Setelah Orde Baru berhasil ditumbangkan, manifesto organisasi kemahasiswaan kian menurun, transparansi organisasi kian tertutup oleh pihak-pihak terselubung yang mempunyai kepentingan tertentu dan sepihak. 

Bisa juga disebut perilaku demikian dengan sebutan oportunis. Sehingga visi dan misi organisasi mahasiswa terhalang dan kadernya terlunta-lunta disebabkan segelintir orang yang mempunyai kepentingan tersebut, ibarat organisasi adalah kendaraaan yang dia gunakan untuk tercapainya kehendaknya sendiri, bisa juga secara personal, kelompok, ras atau etnis tertentu.

Kedok-kedok busuk seperti ini membuat hilangnya integritas organisasi yang kadung namanya melambung tinggi diruntuhkan oleh pihak-pihak yang borjois, kapitalis dan egois. Dalam konteks demokrasi, hal seperti ini memang tak bisa dielakan, sebab organisasi kemahasiswaan yang sudah berkembang biak di kampus kerap menjadi tunggangan politik orang-orang yang gila kekuasaan demi terkabulkannya hasrat kursi-kursi kapitalis yang tumbuh menjulang di lingkungan kampus.

Organisasi kemahasiswaan yang baru-baru ini dapat legalitas dari Kemenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018 dengan dalih untuk membina OKP (Organisasi Kepemudaan) agar tidak dirasuki ajaran radikal yang mengerus persatuan kebangsaan kita dalam bernegara. Meskipun terbitnya Permenristekdikti ini mendapat sambutan pro-kontra, tapi secara kebijakan dan niat yang baik adalah keputusan yang cukup agung. 

Apalagi setiap oraganisasi kemahasiswaan harus ada laporan pertanggungjawaban ke pihak kampus soal kemajuan SDM dan kiprahnya selama setahun, misalnya. Bagi saya itu sangat baik, sehingga organisasi yang hidup di lingkungan kampus bukan sekadar meminjam label nama kampus, tapi juga bisa menunjang secara intelektual dan leadership para mahasiswa yang bersimpuh dalam organisasi tersebut bisa tercapai.

Sehingga keberadaan OKP di lingkungan kampus mempunyai rasa tanggung jawab perihal kemajuan dan sepak terjang para kader yang bertuan di organisasi tersebut. Artinya, LPJ ini sama persis dengan unit kegiatan mahasiswa yang punya legalitas dalam kampus di mana setiap tahunnya harus ada laporan progres, hingga visi misi organisasi yang mulia bisa tercapai dan bisa terbukti secara riil akan keberadaaannya. 

Secara tidak langsung, keberadaan organisasi ekstra kampus ini juga punya sifat egaliter seperti UKM. Hanya saja perbedaan fundamentalnya ialah jika UKM berkegiatan di dalam kampus, maka organisasi ekstra di luar kampus lebih berintraksi dengan kesosialan, namun secara aturan sesuai dengan norma-norma perjanjian dengan pihak kampus, misalnya.

****

Menurut Drs. H. Malayu S.P, Hasibuan, organisasi adalah sebagai proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Kiranya sangat jelas pendapat Maluyo soal definisi dan tujuan organisasi, bahwa adanya organisasi apa pun ialah mempunyai tujuan yang sama ialah kedaulatan rakyat dari akar pohon sampai buah sehingga dari pohon tersebut bisa dipetik dan nikmati bersama-sama.

Beberapa pengalaman dan organisasi yang saya amati di dalamnya tersurat egoisme yang tinggi, sekadar ingin mempertahankan prinsip politik yang dinilainya adalah kebijakan yang baik dan sangat tepat sampai mengorbankan para kader yang masih belum tahu apa-apa didoktrin hal-hal yang kurang bermoral seperti menuduh pihak-pihak lain yang mazhab politiknya jelas berbeda dengannya.

Padahal nyatanya prinsip-prinsip dan paradigma berpikir bobrok seperti itu hanya membuat lampu organisasi yang seharusnya menyala terang menjadi buram. Sungguh sangat disayangkan.

Yang sangat miris juga ketika para kader-kader baru yang niat awalnya ingin berproses berorganisasi dengan baik berharap janji-janji manis senior-senior yang ditawarkan sangat menawan itu bisa terealisasikan. Tetapi realitasnya, ketika si kader itu sudah masuk dalam sarang si senior, mereka malah bingung sendiri.

Mereka bertanya-tanya apa yang bisa mereka perbuat? Proses apa yang dimaksud oleh para senior? Apa hanya di kepanitiaan acara saja? Atau hanya menumpang payung organisasi saja? Atau jangan-jangan hanya ingin menumpuk banyak kader tapi secara kualitas nol dan hanya dijadikan massa pada saat momen-momen tertentu seperti pemilwa, atau ajang-ajang politik tahunan kampus misalnya? Allahu a’lam.

Tak pelak justru kuantitas kader yang membludak dibuat bahan manuver politik si senior yang notabenenya kader-kader yang baru seumuran jagung itu tak tahu apa-apa perihal maksud dan tujuan busuknya si senior. Imbasnya, hanya kuantitatif belaka yang dihasilkan oleh organisasi tersebut sedangkan komunal dan persaudaraan justru terhalang oleh petakan kepentingan-kepentingan pihak-pihak tertentu.

Maka tak jarang musuh dalam selimut dalam organisasi sering kita jumpai. Imbasnya, organisasi yang seharusnya menghasilkan kualitas yang gemilang terhalang oleh oportunisme okmum-oknum yang tak beradab dan tak bertanggung jawab.

Stabilitas organisasi terganggu program kerja hanya sebatas persetujuan semu, perkumpulan di warung kopi tidak diperuntukkan membaca bareng tetapi malah main bareng, bahkan tak pekat dalam satu organisasi menjadi beberapa kubu yang dimotori oleh oknum manusia-manusia pendoktrin yang otaknya hanya terlintas kekuasaan dan kekuasaan.

Aktivis saat ini berorganisasi hanya dijadikan lahan mencari ketenaran, mencari nama, mencari kursi jabatan. Diskusi panas dan saling hantam argumen di warung kopi sudah jarang kita temukan, sebab sibuk main game online saling hantam lawan. Aktivis saat ini jarang tampak di media cetak, lebih banyak mereka sibuk membuat tulisan alay di instal story, tidak seperti aktivis dulu yang berlomba-lomba tulisannya dimuat di media jurnal.

Cara merestorasi organisasi

Ada tiga cara dalam merestorasi situasi organisasi yang di dalamnya terdapat problem-problem internal; pada dasarnya organisasi itu layaknya sebuah badan, otak adalah ketua atau petinggi organisasi tersebut, sedangkan organ tubuh yang lain akan mengikuti alur ke mana otak itu bertumpuh.

Pertama, para petinggi organisasi harus mempunyai kesadaran penuh. Maksud dari kesadaran ini adalah dengan menyadarkan diri bahwa organisasi bukanlah ladang mencari masalah, bukan tempat menciptakan kegaduhan, bukan pula tempat yang secara sengaja permusuhan itu diciptakan, apalagi organisasi dimanfaatkan sebagai tunggangan politik praktis yang sehingga dari manuver politiknya itu banyak orang merasa dirugikan. 

Perilaku seperti itu tidak diajarkan dalam organisasi mana pun. Semua tindakan organisasi semata-mata untuk tercapainya keinginan bersama sesuai tujuan organisasi itu didirikan.

Sekalipun ketenaran organisasi sebagian caranya dengan menduduki kursi-kursi kepemerintahan di dalam kampus setidaknya tidak sampai membuat internal organisasi keruh. Tidak dikatakan berhasil sebuah organisasi jika di internalnya saja belum bisa menghendel dengan baik, meskipun secara sistem birokrasi kampus diduduki orang-orang kita tetapi justru berdampak buruk pada keadaan organisasi sendiri apalah guna, sebab seorang yang hendak tenggelam dalam lautan lalu di kasih emas satu karung malah semakin sengsara, lebih baik diberi ban bekas yang justru menjadi penyelamat baginya, paham (?)

Kedua, setelah otaknya beres maka langkah selanjutnya ialah membina anggota tubuh yang lain seperti para kader-kader yang dahulunya sudah terdoktrin buruk dikembalikan lagi ke jalan yang benar. Hapus statmen-statmen yang sifatnya sama-sama saling mencurigai. 

Jernihkan kembali otak mereka dengan lebih menekankan proses berorganiasi yang baik dan benar, karena yang baik belum tentu benar tapi yang benar pasti baik, meski ukuran baik disini tergantung dari kacamata mana kita menilai. Karena kebenaran akan tetap hidup sekalipun kau lenyapkan kebenaran tak akan mati, begitu kira-kira lirik lagu dari anaknya Wiji Thukul.

Justru otak-otak kecil seperti penggerak yang dahulunya didoktrin untuk menjalankan visi misi dan strategi senior itulah yang lebih dominan dalam merestorasi kembali keadaan organisasi agar lebih baik, karena sajatinya seorang dalang hanya mengatur dan berfikir saja, justru orang-orang yang terjun di lapangan langsung yang lebih faham keadaan dan tingkat emosional sesungguhnya teman-teman mereka dalam oraganisasi itu.

Ketiga, setelah semua stabil langkah selanjutnya ialah merealisasikan kembali semua progam kerja, namun sebelum itu rapat evaluasi bersama harus dilaksanakan, transparansi harus dikemukakan bersama-sama secara terang menderang, demi menghindari curiga mencurigai dan saling menduga-duga.

Yang paling penting dari tiga cara di atas adalah kesadaran lahir batin bersama-sama para ketua dan petinggi serta orang-orang yang dipandang starategis atau ditokohkan dalam organisasi tersebut, demi tecapainya visi misi agung atas didirikannya organisasi tersebut. 

Sebab tak jarang kita temukan organisasi yang cukup besar malah kelihatan masih labil, itu diantara sebabnya orang-orang yang ada dalam oraganisasi tersebut tidak pernah memikirkan nasib oraganisasinya sendiri malah lebih sibuk memikirkan langkah-langkah politiknya yang sebenarnya terkesan norak dan kampungan. Salam.