Aku Berpasrah Kepada-Mu

Jika boleh ku menangis di pangkuan-Mu, izinkan air mataku mengalir tanpa henti di dalam sujudku.

Namun, jika tidak kau izinkan ku menangis. Buatlah diriku kuat melewatinya dengan berbagai kalimat "Kun Fayakun".

Tuhan bolehkah aku meminta lebih dari yang kau beri, atau memang belum waktunya kau kasih padaku ?

Mau sampe kapan aku menunggu ? Aku tak memiliki arah, tolong arahkan diriku sebelum lika liku menghampiri.

Pikiranku kosong, hanya ada kicauan burung yang tiada henti bersorak ke sana kemari.

suasana mendung, awan menggebu hitam, angin berhembus, semua seolah kacau bagai hatiku yang tak bisa menyatu.

Mengapa diriku seperti itu ?

tak bisa mengungkap keluh kesah, semua hanya tertulis hingga terkisis dibalut kertas. Seakan tak ada kisah yang bisa ku ceritakan.

Adakah yang sama sepertiku ? Jika ada, coba komen, agar kita bisa saling menguatkan.

aku tau bukan hal mudah, tapi aku juga gak mau nyerah, di saat waktu telah berhembus seperti ini. Berjalan tanpa henti, dikit-dikit udah di ujung hari saja. Mengalir tanpa tempo, rasanya ingin ku berbalik di arah tembok.

Aku menyerah akan diriku, tapi ingatan akan impian membuatku lelah memikirkan, akan lanjut atau sekedar cukup ?

yang hanya bisa ku tuangkan dalam tulisan ini, bukan keluh kesah namun hanya sedikit problem diri yang siapa tau sehati, bisa saling memberi solusi. 

Namun, bagaimana ku temukan. Jika bercerita saja masih sungkan_-

Bisakah kau mengerti, namun aku tak berharap lebih darimu. Aku hanya butuh di dengar, diberi pemahaman maupun arahan untuk bisa melewati yang seharusnya ada di garis finish saat ini.

Pikirku saat ini, aku yang lambat atau memang tak bergerak ? Rasanya jauh dari gapaian.

Tuhan...

Apa yang sedang kau perbuat, Aku merasa jauh dari jangkauan. Apa karna diriku yang suka menyendiri, kau buat diriku kesana kemari seorang diri.

Salahkah langkahku ini ?

Namun, dunia pertemanan juga begitu rumit. Dekat namun tak seakrab kata. Hanya saling beriringan di kala perjalanan.

Yang aku anggap akrab di dunia circle ternyata begitu rumit kisah yang ada di dalamnya. Harus bagaimana kehidupan yang ku lalui ini ?

Ma'af, Tuhan...

Aku terlalu banyak keluh kesah, sampai lupa bersyukur atas kesempatan hari yang telah kau beri tanpa ada peluang, bagi diriku merenung kisah.

menyebut nama-Mu, di sela kesedihanku. Membuat diriku tak bisa mengungkap apa yang terjadi saat ini.

Andai kata bisa ku ucap, berbagai keluh kesah ingin ku curahkan di sepertiga malam. Namun, bagaimana bisa, jika bangun saja masih susah. Meski alarm berbunyi kesana kemari, seolah suara itu lenyap dalam mimpi.

Tuhan...

Beri aku kesempatan tuk menangis di sepertiga malam-Mu, merintih segala problem. Meski aku tau, Kau Maha Mendengar di setiap detik suaraku. Namun, aku perlu ruang sunyi tuk menangis.

Tolong...

Izinkan ku melawan tidurku tuk meluangkan waktu bersama-Mu. Izinkan ku mendengar lantunan ayat suci-Mu dari suara kecilku, mendengar bisikan Malaikat seraya memuji kebingungan-Mu.

Izinkan ku menikmati kesedihan dalam larutnya malam, yang buatku tenang setelah ungkapan keluh kesan tersampaikan pada-Mu.

Berikan aku...

Tekad untuk pencarian ketenangan jasmani maupun rohani, kepada-Mu Ya Rabb. Sang Penguasa Langit, berikan aku kesempatan untuk bercerita, dengarkan suaraku di sepertiga malam, izinkanku Bangkit dari kelenyepan kasur yang tak bisa bangun.

Tuhan...

Bantulah aku dalam melawan godaan nikmat, cobaan hidup. Berilah ketentraman hati dalam jiwa sunyiku. Kehadiran Dirimu dalam jiwaku yang menanti, berharap ada keajaiban seketika tak kala tasbih seiring berucap dari mulut dustaku. Berikan ampunan atas kekhilafan tindakan yang tanpa tersadar ini.

Jangan biarkan ku bergantung pada satu titik.

Fokus boleh, namun mencadangkan yg lain juga keharusan. Karena kita gk tau mana yg berhasil dilalui, apakah di titik kefokusan atau titik ketidaksengajaan ? Bergantung buatku lupa ide baru. Seakan tak ada inovasi yang mengkombinasi pikiranku dalam menemukan jalan keluar.

Terkadang aku bingung dengan kehidupan, begitu banyak uji coba. Mungkin aku yang banyak keluh kesah, seakan tak ada yang terselesaikan. 

Lalu, bagaimana diriku harus mengatasinya Tuhan ?

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”…. (QS. Al-Baqarah: 286)

seakan kalimat tersebut memberikan tamparan bagiku, bahwasanya Tuhan tidak akan memberikan diluar kesanggupan. Tuhan mengapa keluh kesah sering terucap dari kalimat mulutku ?

Adakah cara agar aku tak sering mengeluh, Tuhan ?

buat kalian temen-temen qureta adakah tips-tips untuk mengatasinya ? Bisakah kita saling berdiskusi agar diriku tak insecure, keluh kesah dan bisa mengembangkan diri. Yuk ramaikan komentar di bawah ini.