Masalah pertanian di wilayah pedesaan bukan hanya terpaku pada masalah kepemilikan lahan dan ketenagakerjaan semata. Lebih dari itu termasuk pula masalah kepemudaan atau generasi muda di desa yang menjadi ujung tombak penerus dan masa depan pertanian.

Masalah kepemudaan memang menjadi sentral dan krusial, terutama dalam masalah pengangguran dan kesempatan kerja bagi pemuda. Kepemudaan, dalam pengertian World Bank adalah perangkat transisi yang saling bertautan (dari anak-anak ke dewasa, dari pendidikan ke pekerjaan, dari perilaku berisiko ke warga negara, dari tanggung jawab pada keluarga ke pembentukan keluarga sendiri dan seterusnya).

Jelas, pemuda dan kepemudaan dalam pemaknaan kata adalah berbeda. Pemuda pada beberapa negara disebut sebagai kelompok orang yang berusia di bawah 35 atau bahkan 40 tahun.

Ketika masih duduk di bangku perkuliahan, dosen saya bilang begini. "jadilah job creator, bukan job seeker", yang artinya setiap mahasiswa setelah lulus dituntut sebagai pencipta lapangan pekerjaan. Pemuda yang sudah berpendidikan dituntut menjadi pencipta lapangan kerja, bukan lagi generasi pencari kerja yang menimbulkan menjamurnya pengangguran. Mempankah doktrin itu?

Sektor pertanian merupakan majikan terbesar di negara berkembang seperti Indonesia. Makanya negara kita disebut-sebut sebagai negara agraria. Namun mirisnya negara kita masih impor produk pertanian seperti jagung dan beras. Hal ini pertanda bahwa ada yang rusak dalam sistem pertanian yang ada di negeri ini. Bisa jadi regulasinya, bisa jadi masalah itu muncul dari petaninya sendiri. Perlu pengkajian mendalam untuk menelusuri perihal ini.

Salah satu faktor menakar masa depan pertanian di pedesaan Indonesia yaitu dengan melihat seberapa antusias pemuda-pemuda di desa memiliki minat menjadi petani? Ketika anak-anak muda ini bersekolah (kuliah di pergruan tinggi) di kota, mereka tidak akan lagi bercita-cita menjadi petani. Melainkan mereka berkeinginan memasuki dunia kerja yang lebih berkelas. Apakah petani bukan pekerjaan yang berkelas? Iya, menurut versi pemuda di desa.

Pada tulisan ini, saya tidak akan membawa pembaca pada masalah rumit seperti reforma agraria dan semacamnya. Ketika menjumpai seorang ibu di pedesaan, saya selalu bertanya mengenai anak-anak mereka. Sudah kelas berapa, sekolah di mana, dan lain-lain. Mereka mengakui bahwa berkeinginan anak-anak mereka tidak seperti orang tuanya yang hanya menjadi petani.

"Anak sekolah biar tidak seperti ibu bapaknya yang hanya petani." Kata-kata ini tertanam kuat bagi anak-anak petani desa yang mengenyam pendidikan tinggi. Sungguh sederhana keinginan orang tua di desa; 'anaknya tidak menjadi petani'. Faktanya memang orang tua tidak menginginkan anak-anak mereka menjadi petani. Apakah menjadi petani itu kutukan?

Pada kondisi ini, yang dikatakan White bahwa pemuda desa yang berpaling dari pertanian akan menyebabkan hilangnya keterampilan atau de-skilling. Jangankan pemuda yang sudah memasuki perguruan tinggi, masih duduk di bangku SMA saja sudah didoktrin bahwa mereka harus sekolah tinggi dengan maksud; "jangan sampai bernasib sama dengan orang tua sebagai petani". Sungguh, menjadi petani itu sebuah kutukan?

Pada sekolah formal mengajarkan orang-orang muda untuk tidak ingin menjadi petani. Pada bidang-bidang tertentu dalam sekolah dan perguruan tinggi lebih kepada bagaimana 'mengakali' petani; dengan mengkonversi ke pertanian yang lebih menguntungkan, modern, dan adanya proses intimateexclusion (penggusuran secara akrab) Sehingga budaya tani tradisional sudah basi, tidak ada gunanya, dan tidak menguntungkan sama sekali.

Dalam hal ihwal ini, pemuda-pemuda yang memiliki pendidikan bukan sebagai petani, melainkan menjadi agen korporasi dan pemerintahan. Tentunya memunculkan masalah baru, terutama masalah sosial agraria terutama dalam perebutan kuasa atas tanah oleh petani-petani. Kemudian menjamurnya patriarkhi yang akan menjadi alat penindasan terhadap tenaga kerja perempuan.

Tidak mengejutkan jika pemuda-pemuda desa yang berpendidikan ini akan menjadi elit kunci yang memfasilitasi praktik perampasan lahan. Petani dibujuk dengan pembayaran uang tunai atas lahan mereka, dengan diikuti janji-janji pemerintah atau pemodal lain tempat mereka bernaung. Sehingga pertanian di desa yang tadinya tradisional dan berhasil menjadi penopang pangan dan ekonomi keluarga mereka, berubah menjadi sistem pertanian modern yang bentuknya pada pertanian industri (insentif modal dan energi).

Pada penelitian Beckford, justru model pertanian industri ini cenderung tidak berkelanjutan, tidak menyediakan pekerjaan dalam skala berarti, menciptakan enklave intensif modal, pertanian tunggal dengan pertautan minimal pada ekonomi lokal.