14504_44451.jpg
Tips & Trick · 5 menit baca

Hilangkan Kecanduan Gadget pada Balita dengan Kertas

Teknologi digital memang sudah menjadi bagian dari pola asuh anak dalam sepuluh tahun belakangan ini. Bahkan banyak orang tua zaman sekarang membekali anak-anak mereka dengan gadget, meski usia anaknya masih terbilang balita. Alasannya sederhana, "Biar anteng."

Alasan itulah yang sering kali digunakan orang tua dalam menghadapi balita yang cenderung aktif. Padahal penggunaan gadget pada balita lebih banyak mudaratnya dibanding manfaatnya. Setidaknya ada empat bahaya yang menghantui balita pengguna gadget.

Pertama, gangguan perkembangan kognitif balita. Banyak penelitian menunjukan pemakaian gadget yang berlebihan akan meperlambat perkembangan otak anak, defisit perhatian, dan gangguan pendengaran. Dalam pemberitaan Kompas Jumat (5/1), tingkat IQ anak-anak pengguna gadget di Skandinavia dan Inggris mengalami kemerosotan bertahap.

Kedua, lambatnya perkembangan fisik balita. Balita yang menghabiskan waktu lama di depan gadget akan kekurangan gerak fisik. Sebab, perhatian balita yang tertuju pada gadget tidak menstimulasi balita untuk bergerak. Kondisi ini dapat memicu obesitas pada anak.

Ketiga, terhambatnya kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial. Hubungan balita dan gadget yang tak terpisahkan dapat menghalangi ikatan emosional balita dengan keluarga dan teman seusianya. Balita pun jadi kesulitan untuk membangun hubungan pertemanan di luar dunia elektroniknya.

Keempat, terbangunnya obsesi yang menyebabkan agitasi. Balita yang sering terpapar gadget cenderung memiliki obsesi dan kecanduan pada gadget itu sendiri. Perilaku adiktif inilah yang meningkatkan agitasi dan ledakan amarah (temper tantrum) pada anak ketika orang tua menolak untuk memberikan gadget.

Semua bahaya itulah yang saya hindari selama mengasuh tiga anak saya, dua di antaranya masih balita. Untuk itu, saya menggunakan kertas dalam mengisi aktivitas anak-anak saya. Di samping itu, kertas juga dapat menjadi solusi alternatif untuk menghilangkan kecanduan gadget pada balita.

Mengapa memilih kertas? Karena kertas adalah bahan yang murah dan mudah didapatkan untuk mengisi aktivitas anak sehari-hari. Namun perlu diperhatikan, penggunaan kertas harus disesuaikan dengan kebutuhan usia balita, mulai dari jenis kertasnya hingga aktivitas seperti apa yang akan dilakukan.

Balita yang berusia tiga sampai lima tahun umumnya sudah mulai menggunakan alat tulis. Bahkan banyak dari mereka yang sudah mulai mengenal huruf dan angka. Dalam hal ini kertas berguna sebagai media belajar utama bagi anak untuk membaca, menulis, dan menggambar.

Terkait aktivitas menggambar, sebaiknya anda memberikan kertas kosong kepada anak dan bukan buku mewarnai. Ada tiga alasan mengapa kita menghindarkan anak dari buku mewarnai.

Pertama, buku mewarnai membentuk balita menjadi pribadi yang pasif atas karya seni mereka sendiri. Kedua, buku mewarnai mengarahkan balita merasa gagal akan kemampuan dirinya. Coba bayangkan. Berapa balita yang bisa mewarnai di dalam garis? Apakah mewarnai di dalam garis adalah keharusan?

Ketiga, aktivitas corat-coret balita sangat berkaitan dengan kemampuan literaturnya di masa depan. Semakin banyak balita menulis dan menggambar, semakin mudah bagi mereka untuk belajar menulis nantinya.

Saat balita menulis, mereka belajar membuat semua bentuk yang diperlukan untuk menulis alfabet dan angka. Mewarnai di dalam garis yang telah ditentukan tidak memungkinkan hal itu terjadi. Jadi, biarkan anak mewarnai apa yang mereka gambar. Hal ini tidak hanya menumbuhkan daya kreativitas anak, tapi juga memberikan mereka ruang untuk berekspresi.

Karena itulah saya mendorong anak-anak saya untuk menuangkan ekspresi mereka melalui kertas, baik di saat senang maupun sedih. Setelah mereka selesai menggambar dan mewarnainya, saya selalu menanyakan cerita dibalik gambar tersebut. Dari kegiatan ini komunikasi antara orangtua dan anak dapat terjalin dengan baik.

Tidak hanya itu, bagi balita yang berusia dua sampai tiga tahun, kertas bisa jadi sasaran untuk meluapkan emosi. Ketika balita tengah tantrum, mereka kerap menggunakan tangan dan kaki untuk meraih ataupun merusak benda-benda yang ada di sekitarnya.

Dalam kondisi demikian, anda dapat memberikan kertas kepada anak untuk dirobek ataupun dilempar. Coba anda bayangkan jika tantrum anak kumat dan ia memukul atau membanting gadget anda. Hal itu sudah pasti akan menghabiskan biaya yang jauh lebih mahal dibanding kertas.

Meski semua aktivitas tersebut mengandalkan kertas, penggunaannya harus tetap bersandar pada prinsip 3R yaitu, reuse, reduce, dan recycle. Maksud dari reuse adalah menggunakan kembali kertas-kertas yang sudah tidak dipakai. Dalam kegiatan menggambar misalnya, saya biasanya memanfaatkan kertas-kertas bekas dari skripsi dan laporan yang belum direvisi. Sedangkan untuk anak yang tantrum, kita bisa menggunakan kertas koran dan kardus.

Pemanfaatan kertas bekas jelas berkaitan dengan prinsip reduce yang merupakan upaya untuk meminimalkan pemakaian kertas baru. Anak-anak perlu tahu bahwa kertas bukanlah barang yang diperoleh dengan percuma.

Pembuatan kertas mengorbankan kehidupan pohon. Untuk menghasilkan satu rim kertas, kita membutuhkan satu batang pohon berusia lima tahun. Jika tidak bijak dalam menggunakan kertas, lingkungan hidup bisa terancam. Rasa kepedulian terhadap alam itulah yang perlu ditumbuhkan pada diri anak sejak dini. Hal ini berguna bagi terciptanya masa depan berkelanjutan.

Terkait prinsip recycle, saya biasa menyimpan potongan-potongan kertas dari momen robek-merobek tadi. Setelah terkumpul banyak, saya dan anak-anak saya akan membuatnya menjadi prakarya di akhir pekan. Di sinilah, kertas bermanfaat sebagai sarana untuk berkarya.

Kami biasa mengolah potongan-potongan kertas bekas menjadi bubur kertas atau pulp, untuk kemudian dijadikan kerajinan tiga dimensi. Selain itu, kami juga suka memanfaatkan kertas tisu untuk pembuatan bunga. Ada pula kertas origami dan washi untuk seni melipat kertas.

Kertas washi khususnya baru populer di Indonesia pada awal 2000an. Jenis kertas ini digunakan untuk pembuatan boneka tradisional Jepang. Karena itulah tampilan bonekanya pun khas perempuan yang mengenakan kimono. Ada dua jenis boneka washi yang bisa kita buat, yaitu boneka tiga dimensi seperti boneka pasak kayu dan boneka dua dimensi yang dibuat berdasarkan pola.

Mengingat prinsip reduce dan reuse yang sudah disinggung sebelumnya, saya kerap mengganti bahan dasar kertas washi dengan kertas kado bekas. Untuk menyesuaikan dengan motif kimono Jepang, saya memilih kertas kado yang bergambar bunga-bunga.

Tehnik dasar pembuatan boneka washi terdiri dari menggunting, melipat, dan menempel. Untuk mendapatkan model yang diinginkan, kita bisa menggambarnya sendiri ataupun mencetak pola-pola boneka yang telah tersedia. Setelah selesai dibuat, kita dapat membingkai dan memajangnya. Kreasi boneka washi ini juga berpotensi menjadi ladang bisnis yang menjanjikan jika kita serius menekuninya.

Selain untuk berkarya, kertas juga merupakan alat bermain bagi anak. Saya dan anak-anak saya sering kali menggunakan kembali kerajinan kertas yang kami buat untuk bermain peran. Kertas menjadi atribut utama dalam permainan yang kami lakoni, mulai dari topi bajak laut, mahkota raja, sampai mangkok untuk masak-masakan. Kami pun menciptakan mobil ataupun rumah dari kertas kardus.

Dari semua aktivitas tersebut kita dapat menyimpannya dalam kotak tersendiri yang dapat dihadiahkan kepada anak ketika sudah dewasa. Pada poin inilah kertas menyimpan rekam jejak akan tumbuh kembang putra putri kita. Kita boleh jadi mengenang momen-momen kebersamaan keluarga dalam cetakan foto. Namun rasa senang dan kebersamaan dengan orang tua terkasih akan terus melekat dalam memori anak.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan kertas saat ini bukan hanya sebagi media belajar, ruang berekspresi, sarana berkarya, dan alat bermain. Lebih dari itu, kertas merupakan senjata dalam melawan candu teknologi digital yang begitu memikat.