Petani adalah profesi yang banyak digeluti di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Untuk menjadi seorang petani, seseorang tidak perlu menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi. Kebanyakan petani hanyalah lulusan Sekolah Dasar (SD), bahkan ada yang tidak lulus SD. Karena biasanya menjadi seorang petani merupakan profesi turun temurun dari keluarganya.

Sejak kecil, anak seorang petani sudah diajak ke sawah atau ladang untuk membantu orangtuanya. Lama kelamaan, anak petani tersebut akan dengan sendirinya bisa melakukan usaha tani dengan pengalaman yang dimilikinya.

Namun, saat ini sudah banyak generasi muda yang tinggal di pedesaan tidak mau mewarisi profesi orangtuanya sebagai petani. Mereka lebih memilih bekerja sebagai buruh di pabrik. Padahal saat ini usia petani di Indonesia rata-rata di atas 40 tahun. Tanpa adanya regenerasi petani, maka akan mengancam keberlangsungan pertanian di Indonesia.

Pertanian sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Salah satu buktinya dalam relief Candi Borobudur ditemukan beberapa panel yang menggambarkan tentang pertanian.

Dalam Relief Karmawibhangga Panel No. 118, diceritakan tentang pengendalian hama tikus yang menyerang kebun pisang. Hama tikus juga diceritakan pada panel No. 65.

Selain pengendalian tikus, juga ditemukan relief tentang seorang laki-laki yang membajak sawah menggunakan dua sapi dan ada juga relief yang menggambarkan kegiatan panen padi. Beberapa relief ini menunjukkan bahwa pertanian menjadi salah satu sektor yang sudah dikembangkan pada masa silam.

Bukti lain yang menunjukkan Indonesia sebagai negara agraris adalah sebuah situs yang diduga perkampungan pada zaman Mataram Kuno di Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah.

Dalam situs yang ditemukan pada tahun 2008 tersebut, terdapat jejak pertanian di masa lalu, seperti bekas lahan pertanian kuno, sisa-sisa bulir padi yang sudah menjadi arang, dan sisa-sisa jagung. Kedua bukti yang ditemukan dari Candi Borobudur dan Situs Liyangan menunjukkan bahwa sejarah panjang bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari sektor pertanian.

Budaya bertani juga terus berlanjut pada masa kolonial di mana rempah-rempah menjadi salah satu alasan bangsa asing ingin menguasai wilayah Indonesia. Tanah yang subur, berlimpah kekayaan hayati, dan wilayah yang luas serta iklim yang kondusif seharusnya bisa menjadikan Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara pertanian terbaik di dunia.

Namun, faktanya peringkat teratas diduduki oleh Jepang dan Belanda, padahal luas wilayah kedua negara tersebut jauh lebih kecil daripada luas wilayah Indonesia. Ternyata wilayah pertanian yang luas tidak menjamin Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan warganya. Buktinya, pemerintah pernah beberapa kali melakukan impor produk pertanian dari negara lain.

Salah satu kunci keberhasilan pertanian di Jepang dan Belanda adalah penggunaan teknologi dalam usaha pertaniannya. Jadi, walaupun luas negaranya tidak besar, kedua negara tersebut mampu mengoptimalkan produk-produk hasil pertanian.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan pertanian di Indonesia yang masih tradisional. Bahkan di beberapa daerah masih sama dengan pertanian zaman Mataram Kuno, yaitu membajak dengan sapi.

Saat negara maju sudah menanam padi dengan mesin penanam padi, petani Indonesia masih menanam padi secara manual. Dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi, petani Indonesia tertinggal dari petani Jepang dan Belanda. Jika petani Indonesia tidak segera mengejar, mungkin saja beberapa tahun yang akan datang julukan Indonesia sebagai negara agraris hanya tinggal sejarah.

Di era globalisasi, persaingan antarnegara dalam berbagai bidang semakin ketat. Jika pertanian Indonesia ingin tetap bertahan atau bahkan lebih maju, tak pelak Indonesia harus banyak berbenah.

Untuk menjadi seorang petani, ternyata pendidikan juga harus diperhatikan. Di Indonesia sendiri sebenarnya sudah banyak perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Pertanian. Namun, mahasiswa jurusan pertanian sedikit berbeda dengan mahasiswa dari jurusan lain.

Saat mahasiswa jurusan kedokteran ditanya ingin menjadi apa, mereka akan menjawab menjadi dokter. Begitu pula dengan mahasiswa dari jurusan arsitektur saat ditanya pertanyaan yang sama akan menjawab menjadi arsitek.

Apabila mahasiswa jurusan pertanian yang diberikan pertanyaan tersebut, hampir sebagian besar akan menjawab profesi selain petani. Misalnya, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai bank, bahkan menjadi reporter. Kurangnya minat generasi muda berpendidikan dalam menggeluti profesi petani merupakan fenomena yang harus dievaluasi oleh pemerintah.

Pemerintah memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan minat generasi muda, baik yang berpendidikan rendah maupun yang berpendidikan tinggi terhadap bidang pertanian. Karena keberlanjutan pertanian Indonesia di masa depan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Jika tidak ada pertanian, maka tidak akan ada pangan, dan hal ini akan menimbulkan kelaparan bahkan kematian.

Salah satu alasan kurangnya minat generasi muda memilih petani menjadi profesi disebabkan oleh citra yang dimiliki oleh petani. Menjadi petani identik dengan panas, becek, kotor, dan penghasilan yang pas-pasan bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan petani sendiri pun sebagian besar ingin anaknya tidak menjadi petani mengikuti jejaknya.

Langkah awal pemerintah untuk menarik minat generasi muda adalah mengubah citra pertanian yang sudah terlanjut melekat dalam masyarakat. Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan petani dan memberikan pengetahuan kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi penerus bahwa Indonesia adalah negara agraris.

Dengan kekayaan alam yang dimilikinya, pertanian Indonesia bisa mengalahkan negara lain. Pemerintah harus memikirkan nasib petani dalam negeri, jangan sedikit-sedikit melakukan impor. Jika hal ini dibiarkan, tentu akan menurunkan semangat petani dalam bercocok tanam dan berimbas pada kurangnya ketersediaan pangan.

Pertanian bukan hanya sekadar kegiatan bercocok tanam menghasilkan produk-produk pertanian. Namun, dari pertanian banyak lahir kebudayaan dan kearifan lokal Indonesia yang patut dibanggakan dan dilesatarikan. Sebut saja upacara-upacara adat yang dilakukan sebelum tanam dan sesudah panen di beberapa daerah di Indonesia.

Mencintai pertanian sebagai bagian dari budaya leluhur memang bukan hal yang gampang. Mengingat kondisi pertanian di Indonesia saat ini. Namun, bukan hal yang mustahil jika semua pihak saling mendukung satu sama lain, maka pamor sektor pertanian akan meningkat bahkan paling atas.

Pendidikan tentang pentingnya Indonesia sebagai negara agraris harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengenal macam-macam tanaman asli Indonesia hingga melakukan kegiatan belajar mengajar langsung di sawah atau ladang untuk memperkenalkan pertanian.

Pendidikan tentang pertanian untuk menuju pertanian Indonesia menjadi peringkat pertama di dunia juga harus dibarengi dengan tindakan melestarikan budaya dan kearifan lokal. Jangan sampai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajari malah menghilangkan jati diri bangsa ini. Sampai kapan pun, pertanian akan menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Pendidikan, pertanian, dan kebudayaan adalah hal yang tidak terpisahkan. Pendidikan menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan sektor pertanian Indonesia. Dan dari pertanian memunculkan ragam kearifan lokal dari ujung Sabang sampai Merauke yang menjadi aset kebudayaan yang tak ternilai harganya.


Sumber :

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/relief-petani-pemburu-dan-nelayan-di-candi-borobudur.html

http://borobudurculturalfeast.com/index.php/2016/11/16/160-panel-relief-karmawibhangga-candi-borobudur/

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/relief-tanaman-di-candi-borobudur.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Liyangan

http://historia.id/kuno/bertani-zaman-kuno