“Kehilangan, dan kepergian adalah kehancuran yang tergilas dalam “tiarap kehidupan”. Baik anak, harta, emas atau—apapun lainya.

Kita tidak bisa menolak itu! Tetapi kita harus siasat, dan rela menerima-Nya.

Walau itu meski apik, berat, amatir, dan pahit rasanya. Tetapi kita harus merelakan itu untuk "Pergi", dan menerima-Nya untuk "hilang".

Karena tidak ada untungnya itu. Ketika kita meraung-raung-Nya kembali. 

Tetapi apa boleh buat ketika jiwa, batin, jasad dan fisik kita merasakan begini; 

sungguh Lemah tidak 'berdaya' jiwa—ini. Sungguh hancur tidak 'berkeping' batin—ini. Sungguh lebur tidak 'berbuncah' jasad—ini. Dan sungguh sulut tidak 'berapi' fisik—ini”.

Artinya itu, ketika sesuatu yang kita punyai itu hilang, dan pergi.

Lebih baik; ikhlaskan akan kehilangan-Nya, dan relakan akan kepergian-Nya. Sebab tidak ada yang bisa melebihi bahagia, dan keistimewaan di dunia ini. Melainkan cinta kepada "kesabaran" dan cinta kepada "keikhlasan".

Di dunia hanya ada dua yang ber—Ulu dengan itu. Pertama sesuatu yang hilang. Jangan diungkit-ungkit. Dan kedua, sesuatu yang pergi. Jangan digebu-gebu.

Karena, kalau kita mengikis itu untuk kembali, dan yang—telah usang. Maka tidak akan usai. Kehilangan, kepergian, kehancuran, kemusnahan, dan kematian. Ataupun namanya. Semua itu hanya "sabat, sulut dan api didih malang musibah".

Kita sebagai makhluk yang 'Ulur'. Mudah pergi, dan sulit untuk kembali. Tentu sikap bengis, zholim, dan bandir. Itu perlu kita siasati, tisik, dan ilir bersama. Agar supaya spriral kebodohan, kesombongan, dan kefakuman diri kita bisa terbebas dari jeratan keserakahan, kemunafikan dan belenggu kesesatan.

Mengapa kita begitu tukak pada kenyataan?

Sementara dunia ini masih suntuk dan terjerembap pada kekuasaan, kenikmatan, kelaliman dan kebahagiaan?

Coba kita tengok! 

Diberikan anak adalah kebahagiaan rumah tangga. Diberikan harta adalah perihal masa depan. Dan diberikan kedudukan, pangkat dan jabatan adalah kenikmatan sementara.

Tetapi, jika diberikan amanat. Ooeh....!Sumpah jabatan, dan sumpah kekuasaan, adalah emas kebahagian, menurut kita!

Memilih jalan sesat itu adalah kemurnian pikiran dan kebahagiaan. Daripada memilih jalan benar itu adalah kesesatan dan kebahagiaan sesaat.—Homo Sapiens

““Untuk itu.....

Sesuatu yang benar-benar ingin pergi, hilang, dan terhapus dari dunia dan jerami kehidupan ini.

Yang dalam keadaan hancur, lebur, sulut, dan musnah. Relakan saja! Itu bukan milik kita. Bukan hak kita. Bukan kebahagiaan kita. Melainkan itu kenikmatan dunia, kefanaan dan kehampaan.

Dan sesuatu yang benar-benar terjadi, —ataupun baru ada—pula.

Itu tidak akan mustahil 'hilang'. Melainkan akan tetap 'kembali'. Sebab kebahagiaan dan kenyataan yang abadi, hakiki adalah—bukan harta, bukan emas, ataupun bukan berlian. Melainkan "cinta atas kerelaan, dan cinta atas keiklaskan dan penerimaan".

Tidak ada yang lebih gilas, dan tukak di dunia kehampaan, dan kehidupan ini. Selain daripada 'kenikmatan cinta'. Orang hidup bisa merenggutkan nyawa. Itu dikarenakan cinta. Orang senyum beranjak jadi murung itu juga karena 'cinta'.  Semuanya itu bernafas, dan berkutak pada kekubahan cinta.

Cinta

"Sejauh apapun ia pergi. Tak lama kemudian ia pasti akan pulang. Dan sejauh apa pun engkau menanti, yakin, dan percayalah: ia akan pasti mendekatimu".
—Prestisius Hati

Mesti cinta itu sifatnya gigil dan memberatkan. Namun kamu harus gigih dan kerap kali untuk mudah mendapatkan-Nya. Impianmu itu harus diatas langit. Imajinasimu harus dibawah bumi.

"Bila engkau jatuh. Engkau tidak akan menjadi angin. Tetapi engkau akan menjadi hujan".

Dimana dunia, dan hujan akan berkata: engkau adalah sahabat bumi.

Begitulah kreasi Tuhan 'cara bersuntek'. Meskipun langit memisahkan jauh membentang. Namun kerap bumi tetap menyatukan langit kembali.

Demikian pula dengan cinta, hati dan perasaan 'saat berkamuflase tinggi'. Sejauh mil apapun ia pergi,— hilang. Bila hati, berkehendak untuk pulang. Maka perasaan itu mengijinkan kembali.

Bagi saya: Tidak ada yang mustahil dalam dunia fiksi dan imajinasi.

Semuanya itu berlulur pada ke-buana-an kehendak, keputusan, ketentuan dan keyakinan masing-masing. Yang artinya, jika hati itu berkata untuk pulang. Apa ia akan memilih pergi. Tidak!

Sebab cinta dan perasaan akan hilang. Bila cerita, kisah telah usai.

Dalam dunia fiksi, hati itu difungsikan untuk mengatifkan imajinasi. Bukan memetakan perasaan. Sebab melalui cinta, dan perasaan. Hati itu bebas kita "memilih". Bukan mengikat. Asalkan kita yakin. Go ahead!

Tetapi sekuat apa pun ia pergi. Bila hati mengijinkan ia kembali. Maka ia akan pulang.

Namun kita harus yakin, dan percaya bahwa langit tidak jauh dari bumi. Meskipun terbelah, namun tetap bersatu. Begitupun dengan cinta. Meskipun jiwa, tubuh, dan jasad itu berpisah. Namun ruh tetap menyatukan.