Kalau saya ditanya, apa sih hikmah yang kamu dapat dari kuliah S1 selama sembilan tahun? Jujur ga banyak. Apa sih bagusnya kuliah segitu lama? Waktu? Jelas rugi banget. Biaya? Pasti, karena ada beberapa mata kuliah yang tidak lulus dan harus diulang. Beban mental? Jangan ditanya. Males banget kan ketika sekelas dengan adik-adik lucu yang satu, dua, dan tiga tahun di bawah kita. 

Saya masuk kuliah tahun 1989 dan lulus tahun 1998, bukan karena memilih tahun cantik untuk menandai masuk dan keluar kuliah loh ya, tapi memang suratan nasibnya begitu. Saya ingat ketika membaca pengumuman penerimaan mahasiswa baru fakultas ekonomi akuntansi. Para siswa yang lolos di fakultas tersebut bersorak gembira dan mendesah lega, saya biasa saja malah rada kecewa. Luput sudah kesempatan saya untuk kuliah jurnalistik. Rencananya bila saya gagal diterima di universitas ini, saya akan melapor ke orang tua bahwa saya memang tidak mampu masuk fakultas ekonomi dan akan mendaftar di universitas lain dengan jurusan jurnalistik.

Dengan agak sedih dan terpaksa saya menjalani kuliah di fakultas ekonomi. Beban berat yang saya rasakan di awal perkuliahan itu adalah saya tidak punya teman dekat. Salah saya karena masih belum bisa move on dari teman-teman SMA dan tidak mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru, yaitu teman-teman dari segala penjuru Indonesia. 

Menjalani kuliah dengan ogah-ogahan membuat saya tertinggal oleh teman-teman angkatan saya. Hampir di setiap semester selalu ada mata kuliah saya yang tidak lulus. Karena hampir setiap semester mengulang satu dua mata kuliah, saya jadi memiliki banyak teman. Teman-teman dari teman seangkatan dari kelas lain yang sama-sama tidak lulus atau adik-adik kelas yang mengambil mata kuliah baru. Bayangkan ketika saya mengulang mata kuliah cost accounting sebanyak delapan kali, berapa banyak teman-teman saya dari berbagai angkatan! 

Di semester delapan, sedang jenuh-jenuhnya kuliah, seorang teman yang sudah lebih dulu bekerja menawarkan saya pekerjaan di kantor tempatnya bekerja. Saya menyambut gembira pekerjaan tersebut, selain karena letak kantornya yang bersebelahan dengan kampus, saya punya pekerjaan lain selain kuliah haha! Saya mulai mengatur jadwal kuliah dengan mengambil sedikit SKS, dengan jadwal sore sampai malam hari. 

Mula-mula bekerja bisa disambi kuliah dengan nyaman karena letak kantor yang hanya sepuluh menit berjalan kaki. Baru satu semester berlalu, saya menyambar tawaran pekerjaan yang lebih menantang dengan gaji yang lebih tinggi. Akhirnya pindahlah saya ke kantor baru yang jaraknya cukup jauh dari kampus. 

Jalanan yang sangat macet, dan ini sangat sering terjadi, menyebabkan saya kerap terlambat masuk kuliah. Lelah berlari hampir setiap hari mengejar jam kuliah yang mepet dengan jadwal pulang kantor, akhirnya saya memutuskan cuti kuliah dua semester dan fokus bekerja. 

Satu tahun bekerja saya kemudian memutuskan kembali kuliah menyelesaikan sisa-sisa kredit semester saya. Ternyata duduk di kelas mata kuliah mengulang itu benar-benar menyiksa. Mata kuliah yang diulang tidak membuat saya antusias belajar malah membuat bosan, karena memang mata kuliah tersebut diajarkan dengan cara yang sama tidak menariknya dengan semester sebelumnya. Walau pengajarnya berbeda tetapi gaya mengajarnya tetap serupa.

Kembali lagi saya mengajukan cuti kuliah dua semester. Kali ini saya bekerja di perusahaan lain yang lebih besar, di dekat kampus, dengan gaji yang lebih baik. Setelah cuti saya malah rajin ke kampus untuk makan siang atau jajan gorengan. Sore sepulang kerja saya mampir lagi untuk sekedar nongkrong di base camp pencinta alam atau melihat anak-anak teknik bekerja di workshop. Sesekali ngobrol dengan teman-teman sanggar karawitan, main voli dengan mahasiswa-mahasiswa lintas angkatan dan lintas fakultas, atau sekedar nonton seniman-seniman kagetan gitaran. 

Ketika tidak punya beban mata kuliah, orang tua juga menaruh kepercayaan, dan tidak pernah mendesak-desak, saat itulah ide cemerlang saya muncul. Saya merancang strategi supaya tidak kehabisan masa studi. Saya menyiapkan bahan skripsi yang sedianya akan saya ajukan ketika aktif kuliah lagi.

Masuk kuliah lagi saya meneruskan menyelesaikan beberapa mata kuliah sambil mengajukan skripsi. Disinilah nasib baik saya berperan. Saya mendapatkan pembimbing skripsi yang mostly wanted oleh seluruh mahasiswa, Ibu dosen yang terkenal sangat supportif dan tidak rewel. Materi skripsi yang sudah saya siapkan diterima tanpa banyak koreksi. Saya berhasil lulus tepat waktu. Dari beberapa mahasiswa angkatan saya yang kehabisan masa studi, saya adalah satu-satunya yang berhasil lulus.

Jadi kembali ke pertanyaan di atas, kuliah S1 selama sembilan tahun hikmahnya apa sih? Pasti ada. Orang tua yang tidak membebani saya dengan harapan-harapan mereka yang tercetus dengan pertanyaan-pertanyaan kapan lulus, membuat saya belajar bagaimana cara memperlakukan anak-anak saya kelak. Berikan mereka kepercayaan dan biarkan mereka mengambil tanggung jawab diri mereka sendiri. Tidak diterima di jurusan tertentu, tidak lulus mata kuliah, tidak diterima bekerja di perusahaan yang diinginkan, dunia tidak kiamat. Masih sangat banyak jalan untuk berhasil dan bahagia. 

Berkali-kali gagal di beberapa mata kuliah dan nyaris putus asa juga tidak lantas membuat saya menyalahgunakan doa. Sudah banyak kali saya melihat teman-teman yang menyalakan lilin, berdoa, bahkan bernovena menjelang ujian semester. Tidak salah, tapi saya ogah. Karena saya tau, mereka dan saya sama. Sama-sama tidak mempersiapkan diri dengan baik. Tuhan kok digoda.

Sembilan tahun menjalani masa kuliah yang tidak mulus, saya melihat bahwa keberuntungan memegang peranan yang sangat penting dalam hidup saya. Terlalu banyak bila diceritakan semuanya. Salah satunya adalah berkantor di sekitar gedung kuliah. Bolak balik ke kampus, walau tidak untuk belajar, sangat memberi aura positif bagi diri saya. Bara semangat saya untuk tetap kembali ke bangku kuliah tetap menyala karenanya. Mendapat pembimbing skripsi yang sangat diincar mahasiswa veteran fakir masa studi, itu adalah golden ticket saya yang lain. 

Dari bejibun keberuntungan tersebut, saya tidak pernah memasukkan lamaran kerja! Pekerjaan selalu datang pada saya lewat tawaran teman-teman. Sembilan tahun gentayangan di kampus membuat saya memiliki teman yang sangat banyak, dari segala fakultas dan segala angkatan!