3 minggu lalu · 1074 view · 11 menit baca · Cerpen 38840_14019.jpg

Hilangnya Kejantanan

Kawan-kawan memanggilku ucup. Tentu bukan nama asliku. Semua nama yang kutulis di sini adalah nama samaran. 

Kurang gamblang rasanya ketika bercerita soal “kejantanan” dengan menyebutkan nama asli pelaku-pelakunya. Selain menjaga nama baik – ah, terserah kalian sebut pencitraan atau apa, toh semua yang tampak pada publik sekarang bukan citra sebenarnya. Semua citra dibuat seolah baik saja tanpa cacat. Semua juga demi dua: harga diri dan nama baik!

Begini kiranya cerita yang membuatku tertawa geli:

Sudah barang tentu menjadi kebiasaan pemuda-pemuda ketika berkumpul berembuk membicarakan kejantanan. Kalau sedang berbicara, matanya menyala merah berapi-api, ludahnya semburat tak kenal arah menyemprot siapa saja yang membelalak. Ya, itulah yang terjadi padaku dan kawan-kawanku. 

Biasanya, kawankulah yang ambil peran sebagai penyemprot dan aku sebagai yang terbelalak. Aku tak pandai bercerita tentang pengalaman kejantanannku – ya memang nyatanya tidak ada cerita pengalaman kejantanan pada diriku. 

Kalau sudah puas disemprotkannya ludah-ludah mereka pada sapa saja yang terbelalak, dan giliran mereka menunggu diriku untuk ikut menyemprotkan – maka kawan-kawanku ini memasang sikap maklum pada diriku. Mereka tahu kalau aku memang benar-benar tidak ada “kejantanan” pada diri ini. Baiknya, mereka tidak menyebut tidak ada; belum ada itu lebih tepat.

Kawanku yang kurus memulai:

“Dulu, pertama kali aku bermain bibir dengan pacarku di depan rumahnya! Tepat di pinggir jalan orang-orang biasa melintas, bedanya yang ini saat tidak ada yang melintas. Bayangkan betapa jantannya aku!”

Tak mau kalah, kawan bersuara cempreng mengalahi:

“Aku tahu, kau lakukan itu pada saat SMA, bukan? Aku memulainya sedari SMP! Wanitaku pula yang memulai! Aku hanya diam, seperti kehabisan nafas ketika mulutku diterkamnya!”

Tertawa mengejek, kawanku gendut menyombongi:

“Kalian baru saling cumbu saja berlagak seperti Bung Karno ketika berpidato ha-ha-ha. Kalian baru bercumbu, aku sudah bersetubuh! Kalau kuhitung sudah 9 wanita yang pernah bertukar keringat denganku ha-ha-ha.”

Bukan main si gendut ini! Giginya yang tidak rata masih terbuka lebar dengan suara bahak seakan merajai di antara kami. Si gendut itu memang yang paling berpengalaman kalau soal kejantanan. Sejak saat itu juga kami juluki ia: Raja Setubuh.

Sekarang saatnya aku menunjukkan kejantanan pada diriku. Air muka yang mereka pasang tak semangat, matanya luyu, bibir atas dimasukkan ke dalam dan bibir bawah ditarik ke atas. Pandangnya tak pasti kalau aku ada cerita kejantanan pula. 

Si kurus mendahului, “Halah, tak percaya aku, kau ada cerita.” Gendut dan cempreng bebarengan, “Setuju.” Dilanjutkan, “Mana pernah kau bercerita soal kejantanan? Bercumbu saja tidak pernah!”

Aku tangkis semua dakwaan mereka pada diriku, “Ngawur saja! Baru kemarin aku dapatkan cerita kejantanan ini, langsung dari pengalamanku sendiri!” 

Tak bersemangat mereka menyahut, “ Ya sudah, tunggu apa lagi, ayo ceritakan.”

“Pasang telinga baik-baik kalian, tutup mulut, dan tidak ada ejek saat aku bercerita, oke ?”

“Iyoooo,” dengan mulut berbentuk huruf akhir itu.

Begini kejadiannya:

Kemarin, ada pameran tentang tokoh pejuang HAM di kota B. Sudah jadi kesukaanku yang berbau perjuangan. Di tambah ini sebuah pameran, pameran tak luput dari sejarah. Ia sejalan dengan sejarah. Aku tak bisa lepas dari sejarah. Diriku kelak juga akan jadi sejarah bagi anak-cucuku. 


Segala sejarah harus aku ketahui dan anak-cucuku juga harus ketahui sejarah moyangnya ini. Walau belum semua sejarah kuketahui – setidaknya mengetahui sejarah agar kita tahu siapa diri dan tanah yang kita pijak ini. 

Aku berencana datang ke pameran itu seorang diri. Tapi, aku masih bingung kalau acaranya sore lalu sampai malam; apa aku langsung kembali ke rumah, tanpa bermalam di kota B? Karena kebingunganku itu, aku teringat kalau di kota B aku punya kenalan. 

Seoarang perempuan – aku sebut perempuan karena masih gadis. Kalau aku sebut wanita, rasa-rasanya ia sudah makan asam garam kehidupan saja. 

Sehari sebelum berangkat, aku hubungi dia. Aku bilang kalau besok aku akan ke kota B untuk menghadiri pameran. Aku minta dia untuk menemaniku selama di kota B. 

Tanpa penawaran, ia jawab, “YA.” Iya besar lagi! Seperti diberinya aku lampu hijau untuk menancap gas memasuki lalu lintas kehidupannya.

Ia bertanya, “Apa kau langsung kembali ke kotamu atau bermalam di sini?”

“Baiknya bagaimana?”

“Kalau kau tidak bermalam, kemungkinan yang terjadi kau pulang larut malam, melewati jalan yang larut panjang, dan larut kejahatan. Mau kau hidupmu tak berlarut? Hanya singkat saja.”

“Kalau begitu, aku bermalam saja. Lalu di mana aku akan bermalam?”

“Aku tahu hotel murah yang biasa digunakan hanya untuk bermalam.”

“Atur saja semaumu.”

“Kalau kau mau, aku bisa menemanimu bermalam di hotel itu.”

Jantungku berdebar kencang tidak biasanya. Rasa-rasanya darahku sudah penuh di kepala. Tanganku lembab penuh keringat. Membalas chat-nya saja banyak yang salah karena tanganku yang basah ini. Aku tulis - hapus – tulis – hapus. Aku tak tahu harus balas apa. 

Kulupakan dulu norma-norma yang sudah menancap dalam diriku. Memang manusia suka lupa dengan norma dan batasan kalau sudah diserang masalah berahi begini. Tanpa ragu aku balas pesannya:

“Dengan senang hati.”

Dan dengan begitu, mereda segala ke-kikuk-anku. Aku akan punya cerita kawan!

Hari itu aku berencana berangkat pertengahan antara pagi dan siang. Sampai sana siang, aku dan si gadis akan menyusuri kota B sampai sore. Sorenya, menghadiri pameran. Malamnya, kehidupan baru dimulai! 

Rencana tidak berjalan sesuai kehendak. Hujan lebat mengguyur kotaku beserta raungan langit dengan cahaya kilat tiba-tibanya itu. Kalau hujan lebat begini biasanya tak sampai lama, mungkin menjelang siang sudah reda. Tapi hujan kali ini seakan mendengar kata hatiku. Dibuktikannya kesalahan kataku tadi. Diguyurnya kotaku seharian!

Sore tiba, langit masih gelap sepagi tadi. Tapi hujan jatuh mulai mengecil. Hanya garis-garis tipis saja kalau dilihat dari kejauhan. Sudah dari pagi aku memikirkan bagaimana status ke-jaka-anku nanti malam. 

Apakah ia tetap jaka yang dulu atau ia tak lagi jaka? Sedari pagi aku sudah memikirkan bagaimana cara memulai agar bisa membuat cerita menarik seperti kawan-kawan itu. Sedari pagi aku sudah menyiapkan semua buat nanti malam. Malam yang berkesan pastinya. Malam yang takkan pernah kulupakan seumur hidup ini!

Aku putuskan, kuterabas hujan yang hanya segaris itu. Langit masih gelap. Aku tidak bisa membedakan itu langit mendung atau langit malam: sama-sama gelap. 

Sampai kota B, tak ada tanda-tanda bekas hujan di sini. Memang, langit kotaku itu bisa saja dibuatnya hujan agar aku urungkan niat mendapatkan pengalaman baru itu. Matahari berada di ufuk barat. Sinarnya oranye kemerah-merahan, membuat semua objek yang tersinari menjadi hitam dan bayang.

Aku jemput si gadis itu di tempat ia pinta. Kami langsung menuju pameran. Karena telat berangkat, di pameran kami hanya amat-mengamat barang sebentar saja. Pameran menarik, si Gadis berbisik, “Ayo kita pergi dari sini, aku mulai bosan.” Memang begitu kalau orang tidak ingin tahu bagaimana sejarah beredar pada masa lalu. 

Dibuatnya ia bosan dulu, lalu dibuatnya tak kenal dengan diri, dibuatnya tak tahu dari mana asal dan... hilanglah ia pada peradaban baru ini! 

Akhirnya kami menuju hotel, tempat kita menghilangkan semua: lelah, pegal, kalau mungkin, jaka dan rawan hilang pula di sini.

Sampai hotel, aku bingung. Namanya hotel, fisiknya barang sedikit mirip hotel pun tidak. Memang benar katanya: murah dan dipakai hanya untuk bermalam. Yang ada ya apa adanya. 

Kamar kami berada di ujung kegelapan lorong. Di dalamnya ada kasur muat untuk dua badan, satu meja dan kursi, satu colokan listrik, dan kamar mandi kecil, airnya yang kurang ajar kalau diguyurkan ke badan malam hari. 

Aku bersih diri, ia mengeluarkan “alat pernapasan” yang biasa disembur-semburkan seperti naga. Gadis satu ini beda, ia bisa jadi naga, bisa jadi manusia juga – tapi manusia lupa kodrat. 

Selesai semua urusan badan, urusan perut dalam tidak bisa ditawar. Kuajaknya ia keluar untuk cari makan, tapi ia tolak mentah; katanya:

“Aku ingin tidur saja, di luar dingin.”

Aiihhh.. misteri apa yang dikandung dari ucapannya itu?

“Apa kau tidak lapar? Aku sangat lapar,” tanyaku.

“Kalau begitu, kau saja keluar cari makan.”

“Tega kau biarkan aku sendiri keluar di kota yang tak kutahu jalannya?”

“Tega kau siksa mataku yang mau damai dengan penutupannya ini?”

Aihhhh.. perempuan macam apa ini? Dari ucapannya itu mengandung: tak dibolehkannya aku keluar kamar sungguhnya.

“Ya sudah, mari istirahat saja,” pasrahku.

“Begitu lebih baik,” akhirinya.

Kami sudah seperti ikan yang hendak dibikin asin. Disejajarkan dan dihadapkan pada pusat cahaya. Bedanya, kami masih berbaju dan berpusat pada cahaya kecil, bukan pada matahari. 

Kiranya, ini adalah pertemuan pertamaku dengan dia, pertama dan langsung ngamar. Bumi gonjang-ganjing! Apa kata orang tuaku kalau kami kena gerebek? Semoga semesta mendukung apa yang kami lakukan malam ini. 

Aku lirikkan mataku padanya, matanya memang hendak damai pada penutupannya. Tapi hatinya tak tahu aku hendak apa dan mau apa. Gerak-gerik tangan dan kakinya resah, seperti bayi merengek ingin sesuatu tak dikabulkan. 

Aku mencoba damai pada lapar dan pegalku juga. Aku pejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Dadaku sudah menggelembung dan aku keluarkan dengan berat-berat. Sudah hendak tertidur, tiba-tiba tangan si gadis ia pelukkan pada perutku. 

Ia sudah seperti ibu yang mengasihi anaknya. Memeluk tanpa dapat balasan peluk, Ia tak mengindahkan itu. Kata kawan-kawanku dulu, kalau si perempuan yang memulai, selanjutnya kau yang harus bekerja! Pekerjaan macam apa yang harus kukerjakan malam-malam begini dengan perempuan asing seperti ini? 

Apa aku harus melucuti pakaiannya? Tidak. Aku tak dididik menelanjangi di depan mata, apalagi di depan umum. Tidak akan kulakukan itu. Membalas peluknya saja, biar hati tak diselimuti awan hitam keresahan. Saling berpelukan, begini lebih baik.

Angin dingin yang menusuk tulang membuatku loncat terbangun mengambil posisi duduk. Perbuatanku itu membuat si sadis terbangun juga. Hanya matanya yang merespons, badannya tetap posisi tidur. Membuka:

“Kenapa kau?”

“Dingin sekali,” jawabku.

“Kemari, berpelukan membuat dingin tak bisa bersarang di badan.”

Mengakhiri ucapnya itu, ditariknya badanku terjatuh pada kasur dan kami saling berhadapan, tangannya melingkar pada badan. Matanya tajam sekali masuk hingga kedalaman penglihatanku. Ia tatapi aku terus, menunggu aku melakukan sesuatu. Tapi rasanya paku besar sudah mematri diriku pada kasur. 

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba ia maju ke depan wajahku, mulutnya menggerayangi pegunungan pipi hingga jurang leher. 


Aku pejamkan mataku, menikmati hasil kerjanya itu. Laki macam apa aku ini? Dibuatnya gadis ini bekerja sendiri. Dan aku hanya diam menikmati hasil kerjanya. Merasa bersalah pada diri – aku lakukan seperti apa yang ia lakukan. Jadilah kami seperti ikan tarung adu kekuatan rahang satu sama lain.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela berkelambu. Menuju lurus masuk kelopak mataku sampai pada pupil, sampai pada saraf otak dan berseru: bangun! 

Kerjaan semalam masih menempel pada memori ingatanku. Kerjaan yang hanya menggunakan mulut itu! Lantas apa guna aku memikirkan ke-jaka-anku kemarin itu kalau pada akhirnya hanya mulut yang bekerja? Sesal memenuhi dadaku mengisi tempat udara-udara pagi yang semestinya. 

Apa guna penyesalan sekarang? Sekarang waktunya aku pulangkan si gadis itu. Dan aku tetap pada status ke-jaka-anku. Dan ia tetap pada statusnya jua. 

Atas campur tangan siapakah perbuatanku semalam? Apa ini semua atas campur tangan Tuhan? Atau setan juga ambil peran? Tuhan dan setan ambil peran penuh dalam cerita semalam. Campur tangan Tuhan, tak dibuatnya aku kehilangan ke-jaka-anku. Campur tangan setan, dibuatnya aku saling menempelkan badan, tanpa setubuh itu.

Si Gadis dan aku duduk pada kasur merenung sebentar kejadian semalam. Gadis menyesal atas kesediaannya memulai lebih dulu. Aku menyesal pada ke-tidak berani-anku melanjutkan permulaan si gadis. Aku tatap dia dan memulai: “Ke mana kita?”

“Aku ingin pulang saja.”

Oh Tuhan! jawaban singkat yang memprotesku ini penuh dan dalam akan penyesalan.

“Sarapan dulu lebih baik.”

“Tak usah, lagi pula aku tak lapar.”

“Tapi aku lapar.”

“Kau bisa melakukannya sendiri tanpaku setelah mengantarku pulang.”

“Kau menyesal atas semalam?”

“Tidak ada sangkut pautnya ini dengan semalam.”

Di belakang ucapnya itu terdengar kata hatinya berseru: tak usah kau pertanyakan lagi, pecundang! Jelas ini karena ke-tidak berani-anmu menyetubuhiku. Apa arti dari semua permulaanku, tanpa kau hargai itu? 

Aku kira kau laki modern. Sekali pancing, dua-tiga aksi kau yang memulai. Ternyata kau traditional-man. Dipertimbangkan dulu semua norma dan karma, yang pada akhirnya mengutukmu menjadi laki pecundang!

Aku turunkan di tempat ia pinta. Aku mengawali, “Terima kasih.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan,” sahutnya.

Aku lajukan motorku, seperti ada kata terlambat masuk ke telingaku, terdengar: “Hati-hati juga dengan ke-tidak berani-anmu.” Aku hentikan motor, kutengok belakang cepat-cepat. Si Gadis lenyap begitu saja ibarat tersapu angin besar. 

Sampai rumah, aku kirim pesan pada si gadis. Lama aku tunggu tak ada balasan. Aku sadar ia benar-benar tersapu angin besar penyesalan. Ia menghilang dari duniaku. Ia sengaja menghilangkan dirinya dari dunia yang penuh dengan ke-pecundang-an ini. Dan aku masih di sini dengan ke-pecundang-anku meneruskan cerita pada kawan-kawanku.

“Jadi tak kau apa-apakan si gadis itu?” si gendut memulai dari akhir ceritaku.

“Hanya adu mulut pada pipi dan leher saja.”

“Tak pantas kau jadi laki-laki, cup!” si kurus menggarami pertanyaan si gendut.

Sementara si cempreng diam saja, aku membela diri: “Itu adalah pertemuan pertamaku. Siapa orang dengan adat dan kebiasaan seperti kita berani bersetubuh pada pertemuan pertama?”

Si gendut langsung menyambar, “Kalau aku jadi kau, jelas akan aku lakukan.”

Si kurus juga mengoceh, “ Ya, tentu aku juga.”

Si cempreng menambahi, “Aku juga.”

Aku hanya terdiam, menyapu pandanganku dari mereka. Rasanya aku tidak sejalan dengan mereka soal ini.

“Kau memang benar-benar sudah kehilangan kejantananmu, cup!” kata si gendut.

“Bukan kehilangan, ia memang tak punya sedari dulu!” kata si kurus.

“Tak ada kejantanan pada dirimu, cup!” imbuh si cempreng.

Tawa pecah memenuhi ruangan kita berbicara itu. Memekakkan telinga sampai masuk ke sarafku. Memusingkan kepalaku karena ejekan-ejekan mereka. Membuat tak tahan. 

Wajahku memerah sesaat. Semua darah sudah ada di wajah. Aku pukulkan tangan pada meja dan berteriak, “Diam! Diam kalian semua! Bukan begitu janji kita dari awal. Tak ada ejek, bukan?!” Aku lanjutkan, “Bukan tak berani, hanya kurang pengalaman saja aku ini!”

Mereka bebarengan, “Nah, perkataanmu itu adalah hasil nyata dari hilangnya kejantananmu!” disusul tawa yang lebih besar dan menggelegar. “Ha-ha-ha-ha...”

“Kalian dengarkan ini, hilangnya kejantanan bukan karena ia tidak berani mencumbu dan menyetubuhi wanita! Ukuran kejantanan bukan seberapa banyak sudah kau cumbu dan setubuhi wanita! Hilangnya kejantanan itu tak ada lagi hormat dan kemanusiaan pada seorang laki untuk seorang perempuan! 

Laki-laki macam apa yang mencumbui dan menyetubuhi perempuan dan setelahnya ia bangga dan merasa menang atas kebarianannya, tapi sebenarnya ia kalah atas berahinya? Lalu ia namainya itu: “kejantanan”.

“Itu semua bukan kejantanan, Aku namai itu: KEBINATANGAN!”

Tak ada respons dari mereka. Mata dan mulutnya terbelalak. 

Aku pergi tinggalkan mereka. Mereka mengiba. Meraung perlahan memanggilku, seperti peliharaan pada majikannya. Aku tersenyum kecut berbicara dalam hati: “Memang benar-benar sudah jadi binatang!”

Sidoarjo, 16 Juli 2018

Artikel Terkait