamanya. Semoga pembaca tidak termasuk di dalamnya.

Tentu kita menaruh kasihan dan prihatin dengan orang-orang seperti itu. Memang ada sebuah hadis yang beredar, bahwa tidur di bulan puasa itu adalah ibadah. Matematikanya kemudian, makin banyak dan lama tidur kita, makin banyak pahala yang akan diraup. 

Tapi kawan-kawan juga perlu ketahui, bahwa hadis tersebut adalah lemah (dha’if) menurut ulama. Artinya, kita tidak boleh bergantung padanya dan menjadikannya sebagai pedoman.

Bukannya ketimbang diisi dengan banyak tidur, akan lebih baik jika bulan puasa ini diisi dengan hal-hal yang produktif dan memiliki nilai tambah pada pengembangan diri kita (self development). 

Bisa dengan mengikuti aktivitas sosial seperti membagi takjil untuk berbuka puasa mungkin. Ikut berbagi masker dan melakukan sosialisasi tentang pentingnya jaga jarak dari kerumunan untuk saat ini. Karena kita sedang menghadapi wabah yang disebut dengan covid-19.

Itu kalau kita suka dengan kegiatan yang sifatnya sosial. Jika tidak, mungkin kita bisa melakukan hal-hal lain yang juga sama nilainya. Seperti membaca buku untuk meluaskan wawasan, menulis untuk mengembangkan skill, membaca al-Quran untuk mendapat pahala yang banyak, murajaah (mengulangi) hafalan al-Quran bagi yang punya hafalan, bercengkerama dengan keluarga untuk membuat komunikasi lebih baik dan masih banyak lagi yang lain. 

Semuanya bisa dilakukan. Sebab poinnya adalah selama itu bermanfaat bagi diri kita.

Kedua, makan. Satu hal ini juga tidak jarang dilakukan secara ekstrem ketika bulan puasa oleh sebagian orang. Mereka melakukannya bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk memenuhi keinginannya. 

Akibatnya, yang dimakan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan si perut, tapi sesuai tuntutan nafsu. Walaupun perut telah merasa dipenuhi kebutuhannya, makanan tetap dimasukkan ke mulut. Karena merasa masih belum puas.

Hal yang demikian tentu sangat berbahaya. Berbahaya bagi tubuh. Berbahaya bagi kesehatannya. Bisa membuat malas bergerak dan membuat cepat kantuk. 

Bukannya Nabi berulang kali berpesan pada kita bahwa perut itu kalau bisa diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air minum, dan sepertiga lainnya untuk bernafas. (HR. Baihaqi)? Artinya, kita disuruh makan secukupnya. Makan untuk sekedar menegakkan tubuh kita yang sebelumnya lemas menahan lapar akibat puasa. Tidak lebih dari itu.

Ketiga, membeli makanan. Terkadang karena saking laparnya, ketika berada di pasar, semua makanan dan minuman ingin kita beli. Dari es buah sampai ke kue-kue manis. Banyak sekali yang dibeli. 

Baguslah kalau beli banyak-banyak seperti itu untuk dibagi-bagikan ke anak yatim, mereka yang membutuhkan atau tetangga kiri-kanan kita. Tapi bagaimana jika kemudian dibawa ke rumah, dan lantas tidak habis dimakan, itu kan bahaya. Mubazzir. Sedangkan Allah dalam al-Quran surah al-Isra [16]:26-27 berfirman:

Dan janganlah kamu menghamburkan harta-hartamu secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan.

Artinya, kita dilarang al-Quran untuk mubazzir. Karena ia adalah bagian dari perbuatan setan-setan. Dari sini pelajaran yang bisa kita tarik adalah bahwa kita tidak hanya menahan nafsu tidak makan dan tidak minum ketika berpuasa, tapi juga harus menahan dan mengendalikan nafsu yang buruk-buruk dalam segala hal dan setiap waktu. Termasuk dalam kasus membeli makanan di atas.        

Sebagai penulis, tidak ada yang saya harapkan pada pembaca kecuali semoga kita terhindar dari tindakan-tindakan ekstrem yang demikian. Sebab amat menjauhi anjuran agama yang menganjurkan kita agar tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu. Dan semoga bulan puasa tahun ini menjadi sesuatu yang berkah bagi kita.