Jika pendidikan hanya tentang sharing ilmu, maka sekolah bisa dibubarkan sekarang. Tak perlu bangun gedung baru. Tak perlu menghabiskan 20% APBN ke sektor pendidikan. 549 triliun itu toh bisa dibagikan saja ke bimbel online yang jelas profesional. Sediakan gratis untuk rakyat Indonesia. Luar biasa. Inovatif. 

Jika sekolah offline akan dimulai lagi semester depan benarkah peran guru benar masih dibutuhkan. Bukankah semua tugas guru sudah bisa dilakukan dengan daring? 

Sebagai guru muda, atau anggap saja saya berjiwa muda, belajar daring memudahkan saya. Sebaliknya, bagi guru senior belajar daring adalah tantangan luar biasa. Menguasai aplikasi pendukung di usia tidak muda bukanlah hal sederhana. Ditambah lagi harus menimbang dan memilah materi paling relevan di antara sekian kompetensi dasar. 

Mencari ide penyajian dalam paparan yang sesuai dengan beragam modalitas belajar. Tentunya sambil memikirkan ketersediaan kuota dan kemampuan hp siswa. Sebagus apapun media, mentah semua tanpa dua hal ini. Daring hanya mengandalkan media  belajar dalam kesuksesan siswa. 

Faktanya, setelah sekian bulan belajar di rumah, ternyata hasil belajar daring tidak memuaskan. Capaian belajar sudah diturunkan dan tetap saja hanya 1/3 siswa yang bisa tuntas standar minimal. Siswa yang kesehariannya cerdas pun ternyata tak mudah beradaptasi.  Kemalasan akut melanda mayoritas siswa. Nilai merah bertebaran di rapot. 

Samar-samar saya menduga daring telah memudarkan cinta. Ikatan antara guru dan anak didiknya telah tersabotase. Kenikmatan bersosial media telah mengalihkan dunia mereka. Menghapus kebiasaan-kebiasaan baik yang biasa ditanamkan di sekolah. 

Semisal kebiasaan tilawah pagi bersama, sholat berjamaah dan sholat dhuha. Tak ada lagi berbagi kisah dan berbagi makanan bersama teman. Tak ada lagi interaksi siswa dan guru yang penuh kenangan. Pembiasaan adab-adab keseharian tidak dapat dipraktikkan. 

Saat belajar online, siswa kehilangan moment berlatih beragam soft skill. Tak merasakan kerepotan bekerjasama dengan beragam karakter berbeda. Ini jelas terlihat di kelas-kelas baru yang antar siswa dan guru belum saling kenal. Saat online siswa tidak tahu rasanya bagaimana menjadi pemimpin kelompok. Tidak tahu suka duka melakukan wawancara dengan responden dalam praktik penelitian sosial. 

Tidak merasakan ketegangan di laboratorium IPA. Tidak merasakan bagaimana rasanya harus ditolak pelanggan saat praktik kewirausahaan. Mereka tak mendapatkan pengalaman kolektif yang akan penting untuk pembentukan kepribadian dan kesuksesan masa depan.     

Kurikulum 2013 mengamanatkan setiap pembelajaran menekankan proses yang membangun kebiasaan baik. Ini menjadi hambar saat daring. Praktik berdagang, praktik ceramah, praktik wudhu, sholat, haji, hafalan tidak berjalan. Lagi-lagi alasan keterbatasan kuota. Praktik berorganisasi, belajar tugas upacara bendera, praktik di labrotaorium semua momen-momen ini hilang. 

Daring menghilangkan banyak kesempatan bersosialiasasi. Setelah daring tak ada lagi belajar dengan sosio drama, tak ada lagi pentas pengembangan diri yang rutin dilakukan tiap bulan. Tak ada lagi sorak sorai siswa di lapangan saat berpeluh mengejar bola. Tiba-tiba energi yang membara itu harus mau tidak mau disalurkan dalam semua aktifitas online. 

Guru mulai kehilangan pesona karna jarangnya perjumpaan di dunia nyata. Buktinya jika di awal covid masih banyak siswa kirim pesan kangen sekolah. Masih banyak siswa curhat bosan di rumah. Kini berlalunya waktu mereka telah menjadi lupa sekolahnya. Mereka mulai menikmati kebiasaan baru, yang entah apa tapi telah menipiskan semangat belajarnya. 

Jika dikenang kembali, sekolah offline selalu punya drama.  Bagaimana tidak menjengkelkan. Tiap hari ada kelakuan yang harus masuk jurnal harian untuk  ditindak lanjuti. Misalnya pengalaman saya berkeliling mencari anak-anak lelaki yang menghilang. Satu kelas kompak bolos di jam guru yang tak mereka suka. Malah kompak tiduran di pojok mushola. Sebagai wali kelasnya saya sering berlarian mengejar anak-anak yang sembunyi di pojok kandang ayam milik warga. Ngopi dan rokok-an di warung. 

Demi cari bebas dari belajar matematika mereka lakukan apa saja. Panjat atap orang sampe ambrol. Baju sobek nyangkut di kawat pagar. Anak-anak perempuan pun tak kalah memusingkan perilakunya. Upacara bendera rumpiannya sepanjang kereta. Dengungannya mengalahkan rombongan tawon. Jadi apa pentingnya tatap muka selain menaikkan tensi?

Tatap muka. Mereka akan selalu mengingat kenangan yang tercipta.  Pun hingga mereka sukses. Mereka masih mencari guru-gurunya yang dulu. Mereka yang merayu minta izin bisa masuk kelas walau sudah diusir guru piket akibat datang ke sekolah kesiangan. 

Mereka yang minta sendiri untuk di hukum lari keliling lapangan siang hari bolong. Modus mereka mengurangi durasi jam belajar. Sebandel apapun mereka, dengan belajar tatap muka guru dan siswa punya kenangan bersama. Tatap muka memberi kesempatan untuk belajar banyak hal bersama. 

Intensitas berjumpa bisa dibilang rumus lama yang paten. Witing tresno jalaran soko kulino.  Kadang bersiteru tapi semua menjadi kenangan rindu. Itu yang tak di dapat dari interaksi daring. Kenangan untuk mereka susuri saat proses pencarian jati diri usai. 

Saya bukan guru yang anti perubahan. Begitupun rekan-rekan yang saya kenal. Mereka berjibaku dengan beragam aplikasi yang tak mudah. Guru-guru senior rela hadir ke sekolah demi belajar tutorial google classroom hingga upload video ke youtube. Menempuh jarak antar kota/provinsi dalam situasi covid yang tidak aman.  Mengikuti diklat modul online. Belajar membuat barcode, bitly dsb.

Tanpa modal secuil cinta, kami mungkin sudah menyerah pada keadaan. Syukurlah secuil cinta yang kami punya bisa jadi modal menguatkan perjuangan. Pendidik yang punya cinta pada keberlangsungan dunia pendidikan tentu siap belajar. Siap beradaptasi. Itu saya lihat sendiri pada guru-guru di SD negeri anak saya. Perjuangan guru-guru usia 50 tahunan belajar google form. Itu sungguh tak mudah.

Pembelajaran kita memang sedang LDR an. Salah satu dari kita tergoda melupakan komitmen sekolah. Satu dua orang guru mungkin tak mau kembali mengajar tatap muka setelah tahu enaknya daring. Itu sah-sah saja. Pun demikian, lihatlah masih ada guru-guru kita yang punya secuil cinta. Rindu berjumpa anak didiknya. 

Masih ada guru-guru yang meyakini pendidikan adalah seni menciptakan kembali manusia sesuai dengan perannya di bumi. Berkontribusi pada sejarah manusia.

Ilmu yang kita berikan tidak selalu relevan tapi cinta yang kita tanamkan bertumbuh. Kita tak pernah tahu. Seberapa cepat dan seberapa besar bibit itu akan tumbuh, bukan?