Penulis
3 tahun lalu · 138 view · 1 min baca menit baca · Puisi cafe.jpg

Hilang yang Tak Hilang

Aku melihatmu. Duduk di kafe itu, dekat jendela. Cahaya matahari sore sudah kejinggaan. Kau terlihat mempesona tersoroti sinarnya.

Kita lalu duduk berhadapan. Di atas meja bundar, di antara kita, ada segelas kopi favoritmu. Ada hot chocolate kesukaanku.

Kutatapi matamu. Berusaha memuaikan rindu yang lama mengeras membatu.

Tapi tunggu dulu.

Kau ternyata sebenar-benar hilang.

Seolah kau tak di sana. Tak di hadapanku.

Ibarat lukisan yang berada tepat di depan mata, tapi berada di dimensi yang berbeda.

Kita berada pada satu ruang. Tapi tidak pada dimensi yang sama.

Sungguh ia telah menyedotmu. Hilang.

Serupa lubang hitam pada angkasa. Serupa segitiga bermuda pada samudera.

Tapi kau tak menyadarinya.

Kulihat kau seolah menari di licinnya arena balet. Tiap gerakanmu kau anggap keindahan. Kau menikmatinya.

Kau bahkan seperti pecandu yang terikat kokain. Tak bisa lepas dan merasa sakit ketika terpisah.

Sungguh ia telah menculikmu. Hilang.

Dari tatapan kekasih. Dari tatapan sahabat. Yang sebelumnya membuatmu merasakan rindu. Yang sebelumnya membuatmu merasakan luapan rasa.

Namun, kau tak menyadarinya, seolah dunia memang begitu adanya.

Entah kapan kau akan menyadari, bahwa

Kau sudah kehilangan suara

Kehilangan tatapan

Kehilangan kata

Kau akan kehilangan rasa.

Aku teringat seorang pernah berkata: “Jagalah semua yang kau sayangi. Dunia terjangkit virus. Lama-lama kau akan kehilangan mereka. Kehilangan tatapan mereka, kehilangan suara mereka, kehilangan kata-kata mereka, lalu kehilangan semua rasa. Seolah dunia berpenghuni hanya robot saja”.

Senja telah lama berpulang. Aku masih melihatmu. Duduk di kafe itu, dekat jendela. Cahaya matahari sudah tak ada. Tapi kau masih terlihat mempesona. Kita masih duduk berhadapan. Di atas meja bundar, di antara kita, masih ada segelas kopi favoritmu. Masih ada hot chocolate kesukaanku. Hanya saja rindu pecah terburai menjadi kecewa . Dia masih menyedotmu. Benda kecil di tanganmu itu, yang kau tatap sepanjang waktu. Yang tiap sebentar berbunyi dan bergetar.

Ingin kurampas. Kubanting saja sampai terburai. Agar kau kembali dari hilang.

Tapi tunggu dulu. Kulihat sekeliling. Semua orang di kafe itu. Mereka semua. Hilang Yang tak Hilang.

Tiba-tiba aku tak bisa berkutik. Menggugu.

Sungguh, dunia sudah kehilangan tatapan, suara, kata, rasa, rasa dan rasa.

Artikel Terkait