Sejak kasus pandemi Covid-19 melanda dunia, banyak kebiasaan normal yang dilakukan menjadi berubah dalam prakteknya.

Begitupun yang terjadi di Indonesia, melalui pemerintah pusat maupun daerah, himbauan menerapkan protokol kesehatan guna memutus rantai penyebaran Covid-19 harus dilakukan. Yang menyebabkan timbul kebiasaan baru dalam praktek berinteraksi di tengah masyarakat.

Cara berinteraksi yang sudah lazim dilakukan masyarakat selama ini, terpaksa harus diubah. Diantara kebiasaan lazim masyarakat yang berubah selama pandemi Covid-19 salah satunya adalah, tidak berjabat tangan atau salaman.

Menurut pakar penyakit menular dari Amerika Serikat ( AS ) yaitu Anthony Fauci, mengungkapkan "mengakhiri kebiasaan jabat tangan tidak hanya mencegah penularan Covid-19. Tak bersalaman juga bisa memangkas risiko tertular virus influenza secara drastis".

"Jujur, di masa yang akan datang rasanya kita harus berhenti berjabat tangan lagi. Lupakan saja jabat tangan, kita harus menghentikan kebiasaan itu.,”  Fauci menambahkan.

Di Indonesia sendiri cara berjabat tangan atau salaman sudah diganti dengan salam menggunakan siku, hal itu sudah dicontohkan oleh para pejabat tinggi negeri ini selama pandemi melanda.

Setali tiga uang, Malaysia yang merupakan serumpun dengan Indonesia dan mempunya latar belakang kebudayaan yang hampir serupa, melalui Perdana Menterinya Muhyiddin Yassin menyarankan, untuk mengganti jabat tangan atau salaman dengan Ojigi ala Jepang yaitu dengan membungkukan badan.

Salaman Sebagai Simbol

Menurut Wikipedia : Berjabat tangan atau salaman adalah sebuah tradisi penyambutan singkat yang dilakukan dua orang memegang tangan satu sama lain.

Kebiasaan salaman, memang sudah menjadi tradisi umat manusia sejak beribu-ribu tahun lamanya. Tradisi salaman tersebut menjadi hal lazim yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam acara formal kenegaraan sekalipun, salaman kerap dilakukan oleh para pemimpin setiap negara.

Sebelum pandemi terjadi, saya sangat senang melihat berita di televisi yang berkaitan dengan kunjungan kenegaraan. Ketika presiden negeri ini, menyambut hangat pimpinan negara lain dengan saling bersalaman. Menurut saya, ada pesan yang tersirat, salaman menunjukan bahwa hubungan diplomatik kedua negara sangat baik serta menjadi simbol perdamaian dalam hubungan internasional, tentunya berimbas kepada kesepakatan  kerjasama diberbagai bidang  yang ada.

Dalam sosial bermasyarakat salaman menjadi ukuran  norma kesopanan di dalam segala hal yang dilakukan. Pasalnya, dengan salaman tumbuh kehangatan, keakraban dan rasa persaudaraan serta saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Saya sering melihat, salaman menjadi simbol penyelesaian disetiap perselisihan yang terjadi di masyarakat, dengan salaman, pihak yang berselisih menjadi guyub kembali. Hal yang paling sering terjadi dan sering kita temui adalah, dua anak yang berkelahi akhirnya berujung baikan dengan cara salaman.

Begitu juga dalam perayaan keagamaan misalnya, tradisi salaman menjadi hal penting dilakukan.

Hari Raya Idul Fitri bagi umat muslim, di mana salaman menjadi simbol saling memaafkan antara sesama muslim. Begitupun salaman bagi perayaan umat beragama lainnya yang ada di Indonesia, pasti salaman dilakukan tatkala saling bertemu satu sama lain.

Maka tidak jarang kita mendengar, setiap orang bersalaman akan terlontar kalimat saling mendo'akan dari keduanya.

Tapi, ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, tradisi salaman itu seketika menjadi hal yang langka kita jumpai lagi.

Maka mengubah kebiasaan baik seperti salaman, memang dibutuhkan usaha ekstra. Sebab, tradisi salaman itu, khususnya bagi masyarakat Indonesia sudah mengkristal dalam culture masyarakat negeri ini. Di mana Indonesia terkenal dengan masyarakatnya yang ramah.

Wajah keramahan masyarakat Indonesia tercermin oleh senyum, menyapa dan mengajak bersalaman kepada orang lain, adalah ciri khas masyarakat Indonesia yang wajib hukumnya dijaga pada diri setiap orang Indonesia.

Sedangkan bagi seorang muslim, tentu  mengetahui  tradisi salaman sesuai  kaidah syariah, banyak fadilah atau keutamaan yang didapat. Diantaranya adalah, dosa yang terampuni, menghilangkan kebencian, mendatangkan rahmat Allah Ta'ala dan salaman itu merupakan ciri orang lembut.

Pandemi ini sudah hampir satu tahun melanda Indonesia. Sejak maret 2020, saya yang biasa bersalaman dengan teman dan kerabat, harus dipaksa untuk menghindari hal tersebut. Awalnya Saya pikir ini hanya sementara dan berakhir cepat, paling hanya 3 sampai 4 bulan saja saya menghindari salaman, setelah itu akan seperti semula lagi.

Ternyata yang terjadi adalah pandemi Covid-19 'betah' tinggal lama-lama di Indonesia sampai hari ini, kebiasaan baru dengan tidak bersalaman pun saya teruskan. Di awal-awal pandemi saya masih suka  salaman dengan teman-teman, tapi saat ini cara alternatif pengganti salaman itu mulai terekam di kepala saya dan menjadi kebiasaan dalam kegiatan sehari-hari, ditambah Covid-19 ini tidak pasti kapan selesainya.

Menurut Witherington seorang pakar psikologi dari Amerika Serikat ( AS ) menyebutkan, kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis.

Jika demikian, menurut saya tradisi berjabat tangan atau salaman yang sudah ada sejak lama, akan tergantikan dalam prakteknya. Karena cara baru salam dengan menggunakan siku atau salam  dengan cara lainnya tanpa kontak fisik, hari ini sudah lumrah kita jumpai dan menjadi kebiasaan baru masyarakat khususnya di Indonesia.

Apalagi, jika kita kaitkan dengan ungkapan dari pakar penyakit menular  Anthony Fauci tersebut. Maka muncul pertanyaan dalam diri saya, siapkah kita khusunya sebagai orang Indonesia meninggalkan tradisi salaman, dan apakah pengganti salaman seperti salam siku dan ojigi mampu menggantikan salaman yang sudah dikenal dan dipraktekan secara universal ?

Mengingat bahwa tradisi salaman, mengandung makna penting disetiap momentum yang terjadi. Baik diberbagai urusan dalam konteks bermasyarakat, keagamaan bahkan kenegaraan sekalipun.