Fenomena yang lumrah dan mungkin sudah dianggap sebagai sesuatu yang common sense. Sastra, sebagai dimensi nilai ruhani kehidupan, sudah mulai ditinggalkan. Manusia sudah sibuk dengan hal yang dianggapnya lebih penting dibanding sastra. 

Manusia sibuk bekerja, pergi pagi pulang petang untuk mencari nasi. Diantara yang lain sibuk bersekolah, membawa buku dan alat tulis demi kepentingan mencari “ilmu”. Diantaranya yang lain sibuk beribadah, mencari pahala dan mencintai surga, tanpa berfikir tentang pemilik-Nya.

Sastra adalah benda lapuk yang kita taruh digudang atau kita taruh di pojok kamar sejarah kita. Tidak kita pegang lagi. Kita menyangka bahwa ia adalah tulisan yang indah, sesudah dibaca dibuang. Padahal ia ruhani, dan tak bisa kita membuangnya. Padahal ia lekat ke kita, tanpa kita bisa menyentuh jasadnya.

Kesadaran Sastra Kita

Cara berfikir kita yang terlalu materialisme, membuat kita gagal untuk melihat betapa sastra sangat ruhani. Ilmu dan cara kita ber-metodologi yang sangat mendewakan empirisme. Saya bukan ingin mengatakan bahwa empiris itu jelek, pada konteks tertentu itu menjadi keharusan, tapi tidak pada konteks yang lain. 

Sastra bukan hal yang empiris, tapi ia adalah sesuatu yang menggambarkan dan sesuatu yang sebaiknya terjadi dalam tataran empiris. Maka, ia tidak bisa dilihat oleh kacamata empirisme.

Misalnya begini, ada seorang guru mengajarkan muridnya tentang puisi dan cara penulisanya. Guru ini hanya menjelaskan teknik penulisan dan tentang arti dan contoh majas-majas yang terkandung didalamnya. Tetapi guru itu lupa mengajarkan pengalaman dan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi. 

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertahta

Puisi diatas tidak mungkin lahir dari ruang hampa pengalaman dan pergolakan nilai-nilai. Ia adalah puisi yang lahir dari rahim nilai kehidupan dan penghayatan atas kematian. Puisi diatas ditulis oleh penyair paling berpengaruh Indonesia, Chairil Anwar.

Nilai-nilai dan pengalaman hidup seperti itu yang tidak yang tidak diajarkan kepada murid. Yang penting tulisannya “seperti” puisi, di-indah-indah-kan. Yang penting tulisan itu “tampak” seperti puisi. Sama sekali tidak punya ruh. 

Atmosfer materialisme, yang penting “tampak” ini sangat melekat dan mempengaruhi cara berfikir kita yang sekarang. Karena penduduk Indonesia yang paling banyak adalah dari generasi milenial, maka yang paling banyak menganut materialisme ini tentu saja adalah generasi milenial. 

Generasi yang memenuhi dan terlibat aktif dalam ekspresi kebudayaan kita sekarang. Generasi milenial adalah sekelompok manusia yang lahir diatas tahun 1980-an hingga 1997. Generasi milenial ini juga kelompok yang sudah menikmati keajaiban internet.

Sastra ‘Angkatan’ Milenial

Dalam sejarah sastra Indonesia, kita mengenal adanya angkatan. Angkatan sastra adalah kumpulan penulis yang memiliki etos, visi, dan ciri khas karya yang sama pada zamannya. Ciri khas angkatan yang terkini atau mutakhir adalah sastra yang ditulis pada media internet. 

Banyak karya sastra pada angkatan ini tidak dipublikasikan berupa buku, tetapi tersebar di dunia internet. Berupa blog pribadi, website, atau akun media sosial. Sastra menjadi berada dimana saja, ketika seorang atau semua orang berinternet ria.

Generasi milenial yang mayoritas saat ini sudah memiliki akun media sosial, sangat gandrung dengan dunia tulis-menulis. Sebut saja istilah yang populer saat ini, yakni “update status”. Dari mulai menulis curhatan pribadi yang ‘lebay’, sampai menulis karya yang serius. 

Namun, apakah dengan maraknya dunia tulis menulis ini dengan sendirinya sastra mendapat tempat dihati generasi milenial? Menurut saya ada dua opsi yang mengantarkan pada jawaban tentang hal ini. 

Pertama, jika sastra diartikan sebagai sebuah karya tulis yang indah dan mempunyai makna, tentu sudah sebagian dari ‘status’ itu layak disebut karya sastra. Sebagai contoh tulisan-tulisan pada akun media sosial facebook Tere Liye. Sebagai penulis yang punya banyak novel yang sudah dibukukan itu, juga penggiat medsos.

Kedua, jika sastra diartikan sebagai karya tulis yang hanya sekadar tulisan, tanpa didasari keindahan dan makna, misalnya tulisan curhatan anak SMA yang baru putus cinta, tulisan seorang artis A yang isinya membicarakan keburukan artis B, tulisan seorang (mendadak) reporter tentang suatu peristiwa yang didalam tulisannya malah diubah faktanya atau hoax, sastra ‘sangat’ mendapat tempat.

Namun kita sudah sepakat, bahwa sastra adalah karya tulis yang mempunyai keindahan dan makna bagi kehidupan. Itu berarti opsi kedua ini keliru.

Hilang Sastra Dari Tulisan

Apakah tulisan seorang pelajar galau itu mempunyai makna bagi kehidupan atau hanya bentuk kekesalan pribadinya? Apakah tulisan artis yang menggosip itu punya keindahan? Apakah gosip itu indah? Apakah seorang yang menyebarkan berita bohong melalui tulisan itu mempunyai makna dan keindahan? 

Maka, hilanglah sastra dari tulisan. Jika saja sastra berada di dalam tulisan dan menjadi kesadaran para pelaku media sosial, mungkin pertentangan dan perdebatan di media sosial tidak separah ini. Sastra tidak mendapat tempat di hati generasi milenial. Karena cara berfikir kita hari ini sangat materialisme.