Sejak awal berdirinya sebuah organisasi yang di beri nama Nahdlatul Wathan oleh pendirinya, T.G.K.H. M. Zainuddin Abdul Madjid. Dari 18 November Tahun 1912 sampai dengan sekarang Nahdlatul Wathan (NW) sudah berkomitmen untuk memajukan peradaban bangsa Indonesia.

Terbukti, dari belum berdiri sebagai sebuah organisasi, Nahdlatul Wathan sudah memulai untuk melakukan ikthtiar untuk  pembangunan Negeri, khususnya di bidang pendidikan.

Konsistensi pendiri Nahdlatul Wathan dalam menjalankan perjuangan memajukan bangsa Indonesia, dapat di rasakan secara mutlak, setelah adanya pengakuan pemerintah, yang secara jelas dituangkan dalam Keputusan Presiden, yang terdata dan tercatat.

Atas jasa-jasa T.G.K.H. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan keputusan presiden RI nomor 115/TK/tahun 2017. Diantara dasar-dasar penetapan itu adalah karena beliau dengan organisasi Nahdlatul Wathan telah mempelopori keberadaan institusi institusi pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa,.

Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) sebagai sebagai salah satu lembaga otonom Nahdlatul Wathan yang dibentuk langsung oleh T.G.K.H. M. Zainuddin Abdul Madjid sebagai bentuk perpanjangan tangan dari organisasi Nahdlatul Wathan dalam menjalankan program program organisasi, terutama dalam bidang pendidikan.

Tak bisa di pungkiri juga, bahwa lahirnya HIMMAH NW merupakan sebuah keharusan sejarah yang didorong oleh dua faktor; internal dan eksternal. Faktor internal berhubungan dengan Nahdlatul Wathan sebagai organisasi induk yang memandang perlunya pola perkaderan (pembinaan ideologi) dan penguata syiar dakwah di kalangan mahasiswa. Sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan kondisi kebangsaan; realiatas sosial dan politik tahun 60an yang pada saat itu penuh gejolak.

Hal ini tentu menegaskan, bahwa HIMMAH NW tidak terlepas dari nilai dan semangat dan komitmen Nahdlatul Wathan untuk pendidikan. Sebagaimana termaktub dalam maksud dan tujuan Nahdlatul Wathan yakni, “li i'la'ikalimatillah (meninggikan kalimat Allah) wa'izzil Islam wal Muslimin (kejayaanislam dan kaum muslimin) dan keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dandi akhirat”.

Demikian diteruskan menjadi tujuan HIMMAH NW itu sendiri yakni, “li’ lai kalimatillah izzul islam wal muslimin melalui pembinaan kader profesional yang mengabdikan diri untuk kesejahteraan ummat, bangsa dan negara”. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, HIMMAH NW selalu berupa untuk mengadakan program program yang mengembangkan pemikiran dan potensi sumberdaya manusia dalam konstelasi pembangunan bangsa. Dimana, konsepsi keberagamaan dapat dimanifestakan menjadi transforasi sosial.

Selain itu, semangat kebangsaan dan keindonesiaan menjadi bagian tak kalah penting dalam anggota HIMMAH NW. Sebagai organisasi kemahasiswaan yang notabenenya adalah kaum intelektual, HIMMAH NW memiliki sandangan tanggung jawab sebagai agen perubahan di masa depan.

Pada tahun 2021 ini HIMMAH NW sudah berusia 55 tahun, suatu perjuangan yang panjang. Lebih dari setengah abad HIMMAH NW memberikan kontribusinya kepada Bangsa melalui pendidikan.

Pada 12  September 2021, pimpinan pusat HIMMAH NW menggelar Musyawarah Kerja Nasional Tahun 2021 sebagai langkah baru menetapkan program kerja, skala prioritas dan kebijakan strategis organisasi, kegiatan ini mengambil tema “Transformasi Juang untuk Indonesia Maju".

Transformasi Juang untuk Indonesia Maju" ini, sejatinya merupakan upaya mewujudkan cita cita intelektual T.G.K.H. M. Zainuddin Abdul Madjid sebagai pendiri Nahdlatul Wathan dan HIMMAH NW.

Refleksi 55 Tahun HIMMAH NW

Secara kritis aktivisme HIMMAH NW saat ini mengalami degradasi etos. Ada tiga ciri aktivisme HIMMAH NW yakni, gerakan, intelektual, dan perkaderan. Tiga hal inilah yang menjadi simbol hidupnya HIMMMAH NW. Tiga hal ini pula yang menjadi kunci dari identitas sebuah organisasi kemahasiswaan. Apabila ketiganya kehilangan etos, maka nilai dari organisasi pun akan hilang.

Pertama, pada era sebelum reformasi, mahasiswa identik dengan gerakan kritik pemerintah sehingga dapat melahirkan sejarah-sejarah besar seperti, tragedi 1965 hingga 1998. Hal itu terjadi karena memang semangat perlawanan mahasiswa benar-benar dipupuk dengan melakukan kajian dan analisa strategis terhadap kondisi bangsa. Pergerakan mahasiswa pada saat itu dilandasi atas komitmen dan kematangan kajian yang kuat. Sehingga gerakan benar-benar bisa masif. HIMMAH NW pun menjadi mewarisi jiwa jiwa kritis itu.

Namun, dewasa ini aktivisme HIMMAH NW di wilayah gerakan dapat dikatakan loyo, jika tak mau dikata telah mati. Bagaimana tidak, sejauh pengetahuan penulis sejak 2020 hingga sekarang tidak ada satu pun gerakan yang dapat dikatakan masif (konsisten) untuk melawan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan pemerintah. Walau ada beberapa gerakan, namun itu dapat dibuktikan hanya ritualitas aksi dan eksistensi semata. Padahal, kalua mau dikupas, hari ini banyak persoalani kebangsaan yang urgent untuk dikritisi. Alhasil, peran mahasiswa sering dianggap tidak ada oleh masyarakat.

Kedua, persoalan intelektual kader-kader HIMMAH NW menjadi getir dan kehilangan etos. Aktivis pada masa orde baru aktif melakukan pengayaan-pengayaan wawasan akademik lewat membaca, menulis dan diskusi (literasi). Hal ini berbeda dengan aktivis mahasiswa saat ini, reformasi melahirkan demokrasi yang menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat setiap individu namun soal kualitas mengalami degradasi yang mencemaskan.

Pasca reformasi para aktivis lebih banyak berbicara tentang politik daripada pengayaan intelektual. Tema-tema jabatan dalam kontestasi Pileg, Pilbub, Pilgub, hingga Pilpres menjadi santapan setiap hari. Sialnya, proyek-proyek politik penguasa menjadi mainan aktivis mahasiswa sekarang. Hal itu bukan tidak baik. Namun dampaknya dapat mamatikan nalar kritis kaum intelektual. Cukup mudah untuk menentukan tolok ukur intektual para aktivis; berapa banyak yang sering mambaca buku? Berapa banyak yang gemar manulis? dan berapa banyak yang senang berdiskusi?

Ketiga, perkaderan ibarat jiwa, ruh, dan nadi organisasi. Namun disayangkan, pengurus dalam HIMMAH NW tidak cukup cakap dalam menjalankan perkaderan. Sehingga ada banyak kader yang masuk dalam HIMMAH NW minim mendapatkan wawasan dan kecintaaan pada ilmu pengenatahuan.

Bagaimana tidak terjadi kepincangan dalam jalannya perkaderan, apabila para stack holder dalam organisasi tidak memiliki kapasitas yang baik. Para pengurus otomatis akan gagap mengkader anggotanya jika tidak memiliki kematangan wawasan di setiap tingkatanya. Juga mustahil untuk melakukan gerakan advokasi dan kritik pemerintah tatkala mereka sendiri jarang berpraktek.

Merosotnya etos gerakan, degradasi intelektual, dan melemahnya perkaderan adalah sebuah kecacatan yang berujung pada matinya vitalitas HIMMAH NW. Oleh karena itu, nilai-nilai keislaman dan kebangsaan harus dikembalikan dalam kehidupan HIMMAH NW. Kedua hal itu harus menjadi etos aktivisme HIMMAH NW, sehingga nilai transformasi islam menjadi nyata dalam menjawab persoalan kemanusiaan.

Upaya logis yang bisa dilakukan para aktivis, khususnya HIMMAH NW ialah penguatan budaya literasi; baca, tulis, diskusi, serta praksis gerakan karena sesungguhnya demikian itu merupakan identitas kaum intelektual dalam rangka melakukan purubahan-perubahan menuju kehidupan yang yang dalam baik didunia dan akhirat.

Apa yang saya tulis saat ini adalah hanya pandangan-pandangan pribadi yang mungkin masih bisa didiskusikan. Terlepas dari itu HIMMAH NW tetaplah menjadi garda terdepan dalam menjalankan amanah organisasi Nahdlatul Wathan.