2 tahun lalu · 1823 view · 6 min baca menit baca · Lingkungan 64210.jpg
Manusia yang memisahkan orangutan yang memadu kasih di hutan belantara

Hilangnya Kearifan Lokal Hutan Ganggu Aktivitas Sex Orangutan

Hasrat sex ada pada semua mahluk hidup juga pada binatang. Sex adalah hubungan biologis antara jantan dan betina, demi melangsungkan hidupnya dan memperoleh keturunan atau berkembang biak.

Sex pada orangutan memiliki masa pemikatan dengan saling berdekatan orangutan jantan dan betina dan saling memegang satu sama lain, bahkan saling berciuman sampai pada saling memadu kasih dengan bertemunya alat kelamin orangutan jantan dan betina. Perkawinanya dua sampai tiga minggu, namun ternyata jumlah anak yang dilahirkan orangutan ini hanya satu.

Gambar ciuman orang utan

Orangutan tak pernah memiliki anak kembar, masa kehamilannya hampir sembilan bulan, seperti proses kehamilan pada manusia. Jaraknya mempunyai anak lama sekitar tujuh sampai delapan tahun. Sex orangutan ini tentunya membutuhkan tempat yang layak seperti pada habitatnya, yaitu di hutan, dan ironis sekali mereka ketika di dalam kebun binatang aktifitas sex orangutan ini dapat dilihat orang banyak.

Mungkin kita menggangap itu adalah binatang bisa melakukan sex di mana saja. Akan tetapi, layaknya manusia, jika binatang melakuan hubungan sex dan terganggu orang lewat atau berbicara keras, bisa - bisa menurunkan gairah sex mereka, dan kurang maksimalnya proses pembuahan pada sel telurnya. Sedangkan mereka hanya bisa mempunyai anak tiga seumur hidupnya masanya hidup 45 tahun.

Gambar orangutan dan dua anaknya

Orangutan atau mawas adalah sejenis kera besar yang memiliki lengan yang panjang dan kuat dengan warna bulu kemerahan, terkadang cokelat serta tidak memiliki ekor. Kera besar ini merupakan salah satu hewan langka di dunia karena hanya terdapat di Indonesia (90 % dari jumlah seluruhnya) dan Malaysia (10 %) dengan habitatnya berada di hutan hujan tropis.

Jenis orangutan, yaitu orangutan yang hidup di hutan Kalimantan (pongo pygmaeus pygmaeus) dan orangutan yang hidup di hutan sumatera (pongo abelii). Anak orangutan biasanya selalu digendong induknya, induk orang utan menjaga anaknya. Mereka memakan buah-buahan daun dan memecahkan biji-bijian. Orangutan jantan biasanya terlihat sendirian.

Sexsualitas orangutan adalah kekuasaan yang dibangun orangutan di tengah-tengah belantara hutan. Dengan banyaknya keluarga orangutan, maka kuatlah mereka saling melindung dan mencari makan, cinta dan sex dibangun orang utan untuk mempertahankan daerah kekuasaanya dari bahaya yang mengancam.

Anggota orangutan banyak bergerumbul pada pohon-pohon dan ranting-ranting pohon agar tidak dimangsa binatang yang lainya, juga tidur-tiduran di tanah saling memadu kasih. Akan tetapi, siapa kini yang peduli dengan sexsualitas orangutan jika peradaban manusia ingin memenangkan daerah kekuasaanya, bahkan orangutan menjadi terpingirkan, dan hilangnya rasa malu manusia.

Semakin berkembangnya suatu peradaban, maka bangunan cinta yang telah ada menjadi indikasi materi yang harus dibangun, materi menggeser nilai cinta terhadap lingkungan dan binatang. Manusia primitif tak sama dengan manusia moderen. Kedekatan manusia primitif dirasakan lebih arif dan bijaksana terhadap keberadaan mahluk lain yang sama-sama hidup di dunia.

Manusia modern dan pemodal erat sekali keberadannya manusia modern dan teknologi erat sekali peranannya. Laju penduduk dan perkembangan teknologi sama pesatnya, di pojok desa Mentawai bisa berkomunikasi dengan penduduk di pojok pulau Rote dengan hitungan menit karena adanya teknologi komunikasi yang canggih, berupa HP, TV, Internet dan lain sebagainya

Akankah nilai teknologi dan nilai pembangunan menghilangkan kearifan lokal, dan berkurangnya kesopanan manusia terhadap keberadaan alam dan satwa yang hidup di dalamnya? Manusia membangun kekuasannya di atas dominasi dan kapitalisme lahan guna menyalurkan hasrat biologisnya, yaitu berumah tangga dan berkembang biak, membangun materi untuk hidup.

Sungguh terlalu jika manusia mengembangkan dan membangun perilaku sexnya tak memperhatikan habitat mahluk hidup lain yang mulai terusik. Sedangkan mahluk hidup berupa binatang terutama orangutan memiliki tingkah laku dan sex layaknya manusia yang ingin hidup dan melangsungkan hidupnya dan berkembang biak.

Kearifan lokal adalah budaya yang sangat dibutuhkan untuk menjaga lingkungan dan melestarikan fauna dan satwa yang ada di dalamnya dan budaya ini tidak diperbolehkan merusak alam dan nilai yang memiliki arti sejarah yang sangat vital. Namun realitanya kearifan lokal ini mulai berkurang dalam masyarakat di sekitar hutan dan hilangnya nilai masyarakat pedalaman.

Manusia yang ingin memperluas lahan perkebunannya kelapa sawit, misalnya di Kalimantan sering melakukan penebangan pohon dan pembakaran hutan tempat hidup orang utan, pembantaian terhadap orang utan kerap dilakuakan untuk dimakan dan diangap sebagai binatang perusak lahan, demikianlah kurang sadarnya para petani perkebunan bahwa orang utan ke hilangan habitatnya.

Miris sekali ketika orangutan di dalam sarangnya saling mencapai organisme mereka harus membau sangit dan terbakar hangus keluarganya, sunguh tragis karena habitat orangutan banyak di hutan Kalimantan dan Sumatera yang sejak tahun lalu sampai 2015 banyak problematika kebakaran hutan.

Gambar orangutan hangus terbakar

Ketika induk orangutan merawat anak dan bercumbu mesra dengan jantannya harus lari tunggang langgang karena mendengar suara gergaji mesin yang merobohkan ranting-ranting dan pohon-pohon besar di hutan, setelah berhubungan intim orangutan beristirahat untuk merilekasikan otot-ototnya. Namun tak berapa lama mereka dikejutkan dengan pemburu dan senapanya.

Gambar pemburu orangutan

Pada era-90an diperkirakan jumlah orangutan di Indonesia sekitar 200.000 ekor, namun dalam satu dekade terakhir populasinya mengalami penurunannya yang sangat drastis. Kini diperkirakan jumlah orangutan Kalimantan sekitar 12.000 ekor dan orangutan Sumatera lebih parah lagi, yaitu sekitar 6.650 ekor

Penurunan perkembangbiakan ini karena gairah sexsualitas orangutan yang terancam etika konsumsi dan produksi manusia yang berlebih, juga untuk sexsualitas di antara laki-laki dan wanita karena dibangunnya rumah-rumah penduduk bahkan ada juga lokalisasi. Bahkan yang ironis ada kabar bahwa orangutan menjadi budak pelayan nafsu zoophilia di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.

Indonesia memang penghasil kelapa sawit terbesar, tetapi ketika dibukanya lahan perkebunan kelapa sawit maka keromantisan orangutan yang berada di dalam hutan menjadi terganggu dan menjadikan tingkat stres yang tinggi pada orang utan, karena ada yang kehilangan jantannya atau betinanya, bahkan bayi orang utan yang mahal jika dijual.

Tingkat stres orangutan akan bertambah lagi dan menurunkan gairah sex mereka ketika mereka terserang penyakit, bisa juga sakit pada pernafasannya karena hilangnya udara bersih akibat terkontaminasi oleh asap kebakaran hutan dan juga hilangnya ribuan klorofil penyaring karbondioksida.

Orang-orang di pedalaman dan pendatang, dan luar negeri bisa melakukan transaksi jual beli daging orangutan dan bayi orang utan melalui HP dan gadget, bahkan aktifitas sex orangutan juga memiliki nilai jual karena di media masa banyak juga yang mengekplor sex orangutan, bisa berbentuk iklan, dan gif, video.

Sex orangutan menjadi bernilai jual atau komoditi dalam masyarakat postmodern yang sedang dirasuki budaya informasi dan konsumsi ini sesuai dengan teorinya Foucault dalam sex dan kekusaan. Ternyata di dalam zoo orangutan ini juga rentang sekali terhadap kekerasan sex karena mereka harus melakukan sex di kandang yang tidak sebegitu luas dan leluasa seperti di rimba.

Video aktivitas sex orangutan di dalam kandangnya 

Belum lagi orangutan ini mengalami sakit ketika di dalam kebun binatang karena makanan yang kurang gizinya dan makanan yang berasal dari orang-orang pengunjung adalah makanan bekas atau makanan yang mempunyai pembungkus plastik yang ikut tertelan dan sulit dicerna, dan makanan yang basih menjadikan orangutan sakit perut, serta udara yang tak seramah di hutan mengakibatkan sakit.

Seperti kejadian di Kebun Binatang Surabaya kembali kehilangan satwa koleksinya, setelah hari Kamis 10 Oktober 2013, jam 11.55 WIB orangutan bernama Bety mati akibat sakit. Radang pneumonia atau radang paru-paru yang diderita sekitar seminggu sebelumnya.

Kerjasama antara berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam menjaga kearifan lokal hutan tanpa merusak hutan untuk keberlangsungan hidup orangutan dan satwa lainya sebagai endemis hutan tropis, dan menjaga nilai-nilai masyarakat pedalaman yang cinta lingkungan, membangun tempat wisata yang ramah lingkungan dan satwa liar.   

Perlu adanya pelajaran di sekolah-sekolah mengenai cinta lingkungan dan satwa dari usia dini, mereka harus mengenal satwa asli Indonesia. Dan tidak hanya orang utan saja yang terancam kepunahanya, kerja sama pihak perhutani dan para ahli satwa, misalnya dokter-dokter hewan sangat dibutuhkan, bagaimana endemik orangutan dapat meningkat kesehatannya.

Diperlukan penelitian mengenai penyuburan pemeliharaan, dan perkembangbiakan orangutan sebagai satwa langkah di Indonesia.

Gambar bayi orang utan dirawat manusia

Ayo saling for giving tempat untuk orangutan berkembang biak, marilah bersinergis menjaga kearifan lokal untuk melindungi fauna Indonesia!

Artikel Terkait