Anak merupakan generasi emas penerus bangsa yang patut diperhatikan tumbuh kembangnya. Tumbuh kembang anak akan sangat dipengaruhi oleh keadaan fisik dan mental anak. 

Di Indonesia tidak semua anak mendapatkan pola asuh yang layak, baik dari keluarga maupun lingkungan sosialnya. Pola asuh yang keliru dan kekerasan terhadap anak masih banyak dijumpai di Indonesia. 

Hasil Survei Sosial Ekonomi (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menyebutkan bahwa kurang lebih 3,73 persen dari bayi di bawah umur lima tahun (balita) pernah mendapatkan pola asuh kurang layak.

Tidak jarang ditemui bahwa di Indonesia kekerasan terhadap anak masih sangat marak terjadi. Dari salah satu survey Kemen PPPA menyebutkan bahwa angka laporan kasus kekerasan terhadap anak tercatat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2019 ada sekitar 11.057 kasus kekerasan terhadap anak kemudian ditahun 2020 meningkat menjadi 11.278 dan terus meningkat menjadi 14.517 pada tahun 2021. Serta jumlah korban kekerasan terhadap anak ikut terus meningkat dari 12.285 pada 2019, 12.425 pada 2020, dan menjadi 15.972 pada tahun 2021.

Munculnya kasus kekerasan terhadap anak ini sebagian besar berasal dari keluarga dan kerabat dekat. Pola asuh yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab utama timbulnya kekerasan terhadap anak. 

Untuk menghindari hal buruk tersebut, maka orang tua harus mengenali serta mempelajari gaya parenting yang tepat untuk diterapkan pada anak. Ada beberapa gaya parenting yang perlu orang tua kenali, pelajari dan pahami. Berikut 4 gaya parenting yang perlu diketahui:

1. Pola Asuh Permisif (Permissive Parenting)

Pola asuh permisif dapat disebut sebagai pola asuh yang cukup toleran dan cenderung memanjakan anak. Ciri-ciri gaya parenting seperti ini biasanya ditandai dengan rendahnya tuntutan orang tua terhadap anak dengan sikap responsive tinggi yang diberikan orang tua kepada sang anak.

Orang tua yang menggunakan  gaya Parenting seperti ini cenderung memberikan ruang yang cukup besar untuk anak dalam menentukan segala hal yang ia inginkan. Orang tua memberikan kepercayaan besar terhadap anak dan hanya menetapkan sedikit aturan.

Efek dari gaya Parenting ini biasanya menjadikan anak kekurangan disiplin diri, cenderung memiliki keterampilan bersosialisai yang rendah serta menjadikan anak semena-mena terhadap diri dan lingkungannya.

2. Pola Asuh Otoritatif (Authoritative Parenting)

Gaya parenting ini dikenal juga dengan pola asuh yang demokratis yaitu di mana orangtua dan anak selalu melakukan diskusi untuk menghasilkan sebuah solusi disetiap masalah. 

Gaya parenting seperti ini memberikan kesempatan yang besar terhadap anak tetapi dengan aturan dan tuntutan yang tegas dari orang tua.

Pola asuh seperti ini mendorong anak untuk berani berpendapat dan percaya diri. Anak cenderung akan merasa dihargai, karena orangtua memberikan ruang kepada anak untuk mengutarakan pendapat. 

Sikap saling menghargai dan saling memberikan ruang seperti ini dalam keluarga akan bisa mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Dengan gaya parenting Otoritatif ini bisa mendorong anak untuk lebih disiplin dan mandiri, serta mendidik anak untuk bisa membuat dan menentukan pilihan terbaik. 

Pola asuh ini memberikan kesempatan yang besar kepada anak untuk bisa menentukan apa yang ia inginkan walaupun harus mempertimbangkan peraturan dari orang tua.

Banyak penelitian yang menyebutkan, bahwa gaya pola asuh otoritatif adalah yang terbaik untuk diterapkan pada anak.

3. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian Parenting)

Gaya parenting ini ditandai dengan adanya aturan yang kaku dari orangtua dan tingginya harapan orangtua terhadap anak. Karakteristik gaya parenting seperti ini umumnya memperlihatkan bahwa orangtua memiliki aturan yang ketat dan sangat menuntut dan cenderung mendominasi setiap keputusan yang diambil dengan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk berpendapat.

Efek dari gaya parenting seperti ini membuat anak-anak memiliki perilaku yang lebih agresif di luar rumah, mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, memiliki percaya diri yang rendah, dan tidak jarang membuat anak merasa sangat tertekan.

4. Pola Asuh yang Tidak Terlibat (Uninvolved Parenting)

Gaya parenting seperti ini termasuk ke dalam salah satu gaya parenting yang cukup berbahaya. Dikatakan demikian karena pada gaya parenting semacam ini, orang tua tidak memenuhi kebutuhan anak, serta mengabaikan setiap kegiatan yang dilakukan anak tanpa memberikan apresiasi.

Dengan gaya parenting seperti ini, Orangtua berpikir bahwa anaknya bisa membesarkan diri mereka sendiri. Namun hal inilah yang keliru, orangtua dengan pola asuh ini menyebabkan psikis anak terganggu sebab kekurangan kasih sayang dari orangtua.

Anak-anak yang terpapar gaya parenting seperti ini sebagian besar merasa tidak bahagia dalam hidupnya, cenderung tidak berprestasi baik di bidang akademik maupun non-academik, dan memiliki percaya diri rendah.

Gaya parenting seperti ini dirasa kurang tepat untuk diterapkan. Mengapa demikian? Sebab gaya parenting ini cenderung membiarkan anak untuk sepenuhnya melakukan hal apapun tanpa pengawasan dan apresiasi dari orangtua.

Ketika orangtua 'lepas tangan' terhadap segala kegiatan anak tanpa memberi peraturan dan pengawasan yang jelas, maka ditakutkan itu akan mengakibatkan hal yang buruk.

Anak bisa saja melakukan hal buruk tanpa sepengetahuan orang tua akibat dari sikap acuh orang tua terhadap pertumbuhan fisik maupun mental anak. Untuk itu orangtua perlu mengawasi tumbuh kembang anak.

Orangtua disarankan untuk tetap mengawasi dan memberikan anak kesempatan untuk mengutarakan pendapat agar  untuk diberikan kesempatan untuk menentukan hal yang ia inginkan,

Dari ke-empat gaya parenting di atas, makanah yang sudah Anda terapkan? Pilih dan kenali pola asuh terbaik untuk anak demi menciptakan generasi emas bangsa.