Wordsmith
1 bulan lalu · 59 view · 3 menit baca · Cerpen 42410_95135.jpg

Hilangnya Sang Penyemangat

Memiliki sepeda motor sudah menjadi impianku sejak lama. Melihat kakak laki-lakiku menaiki sepeda motor dan membawanya bergerak bebas membuatku cemburu bin iri. Meskipun dia jualah yang berjasa mengajariku bisa mengendarai sepeda motor. 

Tapi peraturan ayah membuatku terpaksa sabar, karena ayah berpesan semua anggota keluarga bisa memiliki kendaraan sendiri kalau sudah berusia 17 tahun, ada KTP dan ada SIM. Maklum ayahsaya seorang tentara yang disiplin dan lumayan kaku. Tapi beliau saangat penyayang keluarga loh.

Hasil penantianku tiba, kelas tiga SMA bertepatan saat ulang tahun aku ke 17 tahun, bertepatan kakakku mendapat promosi jabatan, bertepatan ketika ayahku pensiun, bertepatan ketika ibuku selesai menjemur kain dibelakang rumah, aku mendapat kejutan yang sangat luar biasa. 

Keluargaku memberiku hadiah sepeda motor berwarna merah sesuai warna keusakaanku. Ayahku menepati janjinya. Mereka patungan dengan kakak laki-lakiku. Super duper sangat bahagia.

Aku memberi nama kepada sepeda motorku dengan sebutan reader karena dia berwarna merah. Entah aku yang terlalu bahagia atau bagaimana, aku merasa hari-hari penuh warna bersama reader. 

Reader rajin mandi seperti aku, tidak suka jorok, kalau jorok bawaanya langsung mandi. Ayah hanya suka ngeledek setiap kaliaku mandiin reader. Katanya lama-lama sepeda motorku berubah jadi manusia,karena aku terlalu memperlakukannya dengan istimewa.

Ada sesuatu yang unik selama menjalani hari-hariku bersama reader. Ia seperti bisa berbicaradenganku dan dialah yang mengajakku selalu berangkat lebih awal. Dan hari demi hari aku melihatnya semakin menarik. Seperti wanita yang sedang jatuh cinta. Warnanya semakin cerah dan selalu rajin mandi. Reader jarang diservice. Hanya modal service kakakku. Tapi jarang sekali mogok.

Yang menarik lagi, si lampu merah rumah sakit mitra sejati, aku dan reader selalu melihat seorang pria mengendarai sepeda motornya dan selalu melempar senyum ke arahku dan reader. 

Entah mengapa setiap di lampu merah ini, reader suka cari perhatian ke sepeda motor pria itu, yang akurasakan sepeda motor juga bisa saling jatuh cinta karena intensnya pertemuan. Kelekson saling sapa dan laju reader semakin bohay kala telah menerima saapan dari sepeda motor pria itu. aku hanya dia, karena hanya aku yang mengerti perasaan readerku ini.

Suatu hari terjadi kemacetan yang membuat aku khawatir terlambat bekerja. Dan aku mendengar reader bertanya dimana sepeda motor yang setiap harinya ia lihat. Aku melihat sebuah sepeda motor terguling, dan sepertinya aku mengenal pemiliknya. 

Kerumunan orang membuat aku tidak bisa melihat dan seketika tubuh yang bersimbah darah itu di naikkan ke ambulan. Segera ambulan melaju kencang. Aku dilema, mengikuti atau tetap pergi bekerja dan aku memilih bekerja.


Reader tiba tiba mogok, sepertinya dia komplen dengan keputusanku. Aku menoleh lagi ke arah kejadian itu, ternyata sepeda motor pria itu di angkut sebuat pick up. Sepeda motor pria itu terlihat rusak. Reader tidak bisa melaju kencang, aku mendengar dia komplen sepanjang jalan dan mengatakan aku tidak ada empati sebagai manusia. 

Reader juga mengatakan manusia itu egois. Aku segera menghendakkan kakiku di atasnya, dan berkata agar dia berhenti mengoceh. Karena bisa membuat aku tidak konsentrasi berkendara. Reader terdiam dan aku tahu dia marah.

Keesokan harinya aku melaju dan tiba di lampu merah. Sepertinya reader kecarian sesuatu, sama seperti aku. Dan akhir-akhir ini reader sering mogok dan selalu harus di service.

Aku mendengar reader sering mengangis seperti mencari biji matanya yang menyemangatinya di jalan. Aku mencoba menenangkan dia, bahwa aku akan berusahamencari kekasih hatinya itu. Aku mengatakan bahwa aku akanmencari tahu alamat si pemilik, agar dengan mudah menemukan pujaan hati reader. Tapi semakin hari reader semakin menyebalkan karena bisa tiba-tiba mogok dan oli selalu bocor.

Kondisi reader membuat biaya service menjadi pengeluaran rutin yang bagiku harus dihentikan. Dengan terpaksa hadian keluragaku aku tamatkan riwayatnya. Reader suka mengeluh, melamun dijalanan. Bagiku itu tidak asik. Itu bisa membahayakan aku. Aku menjualnya saja, itulah pikirku.

Aku mencari pembeli dan akhirnya ada yang membeli. Kring….suara hapeku berbunyi. Aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Ternyata dia si pemilik sepeda motor kesukaan reader. Aku mendengar reader seperti teriak,,,,itu yang sepeda motornya aku sukai itu tuan, sepertinya reader mengatakan begitu.

“Kamu”, kataku. “Kamu yang sering aku lihat di lampu merah ya? Kamu kecelakaan kan beberapa tahun lalu?” kataku lagi. Kami saling bersalaman.

“Aku membeli sepeda motor kamu ya, aku mau beri buat tukang kebun rumahku.” Katanya menjawab.

“Sepeda motor kamu ke mana?” kataku

“Di rumah” katanya

Reader teriak kegirangan, aku tahu dia pasti bahagia membayangkan kalau setiap hari ia akan melihat sepeda motor pujaaanya itu. Aku memandangnya reader dan mengucapkan selamat menjalani kehidupan baru. Sepertinya dia lebih bahagia berpindah tuan pikirku.

Artikel Terkait