Guru
2 tahun lalu · 873 view · 5 menit baca · Politik google.jpg
Muhammad Syafi'i

Hikmah di Balik “Doa Setan”

Pada saat sidang Paripurna MPR di Senayan sehari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, ada kebiasaan yang awalnya biasa-biasa saja akan tetapi berubah menjadi hal yang tidak biasa. Kejadian itu bermula ketika Presiden Jokowi selesai menyampaikan pidato kenegaraan, Ketua DPR RI Ade Komarudin mempersilakan salah satu anggota DPR RI yaitu Muhammad Syafi’i untuk memimpin doa sebagai penutup sidang paripurna pada hari itu.  

Muhammad Syafi’i dengan penuh tanggungjawab langsung melangkah menuju mimbar terhormat dengan terlebih dahulu memberi penghormatan kepada pimpinan sidang. Pada saat itu tidak ada tanda-tanda keanehan yang akan terjadi, bahkan seluruh peserta sidang dan tamu undangan yang hadir mulai memposisikan diri sebagaimana lazimnya untuk khusyuk ketika akan memulai berdoa. Setelah tiba di mimbar terhormat tersebut, politikus Fraksi Gerindra itu pun langsung mulai membacakan doa sebagiamana mestinya.

Pada saat dipercayakan memimpin doa penutup dalam sidang paripurna MPR tersebut, ternyata Muhammad Syafi’i mengeluarkan kalimat-kalimat yang dianggap sebagian orang tidak lazim sebagaimana layaknya doa pada umumnya, diantaranya kalimat yang berbunyi sebagai berikut:

“Ya Allah, jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat”

Ketika sampai pada kalimat di atas, entah disengaja atau tidak kameramen dengan lihainya langsung mengarahkan sorotan ke arah Presiden dan Wakil Presiden yang saat itu terlihat sedang khusyuk menadahkan kedua tangannya untuk mengaminkan doa. Sehingga menjadikan persepsi publik semakin sempurna bahwa doa yang dilantunkan tersebut benar-benar menjurus pada kepemimpinan Jokowi dan Jusuf Kalla.

Tidak hanya sampai di situ dengan intonasi meratap yang semakin mantap,  kata demi kata terus di ucapkan oleh Muhammad Syafi’i dan ternyata membuat sebagian dari anggota DPR RI enggan untuk mengamini dan tampak ekspresi berubah menjadi seperti tidak biasanya, sedangkan ada yang tetap mengamini dengan khusyuk sekalipun kita tidak tahu ekspresi hati mereka yang sesungguhnya.

Bahkan anehnya setelah selesai do’a dilantunkan, terdengar suara gemuruh tepuk tangan di dalam gedung tersebut seolah-olah mengisyaratkan sebagai bentuk apreseasi atas apa yang terjadi di hadapan forum tershormat tersebut.

Nah, ternyata kejadian tidak biasanya di senayan tersebut belum selesai, bahkan turut menjadi bahan konsumsi publik. Ada pihak yang merasa tersinggung dengan apa yang di ucapkan oleh anggota DPR RI yang juga pernah menjabat sebagai anggota Komisi Perundang-undangan  Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2006-2011 dan ada pihak yang memuji sekaligus memberikan apreseasi atas keberanian Politikus Gerindra tersebut dan menganggap apa yang diucapkannya adalah hal yang biasa-biasa saja.

Bahkan ada pihak yang menurut saya sangat ekstrem dengan menyebut Politikus yang juga dikenal sebagai Pendakwah tersebut sebagai (maaf) “Setan”. Akibatnya publik pun semakin “riuh”, jika meminjam istilah yang disebutkan oleh salah seorang Guru Besar Universitas Indonesia yang juga merupakan founder Rumah Perbubahan Bapak Rhenald Kasali, bahwa kita saat ini sedang berada pada zaman generasi “sumbu kompor” yang apabila terpercik sedikit saja api dengan mudahnya akan terbakar. Inilah realita yang sedang terjadi.

Hal ini dapat dilihat dengan gencarnya para pengguna Media Sosial saling beradu argumen untuk terus menghujat, dan sebagian membela Anggota DPR tersebut. Lucunya komentar-komentar yang disampaikan telah menganalogikan bahwa demokrasi seolah-olah hanya sebagai panggung untuk lelucon belaka yang menyediakan ruang bagi publik untuk mengerahkan seluruh uneg-unegnya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Sampai di sini, saya ingin mengajak pada kita semua untuk sedikit berfikir jernih dengan tidak berpihak pada mereka yang setuju dan tidak setuju dengan apa yang telah terjadi. Bukan berarti ingin memberikan doktrin untuk apatis terhadap isu yang sedang berkembang, akan tetapi mengajak pada kita semua untuk sedikit menarik diri, ketika harus berdebat terkait hal-hal yang tidak bermanfaat. Sederhananya, kita justru harus berani berfikir lebih rasional atas isu-isu yang sedang berkembang.

Menurut hamat saya, sekalipun ada pihak yang menyebutkan bahwa Muhammad Syafi’i itu dengan istilah “Setan”, yang berarti doa yang dilantunkan adalah (sekali lagi maaaf) adalah “doa setan”, ternyata terdapat hikmah besar yang kiranya dapat kita ambil pelajarannya.

Pertama, dari kejadian di gedung wakil rakyat tersebut, sebenarnya telah mengisyaratkan sekaligus memberikan getaran warning kepada mereka yang notabeninya sebagai publik figur untuk senantiasa berhati-hati ketika ingin berucap di muka umum. Terlebih mereka yang memiliki massa yang tergolong fanatik dan memiliki loyalitas tinggi.

Ucapan terlebih doktrin yang salah dari seseorang yang memiliki ribuan bahkan jutaan pengikut sebagaimana dimaskud, sangat berpeluang akan menjadi gejolak yang sangat berbahaya terhadap kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang multikultural ini.

Sekalipun yang mereka sampaikan adalah baik, jika tidak dikemas secara apik justru sebaliknya berpotensi menimbulkan reaksi negatif berupa kecaman sampai pada tindakan anarkis yang sangat tidak kita harapkan. Seorang publik figur harus mampu menjadi sosok yang “meneduhkan” rakyat dengan sepenuh hati.  

Kedua, Kejadian ini sebenarnya adalah proses untuk mengingatkan kepada pemerintah agar tidak lupa atau mungkin berpura-pura lupa selaku rezim yang berkuasa, bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia ini hidup dan berkembang dalam iklim demokrasi.

Sekalipun mereka sebagai penguasa di republik ini, pemerintah tidak harus alergi bahkan anti dengan kritik dan saran dari rakyat. Kalimat yang disampaikan dalam rentetan do’a tersebut, sekalipun benar itu mengarah pada pemerintah, sesungguhnya adalah contoh kecil dari sekian harapan dan kritik masyarakat yang pantas untuk disuarakan. Hanya saja situasi dan kondisnya sedikit kurang tepat.

Ketiga, hikmah besar yang semestinya diambil dari kejadian tersebut adalah kita yang kapasitasnya sebagai penikmat isu atau gosip murahan, harus berani memposisikan diri sebagai orang yang bijak, untuk tidak mudah terpengaruh ikut serta berdebat kusir akan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Terlepas dengan semakin terbuka lebarnya ruang publik untuk berargumentasi, kita harus ingat bahwa tugas kita bukan untuk turut serta memperkeruh suasana apalagi memperdebatkan hal-hal yang tidak bermanfaat, akan tetapi kita dituntut untuk menjadi bagian dari pihak yang harus mampu meminimalisir perpecahan hanya karena hal-hal yang tidak bermanfaat.

Mengapa disebut tidak bermanfaat, karena kejadian ini samasekali tidak ada korelasinya dengan kebijakan yang berdampak pada rakyat, melainkan hanya sebatas “sandiwara” elit politik yang numpang bercanda di rumah rakyat.

Semoga dengan adanya “doa setan” yang terjadi di gedung wakil rakyat tersebut, benar-benar dapat menyadarkan semua pihak terlebih mereka yang kapasitasnya sebagai orang-orang yang selangkah lebih depan untuk senantiasa berhati-hati ketika hendak berucap di muka umum.

Pihak pemerintah tidak perlu kebakaran jenggot dengan adanya “doa setan” ini, karena apa yang dilantunkan pada saat itu mungkin tidak lebih hanya sebuah ungkapan rasa kekecewaan yang tidak terbendung, yang juga turut dirasakan oleh sebagian masyarakat di seluruh pelosok negeri ini. Hal ini terbukti karena sangat banyak pihak yang turut mendukung kejadian tersebut.

Anggap saja kata demi kata yang diucapkan itu, adalah sebuah puisi yang sedang di bacakan oleh seorang pujangga. Nikmati, hayati betapa indahnya perpaduan kata demi kata yang terpadu dalam syair. Jadikan ia sebagai pengingat ketika lupa, sahabat dalam kerja nyata agar rakyat tidak semakin sengsara.

Kita khawatir peristiwa ini akan tercatat sebagai proses perjalanan panjang sejarah bangsa ini, yang kelak mungkin akan menjadi bahan “cemoohan” anak cucu kita. Mereka tertawa bukan karena melihat lucunya ekspresi Muhammad Syafi’i ketika melantunkan doa, akan tetapi mereka tertawa karena ternyata aksi kerja nyata para pendahulu mereka hanya sebatas  angan-angan yang tidak sehabat “doa setan” yang mampu menggemparkan senayan.